- Jumat, 6 Februari 2026
Satu Kali Tebas Harus Putus! Mencekamnya Ritual Manabang Batang Pisang Dalam Sejarah Tabuik Pariaman
Satu Kali Tebas Harus Putus! Mencekamnya Ritual Manabang Batang Pisang dalam Sejarah Tabuik Pariaman
Oleh: Andika Putra Wardana
Bagi wisatawan awam, Tabuik mungkin cuma soal menara tinggi yang diarak ke pantai. Tapi bagi Anak Nagari Pariaman, roh dari festival ini justru ada di ritual-ritual malam hari yang jarang disorot kamera TV.
Salah satu yang paling intens dan penuh amarah suci adalah Manabang Batang Pisang (Menebas Batang Pisang).
Bayangkan suasananya. Malam kelima bulan Muharram, suasana gelap, hanya diterangi obor atau lampu jalan samar-samar.
Ribuan orang berkumpul, tapi fokus utama ada pada seorang algojo laki-laki yang memegang pedang/parang panjang. Di hadapannya, berdiri sebatang pohon pisang yang sudah disiapkan.
Diiringi dentuman Gandang Tasa yang memekakkan telinga dan membakar semangat, sang algojo harus menebas batang pisang itu sampai putus. Syaratnya ngeri-ngeri sedap. Harus putus dalam sekali tebas.
Kenapa Harus Pohon Pisang?
Ini bukan demo kekuatan golok. Ini adalah Teater Simbolis. Batang pisang di sini bukan sekadar tanaman, tapi simbol dari leher musuh-musuh Imam Husein di Padang Karbala.
Setiap tebasan parang yang memutuskan batang pisang itu adalah representasi dari kemarahan dan keberanian Imam Husein (cucu Nabi Muhammad SAW) saat berperang melawan pasukan Raja Yazid yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Pohon pisang dipilih karena teksturnya yang lunak namun berserat, mirip dengan daging manusia, dan getahnya yang berwarna merah kecokelatan saat teroksidasi melambangkan darah yang tumpah di medan perang.
Perang Mental Pasa vs Subarang
Yang bikin ritual ini makin panas adalah rivalitas abadi dua kubu. Tabuik Pasa (Pasar) dan Tabuik Subarang (Seberang).
Keduanya melakukan ritual ini secara terpisah tapi di waktu yang sama.
Masing-masing kubu akan berusaha menunjukkan siapa yang paling gagah.
Siapa yang tebasannya paling rapi? Siapa yang Gandang Tasanya paling ribut? Siapa yang pendukungnya paling ramai? Adrenalin di malam itu benar-benar tinggi.
Suara hoyak (sorakan) penonton, bau keringat, dan dentum gendang menciptakan atmosfer perang yang nyata. Jadi, ritual Manabang Batang Pisang ini adalah fase pemanasan.
Ini adalah momen di mana warga Pariaman mulai menabung emosi sedih dan marah mereka, yang nantinya akan meledak total saat hari puncak pembuangan Tabuik ke laut. Tanpa ritual ini, Tabuik hanyalah pesta tanpa jiwa.
Editor : melatisan
Tag :Satu Kali Tebas, Harus Putus, Ritual, Manabang Batang Pisang, Sejarah, Tabuik Pariaman
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PERAN INDANG DALAM TRADISI PESISIR MINANGKABAU: DARI SURAU PARIAMAN HINGGA PANGGUNG BUDAYA
-
PERKEMBANGAN KABA SEBAGAI TRADISI LISAN MINANGKABAU
-
SEJARAH SILEK MINANGKABAU SEBAGAI WARISAN BUDAYA: DARI ILMU LAHIR HINGGA JALAN BATIN
-
ASAL-USUL RANDAI SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN MINANGKABAU: DARI SILAT, KABA, HINGGA TEATER RAKYAT NAGARI
-
SEJARAH TRADISI PASAMBAHAN DALAM UPACARA ADAT MINANGKABAU
-
FENOMENA BARU KAWASAN WISATA ALAHAN PANJANG YANG MERISAUKAN
-
LMJ BERBAGI: SEDERHANA, TETAPI PENUH MAKNA
-
SUJUD DI AMBANG LAILATUL QADAR: MENJEMPUT DAMAI DI TANAH HARAM BERSAMA SIANOK TOUR DALAM BAYANG KETEGANGAN DUNIA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO