HOME VIRAL UNIK

  • Sabtu, 7 Februari 2026

Seni Menampar Tanpa Menyentuh: Bedah Logika Pantun Minang

Pantun Minang
Pantun Minang

Seni Menampar Tanpa Menyentuh: Bedah Logika Pantun Minang

Oleh: Andika Putra Wardana


?Kalau bicara soal Pantun Minang, jangan bayangkan sekadar rima "masak air biar mateng" yang cuma buat lucu-lucuan.

Di Sumatera Barat, pantun adalah senjata. Ia adalah alat komunikasi tingkat tinggi yang dipakai untuk diplomasi, meminang gadis, hingga yang paling sadis, untuk menelanjangi karakter seseorang di depan umum tanpa harus berkata kasar.

?Salah satu contoh klasik yang paling sering dikutip oleh para tetua untuk menyindir perilaku "Gengsi Besar Tenaga Kurang" adalah pantun legendaris di bawah ini.

Mari kita bedah anatominya, karena pantun ini bukan sekadar kata-kata, tapi sebuah kritik sosial yang terstruktur rapi.

?Teks Pantun:

?Rami urang di Bukiktinggi,
Singgah mambali lado kutu.
Gaya bak cando Mantari Nagari,
Hutang di kadai indak manantu.

?Mengapa Pantun Ini Sangat Menyakitkan?
?Secara struktur sastra, pantun ini memenuhi syarat emas pantun Minang. Rima silang sempurna (a-b-a-b) dan hubungan logis yang kuat antara sampiran (pembuka) dengan isi.

?1. Sampiran

Coba perhatikan dua baris awal: "Rami urang di Bukiktinggi, singgah mambali lado kutu."
Penulis pantun memilih Bukittinggi bukan tanpa alasan.

Ini adalah kota pusat keramaian, pariwisata, dan gengsi di ranah Minang. Orang yang pergi ke sana biasanya diasosiasikan dengan belanja barang bagus atau jalan-jalan mewah.

Namun, ekspektasi itu langsung dipatahkan di baris kedua. Jauh-jauh ke pusat kota, berdesak-desakan, ternyata yang dibeli cuma Lado Kutu (cabai rawit).

Barang yang kecil, murah, dan remeh.
Di sini, pendengar sudah diberi bayangan (shadow meaning). Ada sesuatu yang tampak heboh di luar, tapi isinya kosong/murahan.

?2. Isi

Masuk ke baris isi, sindiran itu mendarat tepat di ulu hati.
"Gaya bak cando Mantari Nagari" (Gaya seperti pejabat/menteri negeri).

Ini menggambarkan seseorang yang penampilannya parlente, bicaranya tinggi, dan tingkah lakunya seolah-olah orang paling penting.

Tapi, baris terakhir adalah eksekusinya, "Hutang di kadai indak manantu" (Hutang di kedai tak menentu/tak terhitung).

?Di sinilah letak kejeniusannya. Pantun ini tidak bilang "Kamu miskin tapi sombong!". Itu terlalu kasar dan tidak beradat.

Pantun ini memilih mempertentangkan Status Sosial (Mantari) dengan Perilaku Ekonomi Buruk (Hutang di Warung).

?Hiduplah Sesuai Bayang-Bayang

Pantun ini mengajarkan filosofi Minang yang sangat fundamental. "Ukua bayang-bayang sapanjang badan" (Ukurlah bayangan sepanjang badan). Artinya, hiduplah sesuai kemampuan.

?Masyarakat Minang sebenarnya tidak benci orang miskin. Tapi masyarakat Minang sangat alergi pada kepalsuan.

Bergaya seperti pejabat padahal beli beras saja masih mengutang adalah aib besar. Jadi, jika ada teman atau kerabat yang mulai halu dengan gaya hidupnya, bacakan saja pantun ini.

Kalau dia tersinggung, berarti dia paham. Kalau dia diam saja, mungkin dia memang harus segera melunasi hutangnya.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Pantun Minang, bedah logika

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com