- Minggu, 7 Desember 2025
MENIMBA BELUT, MENYANGKA UDANG: PARADOKS KEHIDUPAN Dalam LAGU LARUIK SANJO
MENIMBA BELUT, MENYANGKA UDANG: PARADOKS KEHIDUPAN Dalam LAGU LARUIK SANJO
“If u try and fail
Congratulations,
Most people don’t even try”
Dalam khazanah sastra lisan Minangkabau , terdapat sebuah pantun yang menyimpan kearifan lokal mendalam tentang paradoks kehidupan masyarakat. “Laruik Sanjo” bukan hanya sekedar lagu nyanyian hiburan di tengah masyarakat Minang, tetapi juga mencerminkan filosofis tentang harapan yang ternyata jauh dari ekspektasi, kekecewaan yang harus di terima, dan bijaksana dalam menghadapi realitas yang tidak sesuai dari harapan. Melalui diksi yang sederhana tentang menyangka udang ternya menimba belut, melalui pantun ini mengungkapkan kebenaran cerminan tentang kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian.
Inti dari lagu “Laruik sanjo” terletak pada pernyataan yang digambarkan melalui baris-baris liriknya. “Lai ditimbo nan bak udang, Biluluah juo nan ta timbo”, ketika mencoba mencari udang, namun yang di dapat adalah belut. Paradoks ini bukan hanya sekedar permainan kata, tetapi juga representasi mengenai sifat kehidupan masyarakat yang tidak pernah bisa penuh dalam prediksi atau kendali. Seseorang bisa merencanakan dengan matang, bisa berharap bersungguh- sungguh, namun hasil yang diperoleh seringkali berbeda dari yang di rancangkan. Maka lirik ini mengajarkan agar untuk menerima apa yang sudah di usahakan, meski itu tak sesuai dengan yang diharapkan.
Udang dan belut merupakan hewan yang berkaitan dengan lubuk, masyarakat minangkabau dalam kehidupan sehari-hari biasanya lubuk menjadi tempat mata pencaharian. Udang lebih disukai, lebih bernilai dan mudah di olah di banding belut. Meskipun sama sama bisa dimakan, namun belut merupakan bukanlah hasil yang di inginkan. Ketika timba diturunkan ke dalam lubuk dengan harap mendapat udang, namun yang muncul adalah belut, maka moment itu menjadi kekecewaan sekaligus penerimaan, walaupun begitu inilah gambaran hidup yang sesungguhnya.
Keindahan lirik “Laruik Sanjo” juga terletak pada bagaimana sampiran-sampirannya mencerminkan kehidupan sehari-hari yang konkret namun bermakna. “Mandi kalubuak mandalian” bukan hanya sekedar aktivitas mandi, namun ritual masyarakat minang yang hidup berdampingan dengan alam. Hal ini sesuai dengan pengajaran Minangkabau “ Alam Takambang Jadi Guru”, yang mana masyarakat minang selalu belajar kepada alam, menghargai pemberian hasil alam. Lubuk Mandalian , sebagai tempat spesifik menunjukan keterikatan manusia dengan sumber alam sebagai sumber kehidupan.
“Mabuak untuang jo parasain, Patang disangko pagi hari” menghadirkan paradoks waktu. Membuka rezeki dengan persatuan dan kesepakatan adalah harapan, namun waktu sore di sangka pagi hari menunjukan kesalahan perhitungan ataupun kesadaran yang terlambat, lirik ini menunjukan gambaran tentang bagaimana manusia seringkali trlambat menyadari sesuatu atau salah memperhitungkan waktu dan kesempatan. Lirik ini sangat relate dengan kondisi masyarakat era modern, lirik ini seakan memberi tahu mengenai masyarakat harus peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Begitu pula pada lirik “Ari patang mato ari turun, dagang baurai aia mato” menggambarkan tema waktu dan aktivitas masyarakat, sore hari saat matahari terbenam, pedagang berurai air mata.pada lirik ini menimbulkan banyak pertanyaan apakah air mata itu menandakan karena kelelahan sepenjang hari, kekecewaan dengan dagangan tidak laku, pedagang berurai air mata, atau keterharuan melihat senja? Ambiguitas pada lirik lagu ini memberikan makna yang beragam.
