HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 28 September 2026

Tari Tupai Janjang Koto Hilalang Menggambarkan Perburuan Dan Kehidupan Anak Nagari

Tari Tupai Janjang Koto Hilalang Menggambarkan Perburuan dan Kehidupan Anak Nagari

Oleh: Andika Putra Wardana

Tari Tupai Janjang merupakan kesenian tradisional yang tumbuh di Nagari Koto Hilalang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pertunjukan ini mengambil inspirasi dari aktivitas masyarakat ketika menghadapi tupai yang merusak tanaman dan dari tingkah laku hewan tersebut ketika berada di lingkungan perkebunan. Dalam penelitian Shilvy Choiriah di Institut Seni Indonesia Padangpanjang pada 2020, Tari Tupai Janjang disebut berkaitan dengan aktivitas berburu tupai yang mengganggu tanaman seperti mentimun, kelapa, cokelat, dan jagung. Nama Tupai Janjang sendiri dikaitkan dengan warna bulu tupai yang terdiri dari cokelat dan kuning keemasan sehingga terlihat seperti susunan bertingkat pada bagian leher, badan, dan perut.

Kesenian ini tidak hanya menghadirkan gerak penari sebagai tontonan, tetapi juga membawa unsur cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Nagari Koto Hilalang. Penelitian Nike Oktaveroni dari Universitas Negeri Padang pada 2013 mencatat bahwa kesenian Tupai Janjang ketika itu masih diakui oleh masyarakat Koto Hilalang, meskipun keberadaannya mulai berkurang. Penelitian tersebut juga mencatat Mansyur Dt. Pandeka Mudo sebagai salah satu tokoh yang memimpin kesenian Tupai Janjang pada masa penelitian.

Cerita Tupai dan Kehidupan Masyarakat Koto Hilalang

Cerita yang menjadi dasar Tari Tupai Janjang berangkat dari hubungan masyarakat dengan lingkungan pertanian di Koto Hilalang. Penelitian Choiriah mencatat bahwa tupai digambarkan sebagai hewan yang merusak tanaman masyarakat, termasuk mentimun, kelapa, cokelat, dan jagung. Karena gangguan tersebut, aktivitas berburu tupai menjadi bagian yang kemudian diolah menjadi pertunjukan tari. Jadi, cerita dalam Tari Tupai Janjang tidak mengambil tokoh dari kerajaan atau legenda tertentu, tetapi berangkat dari pengalaman masyarakat menghadapi hewan yang dianggap mengganggu hasil tanaman.

Keterangan penelitian Universitas Negeri Padang pada 2013 juga menyebut masyarakat melakukan perburuan terhadap tupai karena hewan tersebut dianggap merusak lingkungan sekitar, termasuk memakan tanaman dan mengganggu ternak kecil seperti anak ayam dan anak itik. Dalam wawancara penelitian itu, Mansyur Dt. Pandeka Mudo menjelaskan pula bahwa kesenian Tupai Janjang telah lama dikenal masyarakat Koto Hilalang. Keterangan tersebut menunjukkan hubungan antara cerita pertunjukan dengan kehidupan agraris yang pernah menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat nagari.

Nama “Tupai Janjang” memiliki penjelasan yang juga berkaitan dengan bentuk fisik hewan yang menjadi sumber cerita. Dalam penelitian Choiriah, warna bulu tupai yang menjadi inspirasi terdiri dari kuning keemasan pada bagian leher, cokelat pada badan, dan kuning keemasan pada bagian perut. Susunan warna tersebut kemudian dipahami menyerupai bentuk berjenjang sehingga muncul penyebutan Tupai Janjang. Keterangan ini merupakan penjelasan yang tercatat dalam penelitian tentang kesenian tersebut, bukan penetapan ilmiah mengenai jenis zoologis tupai yang dimaksud.

Kedekatan dengan kehidupan nagari juga terlihat dari fungsi pertunjukannya. Tari Tupai Janjang di Koto Hilalang digunakan sebagai hiburan dalam sejumlah kegiatan masyarakat, antara lain upacara adat, batagak panghulu, alek nagari, basuo basamo atau halal bihalal, serta pesta perkawinan. Penelitian tahun 2020 mencatat fungsi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pertunjukan tidak ditempatkan sebagai kesenian panggung semata, tetapi hadir dalam kegiatan ketika masyarakat berkumpul.

Gerak, Dendang, dan Teriakan Penonton

Keunikan Tari Tupai Janjang tidak hanya terletak pada cerita tentang tupai, tetapi juga pada cara pertunjukan melibatkan penonton. Penelitian Nike Oktaveroni mencatat bahwa penonton diajak bertepuk tangan bersama sambil meneriakkan bunyi “ca-ka-ca-ceh” secara serentak. Teriakan tersebut kemudian diikuti gerak penari yang menyesuaikan diri dengan syair dendang yang dinyanyikan. Pola seperti ini membuat batas antara penampil dan penonton menjadi lebih cair dibandingkan pertunjukan tari yang hanya menempatkan penonton sebagai pihak yang menyaksikan.

