- Jumat, 5 Desember 2025
Nagari Tanjuang Alam: Nagari Adat Tua Yang Menyimpan Jejak Lareh, Suku, Dan Sejarah Panjang Minangkabau
Nagari Tanjuang Alam: Nagari Adat Tua yang Menyimpan Jejak Lareh, Suku, dan Sejarah Panjang Minangkabau
Oleh: Andika Putra Wardana
Nagari Tanjuang Alam, yang terletak di Kecamatan Tanjung Baru, Kabupaten Tanah Datar, bukan sekadar pemukiman di lereng bukit. Ia adalah salah satu nagari adat tertua di Minangkabau, sebuah wilayah yang sejak dahulu menjadi tempat lahirnya tradisi, persukuan, dan sistem pemerintahan adat yang membentuk wajah budaya Minang hingga hari ini.
Nama “Tanjuang Alam” sendiri berakar dari dua istilah lama yakni tanjung, yaitu tempat di ujung bukit yang oleh masyarakat disebut Ujuang Tanjuang, dan alam, tanda batas wilayah yang dipasang oleh ninik mamak terdahulu, dikenal sebagai celai-celai atau alam-alam. Tanda ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah dimiliki dan diatur oleh sebuah kelompok adat. Seiring waktu, kedua istilah itu melebur menjadi satu nama yang kita kenal sekarang sebagai Tanjuang Alam. Hingga kini, lokasi bersejarah tempat tanda itu dipasang masih ada, dikenal sebagai Gantiang Bawah.
Sebagai nagari tua, Tanjuang Alam sejak awal terdiri dari lima koto yaitu Koto Rantang, Koto Laweh, Koto Gadih, Koto Sibauak, dan Koto Sipopak. Lima koto ini kemudian berkembang menjadi dua belas jorong yang menjadi inti kehidupan masyarakat adat. Pada 1994, sesuai kebijakan pemerintah, nagari ini sempat dimekarkan menjadi tujuh desa administratif, namun identitas adatnya tetap terjaga melalui jorong-jorong lama dan persukuan yang terus hidup hingga kini.
Secara adat, Tanjuang Alam berada dalam wilayah hukum Tanjuang Nan Tigo, bersama Sungayang dan Barulak. Ketiganya menjadi salah satu pusat penting Lareh Bodi Caniago, sistem adat demokratis yang dirumuskan oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Prinsipnya yang terkenal “Nan mambasuik dari bumi, tuah sakato, cilako basilang” menjadi pedoman hidup masyarakat, keputusan diambil dari musyawarah, berdasarkan mufakat, dan harus sejalan dengan kemaslahatan bersama.
Persukuan di nagari ini juga menunjukkan kedalaman sejarahnya. Awalnya hanya lima suku seperti Dalimo, Caniago, Piliang, Kutianyia, dan Mandahiliang. Namun seiring berkembangnya anak kamanakan, lima suku itu kemudian bercabang menjadi enam belas, terbagi ke dalam dua kelarasan sembilan suku Koto Piliang dan tujuh suku Bodi Caniago. Bahkan beberapa suku besar seperti Piliang Laweh, Piliang Sani, Caniago, Singkuang, dan Mandahiliang terpecah lagi menjadi tiga bagian0 yakni ateh, tengah, dan bawah, sebuah bukti bahwa nagari ini padat secara genealogis maupun budaya.
Dalam lintasan sejarah pemerintahan adat, Tanjuang Alam telah dipimpin oleh banyak datuak dan wali nagari. Catatan masa kolonial menunjukkan adanya pemerintahan Lareh pada akhir abad ke-19, disusul daftar panjang wali nagari yang memimpin hingga era modern. Kepemimpinan adat dan pemerintahan formal berjalan berdampingan, menjaga kesinambungan antara tradisi dan perkembangan zaman.
Secara geografis, Tanjuang Alam terbentang seluas ±3.280 hektare, terdiri dari dua belas jorong yang berada di antara dataran tinggi dan perbukitan. Nagari ini berbatasan dengan Padang Tarok di utara, Tabek Patah di selatan, Barulak di timur, dan Koto Tinggi di barat. Alamnya subur, dipenuhi sawah, ladang, dan kawasan hijau yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.
Salah satu pesona alam paling menarik di nagari ini adalah kawasan Sawah Parik. Dari tepi jalan Baso, Piladang, pengunjung bisa melihat hamparan sawah bertingkat, kebun hijau, dan barisan bukit yang tampak seperti gelombang emas saat matahari pagi muncul. Warga setempat menyebut bahwa ketika cuaca cerah, lapisan kabut dan cahaya matahari menciptakan ilusi seperti danau keemasan di kejauhan, sebuah panorama yang membuat siapa pun berhenti sejenak untuk menikmati keindahannya.
Tanjuang Alam hari ini bukan hanya nagari beradat kuat, tetapi juga punya potensi wisata dan pertanian yang menjanjikan. Alamnya yang masih asri, sejarahnya yang panjang, dan struktur adatnya yang terjaga membuat nagari ini menjadi salah satu pusat kebudayaan Minangkabau yang layak dipelajari, dikunjungi, dan dirawat bersama.
Di setiap jorong, rumah gadang dan balai adat berdiri sebagai saksi perjalanan waktu. Di setiap keputusan musyawarah, nilai demokrasi lokal tetap dijaga. Dan pada setiap cerita tambo, Tanjuang Alam diposisikan sebagai salah satu nagari yang memberi warna penting dalam perjalanan peradaban Minangkabau.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Tanjuang Alam, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TAMBO MINANGKABAU: JEJAK ASAL-USUL, ADAT, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
SENI MENAMPAR TANPA MENYENTUH: BEDAH LOGIKA PANTUN MINANG
-
SATU KALI TEBAS HARUS PUTUS! MENCEKAMNYA RITUAL MANABANG BATANG PISANG DALAM SEJARAH TABUIK PARIAMAN
-
SALAH TULIS ATAU SENGAJA? MENGUAK MISTERI ANGKA "IIII" DI JAM GADANG YANG BIKIN BELANDA KETAR-KETIR
-
BUKAN SEKADAR DONGENG HILANG DI HUTAN: MENGUAK MISTERI TANDO JANIN DAN PADI KOSONG DALAM LEGENDA ORANG BUNIAN
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
MAHASISWA KKN UNAND 2026 GELAR PENYULUHAN DAN PRAKTIK PEMBUATAN UMMB SEBAGAI SUPLEMENT TERNAK RUMINANSIA DI NAGARI LABUH, KECAMATAN LIMA KAUM, TANAH DATAR
-
PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI BOKASHI RAMAH LINGKUNGAN DI NAGARI LABUH
-
PRESIDEN KENA OLAH, OLEH MIKO KAMAL
-
PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS WEB: JALAN KELUAR DARI STIGMA KESEHATAN REPRODUKSI DI PERGURUAN TINGGI