HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 4 Desember 2025

Tabek Patah: Nagari Di Punggung Bukit Yang Terbelah Legenda Dan Ditempa Alam

Lanskap memukau Nagari Tabek Patah
Lanskap memukau Nagari Tabek Patah

Tabek Patah: Nagari di Punggung Bukit yang Terbelah Legenda dan Ditempa Alam

Oleh: Andika Putra Wardana


Di jalur yang menghubungkan Batusangkar dengan Ombilin, sekitar 20 kilometer dari pusat Kabupaten Tanah Datar, terbentang sebuah nagari yang menyimpan legenda, lanskap memukau, dan kearifan lokal yang masih terjaga. Nagari Tabek Patah yang hari ini dikenal pula sebagai desa wisata, berdiri di ketinggian sekitar 1.090 mdpl, membuatnya dianugerahi hawa dingin khas dataran tinggi dan pemandangan sawah bertingkat yang menyapu mata hingga ke kaki bukit.

Secara administratif, Tabek Patah berada dalam Kecamatan Salimpaung, dan terbagi ke dalam empat jorong, yaitu Jorong Data, Jorong Koto, Jorong Koto Alam, dan Jorong Guguak Gadang. Di wilayah seluas ±920 hektare ini, sebagian besar tanah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan, sementara sisanya berupa kawasan permukiman, hutan pinus, hutan hujan tropis, dan fasilitas umum lainnya. Hamparan agraris inilah yang menjadikan Tabek Patah sebagai salah satu nagari sentra produksi sayur-mayur di Tanah Datar.

Namun daya tarik nagari ini bukan hanya pertanian, tetapi juga asal-usul namanya yang sarat legenda. Menurut tambo dan sejarah lisan masyarakat setempat, dulu di kaki sebuah bukit bernama Puncak Pela terdapat sebuah kolam besar layaknya danau. Suatu ketika terjadi bencana alam, bukit itu runtuh dan menimpa kolam di bawahnya. Dampaknya, kolam tersebut terbelah menjadi dua, Talago Aia Pakih, telaga yang dikelilingi tumbuhan pakis, dan Talago Aia Tagonang, telaga yang penuh genangan air. Peristiwa alam ini diingat turun-temurun dan melahirkan nama nagari Tabek Patah, “kolam yang patah”, sebuah penanda bagaimana alam membentuk identitas ruang.

Kini dua telaga itu menjadi daya tarik utama Tabek Patah. Pengunjung datang untuk menikmati ketenangan airnya, memotret pantulan pegunungan, atau sekadar mencari udara segar yang sulit ditemukan di kota besar. Ditambah dengan keberadaan bukit-bukit pandang seperti Puncak Batubadindiang, yang menawarkan panorama 360 derajat, nagari ini pelan-pelan muncul sebagai salah satu destinasi wisata alam yang diperhitungkan di Salimpaung.

Sebagai desa wisata, Tabek Patah tumbuh dengan pendekatan yang lebih edukatif. Wisatawan diperkenalkan pada kehidupan agraris Minangkabau, mulai dari membajak sawah dengan kerbau, trekking melintasi galur pematang, hingga ikut mengamati sistem tanam dan panen yang menghidupi masyarakat nagari. Lanskap yang subur, ditambah potensi hutan tropis dan pinus, juga menjadi sarana pembelajaran alam yang digemari banyak pengunjung.

Dari sisi sejarah budaya, Tabek Patah berada dalam lingkaran nagari tua Minangkabau di lereng Gunung Marapi, wilayah yang memiliki hubungan erat dengan garis sejarah Pariangan, nagari yang dianggap sebagai salah satu titik awal peradaban Minangkabau. Jejak-jejak masa lalu inilah yang mendorong masyarakat dan pemerintah nagari merawat situs-situs lama, cerita rakyat, serta bentuk kearifan lokal sebagai bagian dari identitas kolektif.

Sementara dari aspek sosial, Tabek Patah hidup sebagai nagari yang menghargai musyawarah, adat, dan gotong royong. Keempat jorongnya memiliki karakter tersendiri, namun tetap terikat dalam kesatuan adat dan hubungan kekerabatan yang kuat. Di nagari ini, pertanian bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari ritme hidup yang diwarisi dari generasi sebelumnya.

Dengan penataan desa wisata yang semakin baik, mulai dari area parkir, foodcourt, mushala, aula, hingga spot foto yang tertata. Tabek Patah perlahan muncul sebagai destinasi yang memadukan alam, budaya, dan sejarah. Nagari ini mungkin kecil, tetapi ceritanya panjang. Ia lahir dari sebuah legenda tentang bukit runtuh, namun kini berdiri sebagai salah satu “beranda” indah Minangkabau di dataran tinggi Salimpaung.

Bagi siapa pun yang melintasi rute Batusangkar–Ombilin, Tabek Patah bukan sekadar persinggahan. Ia adalah undangan untuk berhenti sejenak, menghirup udara segar, dan memahami bagaimana alam dan adat membentuk sebuah nagari.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Nagari Tabek Patah, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Ki

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com