Gerak penari dalam pertunjukan juga mengikuti syair dendang sehingga unsur vokal menjadi bagian penting dari penyajiannya. Penelitian 2013 mencatat penggunaan talempong pacik, gandang, giriang-giriang, dan saluang sebagai bagian dari perangkat musik pengiring. Bunyi alat musik tersebut berpadu dengan dendang dan respons penonton ketika pertunjukan berlangsung. Karena itu, Tari Tupai Janjang dapat dilihat sebagai pertunjukan yang menggabungkan tari, musik, vokal, serta partisipasi masyarakat dalam satu rangkaian.

Busana juga menjadi bagian yang memperkuat karakter pertunjukan. Penelitian Universitas Negeri Padang mencatat penggunaan baju guntiang cino, sarawa gadang, songket, dan deta, sementara penari juga menggunakan galang kabaha dengan bentuk kepala burung. Sementara dokumentasi mengenai kesenian Koto Hilalang pada 2015 menyebut penggunaan kostum galembong berwarna hitam yang memiliki kemiripan dengan pakaian dalam pertunjukan randai. Data tersebut menunjukkan bahwa penampilan Tari Tupai Janjang berkaitan erat dengan unsur busana seni pertunjukan tradisional Minangkabau di lingkungan Koto Hilalang.

Pertunjukan pada masa lalu juga tidak selalu berlangsung dalam bentuk pementasan singkat. Penelitian Oktaveroni mencatat bahwa Tari Tupai Janjang pernah ditampilkan dalam pesta perkawinan setelah salat Isya hingga sekitar pukul setengah empat dini hari untuk menunggu marapulai. Keterangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kesenian tradisional dapat menjadi bagian dari rangkaian sosial dalam pesta perkawinan, ketika masyarakat berkumpul dalam waktu yang panjang di rumah anak daro.

Nilai dan Keberadaan Tari Tupai Janjang

Pesan yang dibawa Tari Tupai Janjang juga tidak terbatas pada cerita perburuan tupai. Dokumentasi tentang kesenian tradisional Koto Hilalang menyebut pertunjukan ini dapat menyampaikan pesan mengenai adat, nilai dakwah agama, hingga pesan pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat. Penyampaian pesan dilakukan melalui vokal para penari sehingga kesenian berfungsi sebagai media hiburan sekaligus komunikasi sosial dalam lingkungan nagari.

Fungsi sosial tersebut juga terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam pertunjukan. Ketika penonton ikut bertepuk tangan dan meneriakkan ca-ka-ca-ceh, masyarakat tidak hanya hadir sebagai penikmat seni, tetapi menjadi bagian dari suasana pertunjukan. Penelitian 2020 mengenai keberadaan Tari Tupai Janjang menyebut kesenian ini berfungsi sebagai hiburan dalam batagak panghulu, alek nagari, basuo basamo atau halal bihalal, serta pesta perkawinan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan ruang berkumpul yang membuat kesenian sekaligus berhubungan dengan silaturahmi dan kehidupan sosial masyarakat Koto Hilalang.

Keberadaan Tari Tupai Janjang sempat mengalami kemunduran. Penelitian Choiriah mencatat bahwa sejak 2011 hingga 2019 kesenian tersebut mengalami penurunan aktivitas. Pada 2019, pengelolaannya kembali dilakukan oleh grup seni “Siriah Langkok” yang dipimpin Agusri Rajo Marawa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengajarkan tari tersebut kepada anak-anak Nagari Koto Hilalang agar pengetahuan mengenai pertunjukan tidak berhenti pada generasi seniman yang lebih tua.

Perjalanan kesenian ini kemudian mendapat catatan baru pada 2026. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencatat Tari Tupai Janjang Koto Hilalang sebagai salah satu dari 15 karya budaya Sumatera Barat yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Termin I 2026. Penetapan tersebut berlangsung dalam sidang WBTbI pada 30 Juni hingga 3 Juli 2026, bersama sejumlah karya budaya lain dari Sumatera Barat.

Bagi Koto Hilalang, keberadaan Tari Tupai Janjang memperlihatkan bagaimana pengalaman sederhana dalam kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi seni pertunjukan. Cerita tentang tupai yang mengganggu tanaman, gerak yang mengikuti dendang, bunyi talempong pacik dan saluang, hingga teriakan penonton ca-ka-ca-ceh membentuk satu pertunjukan yang memiliki ciri khas sendiri. Ketika dimainkan dalam alek nagari, batagak panghulu, atau pesta perkawinan, tari ini kembali pada ruang tempat ia tumbuh: kehidupan masyarakat Koto Hilalang yang menjadikan kesenian sebagai bagian dari kegiatan bersama.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Tari, Tupai Janjang, Koto Hilalang, Menggambarkan, Perburuan, dan Kehidupan, Anak Nagari

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com