HOME VIRAL UNIK

  • Sabtu, 7 Februari 2026

Tambo Minangkabau: Jejak Asal-Usul, Adat, Dan Ingatan Kolektif Orang Minang

Tambo Minangkabau
Tambo Minangkabau

Tambo Minangkabau: Jejak Asal-Usul, Adat, dan Ingatan Kolektif Orang Minang

Oleh: Andika Putra Wardana


Tambo Minangkabau menjadi rujukan utama untuk memahami asal-usul dan perjalanan awal masyarakat Minangkabau, terutama pada masa ketika catatan sejarah tertulis belum dikenal luas.

Dalam tradisi Minangkabau, tambo dipahami sebagai hikayat adat yang memuat kisah nenek moyang, pembentukan permukiman, hingga lahirnya aturan adat dan budaya yang masih dijalankan hingga kini.

Karena tumbuh dari tradisi lisan, tambo tidak disusun sebagai sejarah kronologis modern, melainkan sebagai sejarah adat yang sarat makna simbolik dan nilai sosial.

Sejarah Minangkabau sendiri memang tidak mudah dilacak secara pasti, khususnya pada periode sebelum masuknya Islam. Cerita-cerita tentang asal-usul nenek moyang disampaikan secara turun-temurun melalui kaba yang dilagukan, lalu dibukukan dan dikenal sebagai Tambo Minangkabau.

Dalam proses pembukuan ini, muncul berbagai versi tambo karena adanya penafsiran penulis serta pengaruh situasi sosial pada masa penulisan. Kondisi inilah yang membuat tambo kerap diperdebatkan, bahkan dinilai lebih banyak mengandung mitos.

Meski begitu, bagi masyarakat Minangkabau, tambo tetap memiliki posisi penting sebagai sumber ingatan kolektif dan legitimasi adat.

Dari Gunung Marapi ke Galundi Nan Baselo

Dalam berbagai versi Tambo Minangkabau, asal-usul nenek moyang orang Minang kerap dikaitkan dengan kawasan Gunung Marapi. Mamangan adat menyebutkan bahwa nenek moyang Minangkabau berasal dari puncak gunung tersebut, sebelum kemudian turun seiring surutnya air dan meluasnya daratan.

Tambo juga menuturkan kisah perjalanan nenek moyang melalui jalur laut, hingga akhirnya menemukan daratan yang mula-mula tampak kecil di tengah lautan, sebelum berkembang menjadi wilayah pemukiman.

Salah satu lokasi penting dalam kisah ini adalah Galundi Nan Baselo, yang digambarkan sebagai taratak pertama tempat nenek moyang Minangkabau bermukim setelah turun dari Gunung Marapi. Dari kawasan inilah kehidupan mulai ditata, mulai dari tempat tinggal, pertanian, hingga aturan sosial.

Galundi Nan Baselo kemudian menjadi titik awal perkembangan permukiman yang kelak melahirkan dusun Batur, yang dalam tambo disebut sebagai tempat mula-mula adat Minangkabau diatur.

Lahirnya Sistem Adat Minangkabau

Tambo Minangkabau juga mencatat lahirnya sistem adat yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau. Dari kawasan awal permukiman tersebut, muncul tokoh-tokoh adat penting seperti Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang. Keduanya dikenal sebagai perumus dua sistem kelarasan besar dalam adat Minangkabau, yakni Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Hubungan antara kedua sistem ini membentuk tatanan sosial yang menekankan musyawarah, keseimbangan peran, serta kehidupan bermasyarakat yang relatif egaliter.
Struktur adat yang berkembang ini kemudian menyebar seiring pertambahan penduduk dan perluasan wilayah.

Dari taratak, masyarakat membentuk dusun, lalu koto, hingga akhirnya lahir nagari-nagari tua di Minangkabau. Dalam proses panjang inilah tambo berfungsi sebagai pedoman, sekaligus pengikat nilai yang menjaga kesinambungan adat dari generasi ke generasi.

Tambo dan Jejaknya dalam Situs Budaya

Keberadaan Tambo Minangkabau tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga tercermin dalam berbagai situs budaya yang tersebar di lereng Gunung Marapi, khususnya di kawasan Jorong Batur, Nagari Sungai Jambu.

Situs-situs seperti Galundi Nan Baselo, Sawah Gadang Satampang Baniah, Batu Sajamba Makan, hingga Batu Manitik menjadi penanda fisik dari kisah-kisah yang tertuang dalam tambo. Situs-situs ini menggambarkan bagaimana nenek moyang Minangkabau membangun kehidupan bersama, mengelola pertanian, dan menanamkan nilai kebersamaan yang kemudian berkembang menjadi tradisi adat.

Melalui situs-situs tersebut, tambo tidak lagi sekadar cerita, tetapi menjelma menjadi ingatan ruang dan lanskap budaya. Nilai-nilai seperti gotong royong, kebersamaan, dan raso pareso tercermin dalam praktik-praktik adat yang masih bertahan hingga kini, seperti tradisi makan bajamba dalam berbagai perhelatan adat.

Membaca Tambo Secara Kritis

Dalam konteks kajian sejarah modern, Tambo Minangkabau tidak bisa dipahami sepenuhnya sebagai catatan fakta, tetapi juga tidak layak disingkirkan sebagai dongeng belaka. Tambo adalah cara masyarakat Minangkabau merekam masa lalunya dengan bahasa adat dan simbol budaya.

Dengan membaca tambo secara kritis dan kontekstual, warisan ini tetap relevan sebagai sumber identitas dan pemahaman tentang jati diri Minangkabau.

Di tengah perubahan zaman, Tambo Minangkabau terus berfungsi sebagai pengingat asal-usul dan penopang nilai budaya. Ia tidak hanya menceritakan dari mana orang Minang berasal, tetapi juga menjelaskan bagaimana mereka menata kehidupan, menjaga adat, dan memaknai kebersamaan hingga hari ini.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Tambo Minangkabau

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com