Pantun berkait atau pantun berantai yang digunakan dalam "Laruik Sanjo" mencerminkan filosofi tentang kehidupan yang berkelanjutan dan saling terkait. Baris terakhir dari sampiran satu bait menjadi pembuka bait berikutnya, menciptakan kontinuitas yang tak terputus. Ini adalah gambaran tentang bagaimana kehidupan terus berjalan, satu peristiwa menghubungkan peristiwa lainnya, satu kekecewaan membawa pada pembelajaran berikutnya.
Struktur berkait ini juga menunjukkan bahwa paradoks kehidupan bukanlah kejadian tunggal, melainkan pola yang berulang. Menimba belut ketika mengharapkan udang bukan hanya terjadi sekali, melainkan berkali-kali dalam berbagai bentuk sepanjang hidup manusia. Setiap bait yang terhubung mengingatkan bahwa penerimaan terhadap paradoks kehidupan harus menjadi sikap yang konsisten, bukan hanya respons sesaat.
Meskipun terlahir dalam banyaknya tradisi dan sastra lisan yang sudah berabad-abad lamanya, pernyataan yang di angkat dalam “Laruik Sanjo masih tetap sangat relavan di era modern sekarang. Bahkan bisa dikatakan, di zaman yang penuh dengan ekspektasi masyarakat dan dorongan hati nurani untuk terus sukses, pesan perihal menerima hasil yang tidak sesuai harapan menjadi sangat penting, the major in minor things.
Era modern, terutama generasi muda, sering kali terjebak salam sindrome perfeksionis atau menuntut untuk selalu sempurna dan fear of missing out (FOMO). Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang berhasil mendapatkan “udang” yang mereka inginkan, padahal kenyataannya banyak orang juga sedang bergulat dengan “belut” yang tidak diharapkan. Hal ini tercermin dalam pepatah minang “tahimpiak nak di ateh, takuruang nak di lua” pepatah ini menggambarkan resilience. Dalam tekanan pun kita tetap mencari celah. Lirik lagu dalam “Laruik Sanjo” mengingatkan bahwa mendapatkan belut bukanlah kegagalah, akan tetapi bagian alami dari proses kehidupan.
Dalam hubungan antarmanusia di era digital, pesan mengenai kehati-hatian dalam menilai orang lain juga sangat relavan. Di dunia maya, orang bebas memberikan penilaian berdasarkan cuplikan secuil kehidupan yang ditampilkan. “Nan buruak juo nan tasuo” lirik ini seolah mengatakan bahwa penilaian berdasarkan penampilan luar seringkali menyesatkan. Apa yang terlihat sempurna di layar media sosial bisa jadi pemnyimpanan problematika yang tidak terlihat. Namun masyarakat minangkabau ada pepatah yang mengatakan “alat baulah jo bapatuik makan banang siku-siku, kato nan bana ndak baturuik inggaran batin nan baliku” artinya jika seseorang yang tidak mau diarahkan ke yang benar, maka nantinya mentalnya itu akan rusak perlahan entah itu dengan omongan orang atau masyarakat sekitar.
Editor : melatisan
Tag :Menimba belut, menyangka udang, Paradoks
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TAMBO MINANGKABAU: JEJAK ASAL-USUL, ADAT, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
SENI MENAMPAR TANPA MENYENTUH: BEDAH LOGIKA PANTUN MINANG
-
SATU KALI TEBAS HARUS PUTUS! MENCEKAMNYA RITUAL MANABANG BATANG PISANG DALAM SEJARAH TABUIK PARIAMAN
-
SALAH TULIS ATAU SENGAJA? MENGUAK MISTERI ANGKA "IIII" DI JAM GADANG YANG BIKIN BELANDA KETAR-KETIR
-
BUKAN SEKADAR DONGENG HILANG DI HUTAN: MENGUAK MISTERI TANDO JANIN DAN PADI KOSONG DALAM LEGENDA ORANG BUNIAN
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
MAHASISWA KKN UNAND 2026 GELAR PENYULUHAN DAN PRAKTIK PEMBUATAN UMMB SEBAGAI SUPLEMENT TERNAK RUMINANSIA DI NAGARI LABUH, KECAMATAN LIMA KAUM, TANAH DATAR
-
PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI BOKASHI RAMAH LINGKUNGAN DI NAGARI LABUH
-
PRESIDEN KENA OLAH, OLEH MIKO KAMAL
-
PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS WEB: JALAN KELUAR DARI STIGMA KESEHATAN REPRODUKSI DI PERGURUAN TINGGI