HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 8 Desember 2025

Nagari Pagaruyung Dan Jejak Kerajaan Minangkabau Di Tengah Desa Wisata Sejarah

Nagari Pagaruyung dan Jejak Kerajaan Minangkabau
Nagari Pagaruyung dan Jejak Kerajaan Minangkabau

Nagari Pagaruyung dan Jejak Kerajaan Minangkabau di Tengah Desa Wisata Sejarah

Oleh: Andika Putra Wardana


Nama Pagaruyung hampir selalu muncul ketika orang bicara tentang “pusat Minangkabau”. Di buku pelajaran, ia dikenang sebagai bekas pusat Kerajaan Pagaruyung yang di brosur wisata, tampil dengan gambar Istano Basa yang megah, di peta administrasi, ia tercatat sebagai salah satu nagari di Kabupaten Tanah Datar. Di tempat inilah, lapis-lapis sejarah Minangkabau bertemu dengan kehidupan nagari masa kini.

Secara administratif, Nagari Pagaruyung berada di Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Lokasinya sangat strategis, bertetangga langsung dengan Kota Batusangkar yang menjadi pusat pemerintahan kabupaten, dan sekaligus menjadi bagian penting dari kawasan “Luhak nan Tuo”, wilayah inti Minangkabau.

Meski sekarang berstatus nagari dengan pemerintahan wali nagari dan perangkatnya, Pagaruyung memikul beban sejarah yang jauh lebih panjang daripada umurnya sebagai entitas administratif modern.

Secara historis, nama Pagaruyung terkait erat dengan Kerajaan Minangkabau yang mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14, terutama pada masa Adityawarman. Sejumlah prasasti batu bertulis yang ditemukan di wilayah Tanah Datar, seperti prasasti Kuburajo dan prasasti Pagaruyung menjadi salah satu bukti arkeologis keberadaan pusat kekuasaan di kawasan ini.

Dalam tradisi lisan dan tambo, Pagaruyung kerap digambarkan sebagai tempat bersemayamnya raja dan sebagai simpul pertemuan sistem adat Minangkabau, konsep rajo tigo selingka (raja adat, raja alam, raja ibadat) dan lembaga Basa Ampek Balai. Walaupun banyak unsur tambo yang bersifat mitologis, gabungan antara temuan prasasti dan ingatan kolektif masyarakat membuat Pagaruyung dipandang sebagai salah satu jangkar sejarah Minangkabau.

Namun, Pagaruyung yang kita lihat hari ini bukan lagi ibu kota kerajaan dalam pengertian klasik, melainkan nagari yang berusaha mengelola warisan sejarah itu menjadi kekuatan sosial, budaya, dan pariwisata.

Ikon paling mudah dikenali dari Nagari Pagaruyung tentu saja adalah Istano Basa Pagaruyung. Bangunan megah bergaya rumah gadang beranjung banyak ini berdiri tidak jauh dari jalan utama, menjadi latar favorit foto wisatawan dan lokasi acara adat berskala besar. Istano Basa yang sekarang berdiri adalah rekonstruksi representatif, bukan istana asli zaman kerajaan. Istana versi modern mulai dibangun kembali pada 1970-an di lokasi dekat bekas pusat kerajaan, kemudian beberapa kali mengalami kebakaran, termasuk peristiwa 2007 dan sambaran petir pada 2010, sebelum dipugar dan difungsikan lagi sebagai museum dan objek wisata.

Di dalam kompleks istana, pengunjung bisa melihat koleksi pakaian adat, perhiasan, perlengkapan upacara, hingga replika tata ruang keluarga besar Minangkabau. Bagi rombongan pelajar, tempat ini sering dijadikan “ruang kelas terbuka” untuk memahami sistem kekerabatan matrilineal, posisi penghulu, peran mamak, serta susunan kamar yang mengikuti garis ibu.

Di luar istana, Pagaruyung juga dikenal sebagai salah satu desa wisata yang mulai aktif mengembangkan atraksi berbasis alam dan budaya. Di beberapa jorong, masyarakat mengelola paket wisata yang mengajak pengunjung menyusuri sungai, mencoba river tubing, sekaligus menikmati suasana kampung dengan latar persawahan dan perbukitan.

Sebagai nagari, kehidupan sehari-hari Pagaruyung tidak hanya diisi oleh wisatawan yang datang berfoto di istana. Mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan, sawah, ladang, serta kebun di kaki-kaki bukit. Di sela aktivitas bertani, adat istiadat tetap dijalankan melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan peran ninik mamak dalam mengatur urusan kaum, dari musyawarah tanah ulayat sampai tata cara baralek.

Kedekatannya dengan Batusangkar membuat Pagaruyung juga menjadi salah satu simpul mobilitas orang-orang dari nagari sekitar. Sekolah, kantor pemerintahan, pasar, dan fasilitas publik lain di kawasan ini ikut membentuk wajah Pagaruyung sebagai nagari yang tradisional sekaligus terkoneksi.

Dari sisi identitas, Pagaruyung punya posisi unik, di satu sisi, ia adalah nagari biasa dengan persoalan harian yang sama seperti nagari lain, di sisi lain, namanya terus dipanggil setiap kali orang bicara tentang “asal-usul Minangkabau”. Di sinilah tantangan sekaligus peluang muncul, bagaimana menjaga keseharian nagari tetap berjalan wajar, sambil mengelola beban simbolik sebagai “kampung halaman” imajiner orang Minang.

Bagi perantau atau wisatawan yang ingin memahami Minangkabau bukan hanya lewat rendang dan rumah makan Padang, Pagaruyung adalah salah satu pintu masuk yang paling mudah dijangkau. Di satu ruang, kita bisa melihat istana sebagai simbol kerajaan, rumah gadang sebagai simbol keluarga, sawah dan ladang sebagai simbol ekonomi nagari, serta aktivitas adat sebagai simbol tatanan sosial.

Nagari Pagaruyung mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita di buku, tapi sesuatu yang menempel pada nama tempat, cara orang menyusun rumah, hingga cara mereka menyambut tamu. Datang ke sini, kita tidak hanya berkunjung ke objek wisata, tetapi juga ke sebuah nagari yang terus berusaha menyeimbangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Nagari Pagaruyung, Kerajaan Minangkabau, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Sya

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com