HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 7 Desember 2025

Nagari Koto Laweh: Sejarah Panjang, Adat Yang Kokoh, Dan Sentra Pertanian Di Tanah Datar

Nagari Koto Laweh
Nagari Koto Laweh

Nagari Koto Laweh: Sejarah Panjang, Adat yang Kokoh, dan Sentra Pertanian di Tanah Datar

Oleh: Andika Putra Wardana

Nagari Koto Laweh adalah salah satu nagari tua di kawasan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, yang memiliki sejarah panjang, akar adat yang kuat, serta bentang alam pertanian yang subur. Nagari ini terbentuk melalui proses bertahap sejak masa pembukaan taratak, pondok permulaan yang dibangun di tengah peladangan oleh perantau dari berbagai arah, baik dari daerah Mudiak (Utara), Hilir (Selatan), Sungai Pua, Batu Palano, hingga Pariangan. Seiring waktu, taratak itu berkembang menjadi banak, kemudian berubah menjadi dusun, hingga akhirnya menjadi koto dan kini dikenal sebagai Nagari Koto Laweh.


Menurut tambo lokal, pendiri awalnya adalah ninik mamak Nan Duo Baleh, di antaranya Angku Nan Baundang, Angku Mato Aia, Angku Nan Batareh, dan Angku Nan Panjang Labuah. Sejak abad ke-17, masyarakatnya telah tersusun dalam empat suku dengan sekitar 60 penghulu. Tahun 1818, gelar Tuanku diberikan kepada Tuanku Pamasinangan sepulangnya menuntut ilmu ke Aceh, menandai pentingnya posisi keagamaan di nagari ini.

Sepanjang abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, Koto Laweh memainkan peran sejarah, termasuk perlawanan Tuanku Mudo di Pincuran Tujuh terhadap Belanda pada 1908 karena penolakan pajak. Pada masa berikutnya, Koto Laweh berkembang sebagai pusat pendidikan, dimulai dari pendirian sekolah pertama pada 1905 dan sekolah Islam pada 1950.

Nagari ini juga mengalami dinamika pemerintahan yang panjang, pergantian wali nagari, pembentukan desa, pemekaran jorong, hingga akhirnya pada tahun 2000 kembali ke sistem nagari. Nama-nama pemimpin Koto Laweh tercatat rapi dalam arsip nagari, menunjukkan kesinambungan tradisi kepemimpinan adat dan administratif.

Secara geografis, Koto Laweh berada pada ketinggian 900–1000 mdpl dengan suhu 25–35°C dan curah hujan sekitar 1.500 mm/tahun. Wilayah ini terdiri dari hamparan pertanian yang subur seluas ±880 ha dari total 655,5 km², didominasi sawah dan perkebunan sayur-mayur. Inilah yang membuat Koto Laweh dikenal sebagai sentra produksi sayuran di Tanah Datar.

Penduduknya berjumlah 2.820 jiwa, seluruhnya beragama Islam. Mata pencaharian utama mencapai 80% adalah petani, disusul wiraswasta 15% dan PNS 5%. Hampir setiap rumah memiliki kolam ikan sebagai sumber penghasilan tambahan, memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan lahan dan air secara maksimal.

Dalam aspek sosial budaya, masyarakat Koto Laweh masih kuat memegang adat salingka nagari. Tradisi seni, tari, hingga kuliner diwariskan turun-temurun. Olahraga pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terlihat dari keberadaan lapangan sepak bola, bola voli, takraw, dan bulu tangkis.

Secara administratif, nagari ini terbagi atas lima jorong yaitu Jorong Balai Gadang, Batu Panjang, Kapalo Koto, Pincuran Tujuh, dan Kandang Diguguek. Masing-masing dipimpin oleh kepala jorong yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah nagari dalam pelayanan dan pembangunan.

Dengan sejarah panjang, adat yang terpelihara, serta potensi alam yang besar, Nagari Koto Laweh bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga cermin perjalanan budaya Minangkabau yang tetap kokoh di tengah perubahan zaman.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Nagari Koto Laweh, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kit

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com