- Minggu, 1 Februari 2026
Universitas Kehidupan Yang Sebenarnya: Mengenang Budaya Surau Minangkabau, Tempat Tidur Para Calon Pemimpin Besar
Universitas Kehidupan yang Sebenarnya: Mengenang Budaya Surau Minangkabau, Tempat Tidur Para Calon Pemimpin Besar
Oleh: Andika Putra Wardana
Di zaman modern ini, anak laki-laki biasanya punya kamar pribadi yang nyaman di rumah orang tuanya, lengkap dengan kasur empuk dan Wi-Fi.
Tapi, mundur ke beberapa dekade lalu di Ranah Minang, hal itu adalah sebuah aib. Dalam struktur adat Minangkabau yang Matrilineal, Rumah Gadang sejatinya adalah milik kaum perempuan (ibu dan saudara perempuan).
Anak laki-laki yang sudah akil baligh (menginjak remaja) dianggap "memalukan" jika masih tidur di bawah ketiak ibunya. Lantas, ke mana mereka pergi? Jawabannya adalah budaya surau Minangkabau.
Surau bagi mereka bukan sekadar tempat sholat lima waktu, melainkan rumah kedua, asrama, sekaligus sekolah kehidupan tempat mereka ditempa menjadi laki-laki sejati.
Hidup di Surau mengajarkan kemandirian yang keras sejak dini. Di sana tidak ada ibu yang menyiapkan sarapan atau mencucikan baju.
Para bujang (pemuda) ini tidur berjejer di atas tikar sederhana, belajar berbagi ruang, dan mengurus diri sendiri. Namun, keistimewaan Surau terletak pada kurikulum malam harinya yang padat.
Setelah sholat Isya, kegiatan tidak berhenti. Di sinilah transfer ilmu terjadi secara masif.
Mereka belajar mengaji Al-Qur'an untuk mengisi jiwa, lalu dilanjutkan dengan latihan Silek (silat) di halaman untuk mengisi raga, dan ditutup dengan diskusi adat (babarito) mendengarkan petuah dari para tetua atau garin (penjaga surau).
Suasana diskusi di Surau inilah yang menajamkan otak orang Minang. Mereka terbiasa berdebat, bertukar pikiran tentang agama, politik, hingga strategi dagang sampai larut malam.
Bisa dibilang, budaya surau Minangkabau adalah kawah candradimuka yang melahirkan intelektual-intelektual tajam.
Mereka diajarkan untuk tidak hanya saleh secara ritual, tapi juga cerdas secara sosial dan tangguh secara fisik. Sayangnya, tradisi emas ini mulai memudar tergerus zaman.
Surau kini kembali hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, sepi dari hiruk-pikuk diskusi anak muda yang tidur di sana.
Namun, sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa dari lantai kayu Surau yang dingin itulah pernah lahir para pendiri bangsa, sastrawan ulung, dan ulama besar yang mengguncang dunia.
Surau adalah bukti bahwa fasilitas mewah bukan syarat menjadi orang hebat, tapi tempaan mental dan lingkunganlah kuncinya.
Editor : melatisan
Tag :Universitas Kehidupan, Sebenarnya, Mengenang, Budaya Surau, Minangkabau, Tempat Tidur, Para Calon, Pemimpin Besar
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TAMBO MINANGKABAU: JEJAK ASAL-USUL, ADAT, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
SENI MENAMPAR TANPA MENYENTUH: BEDAH LOGIKA PANTUN MINANG
-
SATU KALI TEBAS HARUS PUTUS! MENCEKAMNYA RITUAL MANABANG BATANG PISANG DALAM SEJARAH TABUIK PARIAMAN
-
SALAH TULIS ATAU SENGAJA? MENGUAK MISTERI ANGKA "IIII" DI JAM GADANG YANG BIKIN BELANDA KETAR-KETIR
-
BUKAN SEKADAR DONGENG HILANG DI HUTAN: MENGUAK MISTERI TANDO JANIN DAN PADI KOSONG DALAM LEGENDA ORANG BUNIAN
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
MAHASISWA KKN UNAND 2026 GELAR PENYULUHAN DAN PRAKTIK PEMBUATAN UMMB SEBAGAI SUPLEMENT TERNAK RUMINANSIA DI NAGARI LABUH, KECAMATAN LIMA KAUM, TANAH DATAR
-
PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI BOKASHI RAMAH LINGKUNGAN DI NAGARI LABUH
-
PRESIDEN KENA OLAH, OLEH MIKO KAMAL
-
PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS WEB: JALAN KELUAR DARI STIGMA KESEHATAN REPRODUKSI DI PERGURUAN TINGGI