- Minggu, 14 Desember 2025
Nagari Katapiang: Nagari Pesisir, Ulayat Raja, Dan Gerbang Udara Sumatera Barat
Nagari Katapiang: Nagari Pesisir, Ulayat Raja, dan Gerbang Udara Sumatera Barat
Oleh: Andika Putra Wardana
Nagari Katapiang merupakan salah satu nagari strategis di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia menjadikan Katapiang sebagai nagari pesisir dengan karakter geografis yang khas. Di nagari inilah berdiri Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM), pintu utama keluar-masuk Sumatera Barat yang sekaligus memberi peran penting bagi Katapiang dalam lanskap regional Sumatra Barat.
Secara historis, Nagari Katapiang dahulunya dikenal dengan nama Nagari Paruangan. Perubahan nama menjadi Katapiang tidak terlepas dari kondisi ekologis wilayahnya yang pada masa lalu banyak ditumbuhi pohon katapiang, terutama di sepanjang pesisir pantai. Nama ini kemudian melekat dan diwariskan sebagai identitas nagari hingga sekarang. Dalam perjalanan administratifnya, Katapiang pernah mengalami dinamika pemerintahan, dari desa tunggal, kemudian dimekarkan menjadi beberapa desa, hingga akhirnya kembali disatukan dalam sistem pemerintahan nagari sesuai kebijakan otonomi daerah.
Dari sisi wilayah, data profil nagari menunjukkan bahwa luas Nagari Katapiang berada pada kisaran 43–64 km², mencerminkan nagari dengan bentang wilayah yang cukup luas untuk ukuran Padang Pariaman. Nagari ini terdiri dari delapan korong, yaitu Marantiah, Pilubang, Tabek, Simpang Katapiang, Pauh, Olo Bangau, Batang Sariak, dan Talao Mundam. Secara administratif, Katapiang berbatasan dengan Kecamatan Lubuak Aluang dan Ulakan Tapakis di utara, Kota Padang di selatan, beberapa nagari Sungai Buluh dan Kasang di timur, serta Samudera Indonesia di barat.
Jumlah penduduk Nagari Katapiang mencapai lebih dari 12 ribu jiwa, dengan komposisi laki-laki dan perempuan yang relatif seimbang. Aktivitas ekonomi masyarakat bergerak di sektor pertanian, perdagangan, jasa, serta perikanan pesisir. Keberadaan pasar nagari dan jalur transportasi utama menjadikan Katapiang sebagai salah satu simpul ekonomi penting di Batang Anai. Pantai Katapiang sendiri dikenal sebagai kawasan pesisir yang masih relatif alami, dengan hamparan pepohonan dan garis pantai yang panjang, menyimpan potensi wisata bahari yang terus berkembang.
Yang membuat Katapiang berbeda dari banyak nagari lain di Padang Pariaman adalah struktur adat dan sistem ulayatnya. Nagari Katapiang merupakan salah satu dari sedikit nagari di Padang Pariaman yang memiliki ulayat nagari yang dipimpin oleh seorang raja, bergelar Rajo Sampono. Gelar ini telah ada sejak sekitar tahun 1820 dan diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, pucuk ulayat Katapiang masih berada di tangan Rangkayo Rajo Sampono generasi keempat, yang berperan sebagai pemegang otoritas adat tertinggi.
Dalam sistem adatnya, Rajo Sampono tidak berdiri sendiri. Ia dibantu oleh para Datuak Suku serta unsur Bundo Kanduang, sehingga roda adat tetap berjalan selaras dengan prinsip musyawarah Minangkabau. Posisi Rajo Sampono sering disamakan, dalam konteks lokal dengan raja-raja adat di daerah lain di Indonesia, meskipun kekuasaannya dibatasi oleh adat dan kesepakatan kaum. Keunikan inilah yang menjadikan Katapiang sebagai nagari dengan karakter adat yang sangat khas dibandingkan nagari-nagari lain di Padang Pariaman.
Dalam konteks pemerintahan modern, Nagari Katapiang dipimpin oleh seorang wali nagari yang menjalankan fungsi administratif dan pembangunan, sementara adat tetap hidup berdampingan melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari. Perpaduan antara posisi strategis sebagai gerbang udara Sumatera Barat, nagari pesisir yang kaya potensi alam, serta sistem adat berulayat raja menjadikan Katapiang bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang sejarah, budaya, dan identitas Minangkabau yang hidup hingga hari ini.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Katapiang, Nagari Pesisir, Ulayat Raja, Gerbang Udara, Sumatera Barat
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TAMBO MINANGKABAU: JEJAK ASAL-USUL, ADAT, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
SENI MENAMPAR TANPA MENYENTUH: BEDAH LOGIKA PANTUN MINANG
-
SATU KALI TEBAS HARUS PUTUS! MENCEKAMNYA RITUAL MANABANG BATANG PISANG DALAM SEJARAH TABUIK PARIAMAN
-
SALAH TULIS ATAU SENGAJA? MENGUAK MISTERI ANGKA "IIII" DI JAM GADANG YANG BIKIN BELANDA KETAR-KETIR
-
BUKAN SEKADAR DONGENG HILANG DI HUTAN: MENGUAK MISTERI TANDO JANIN DAN PADI KOSONG DALAM LEGENDA ORANG BUNIAN
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
MAHASISWA KKN UNAND 2026 GELAR PENYULUHAN DAN PRAKTIK PEMBUATAN UMMB SEBAGAI SUPLEMENT TERNAK RUMINANSIA DI NAGARI LABUH, KECAMATAN LIMA KAUM, TANAH DATAR
-
PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI BOKASHI RAMAH LINGKUNGAN DI NAGARI LABUH
-
PRESIDEN KENA OLAH, OLEH MIKO KAMAL
-
PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS WEB: JALAN KELUAR DARI STIGMA KESEHATAN REPRODUKSI DI PERGURUAN TINGGI