- Sabtu, 24 Oktober 2026
Motif Tabuik Dan Sampan Membentuk Corak Batik Khas Pariaman
Oleh: Andika Putra Wardana
Batik Sampan merupakan kerajinan batik dari Dusun Sampan, Desa Pungguang Ladiang, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Motifnya mengambil unsur budaya dan kehidupan masyarakat setempat, mulai dari Tabuik, burung, batang kacang, hingga ragam hias bunga. Nama Batik Sampan berasal dari kawasan tempat kerajinan ini berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan industri batik di Pariaman.
Produksi batik di kawasan Sampan tercatat sejak 1946. Sejumlah tokoh yang disebut sebagai perintis usaha tersebut ialah Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, dan Sjamsudin. Dalam catatan pemerintah daerah, Pariaman saat itu dikenal sebagai kawasan pelabuhan yang ramai pada masa penjajahan hingga awal kemerdekaan. Perdagangan dan hubungan dengan daerah lain ikut menjadi latar perkembangan usaha batik di wilayah tersebut.
Motif yang Mengambil Unsur Budaya Pariaman
Ragam motif Batik Sampan tidak terbatas pada gambar perahu. Batik ini juga memuat unsur yang dekat dengan tradisi, tumbuhan, dan kehidupan masyarakat Pariaman. Beberapa motif yang pernah dicatat antara lain Tabuik, dalamak, burung, batang kacang, sulaman benang emas, dan bungo salapan. Setiap perajin atau rumah produksi dapat mengembangkan susunan motif yang berbeda sesuai desain yang dikerjakan.
Motif Tabuik mengambil inspirasi dari tradisi tahunan yang dikenal luas di Pariaman. Tradisi tersebut memiliki rangkaian prosesi dan bentuk tabuik yang menjadi penanda budaya daerah. Unsur visualnya kemudian diolah menjadi corak kain, sehingga penggambaran tradisi tidak harus hadir dalam bentuk pertunjukan atau benda aslinya.
Motif dalamak memiliki keterangan tersendiri dalam catatan Batik Sampan. Motif ini digambarkan melalui tujuh bunga yang dikaitkan dengan tujuh suku di Pariaman pada masa lampau. Keterangan tersebut merujuk pada penjelasan yang pernah disampaikan pemerintah daerah mengenai ragam hias Batik Sampan. Sementara itu, motif burung dan batang kacang mengambil unsur alam yang juga dikenal dalam kehidupan masyarakat.
Pengembangan motif berlangsung pula di rumah produksi Batik Sampan Pesona Minang, yang berada di Desa Sungai Kasai, Kecamatan Pariaman Selatan. Kajian terhadap produk rumah batik tersebut mencatat motif Tabuik, Piaman Laweh, Baruak Mamanjek Karambia, Sala Lauak, dan Gandang Tasa. Nama-nama itu memperlihatkan beragam sumber inspirasi, mulai dari tradisi setempat, kuliner, hingga kehidupan sehari-hari.
Sala lauak, misalnya, dikenal sebagai makanan khas Pariaman. Gandang tasa merupakan perangkat musik yang lekat dengan kemeriahan prosesi Tabuik. Ketika unsur-unsur tersebut dialihkan ke atas kain, bentuknya mengalami pengolahan menjadi susunan hias. Motif yang dihasilkan bukanlah dokumentasi harfiah, melainkan rancangan visual yang mengadaptasi unsur budaya ke dalam produk kerajinan.
Dari Mencanting hingga Pewarnaan Kain
Pembuatan Batik Sampan dilakukan melalui sejumlah tahap, bergantung pada teknik dan bahan yang dipakai oleh rumah produksinya. Pada batik tulis, perajin terlebih dahulu menyiapkan pola, kemudian menggunakan canting untuk menggoreskan malam pada kain. Bagian yang tertutup malam dijaga agar tidak langsung terkena warna ketika kain melalui tahap pencelupan. Setelah proses pewarnaan selesai, malam dilepaskan melalui pelorodan.
Pewarna yang dipakai tidak selalu sama pada setiap tempat produksi. Catatan tentang kegiatan perajin di Dusun Sampan dan Desa Sungai Kasai pada 2020 membedakan penggunaan pewarna kimia di kelompok Dusun Sampan dan pewarna alam pada kelompok di Sungai Kasai. Perbedaan ini memengaruhi karakter warna kain. Pewarna kimia cenderung menghasilkan warna lebih cerah, sedangkan pewarna alam dapat memberikan warna yang lebih lembut.
Di Rumah Batik Sampan Pesona Minang, bahan pewarna alam yang pernah diteliti meliputi gambir, kulit kayu tingi, dan kulit jengkol. Bahan-bahan tersebut direbus untuk menghasilkan ekstrak warna, kemudian digunakan melalui tahapan pencelupan. Kain juga menjalani perlakuan awal dan proses penguncian warna agar hasil pewarnaannya lebih tahan. Teknik tersebut merupakan praktik yang didokumentasikan pada rumah produksi itu, bukan ketentuan yang berlaku untuk semua Batik Sampan.
Perbedaan bahan dan pengolahan memberi ruang bagi perajin untuk menghasilkan variasi warna tanpa harus mengganti sumber inspirasi motif. Kain dengan motif Tabuik, misalnya, dapat dibuat melalui pilihan warna dan teknik berbeda. Karena itu, mengenali Batik Sampan juga berarti memperhatikan bagaimana pola, bahan, dan cara pengerjaan diterapkan oleh masing-masing perajin.
Penggunaan dan Perkembangan Batik Sampan
Batik Sampan dipasarkan dalam bentuk kain maupun produk jadi. Syal pernah diperkenalkan sebagai cendera mata Kota Pariaman pada 2021, sementara kain batik dapat digunakan untuk pakaian. Pemerintah daerah juga pernah mendorong pemakaiannya sebagai pakaian dinas aparatur sipil negara dan seragam siswa. Penggunaan seperti ini membuka peluang agar batik tidak hanya dibeli sebagai oleh-oleh, tetapi juga dikenakan dalam kegiatan sehari-hari atau acara resmi.
Perjalanan produksinya sempat mengalami masa surut. Pada 2019, pemerintah kota mengadakan lomba desain untuk memperkaya motif Batik Sampan dan mendorong produksi kembali. Pelatihan membatik juga melahirkan usaha baru di Desa Pungguang Ladiang dan mendukung kegiatan perajin di Desa Sungai Kasai. Perkembangan tersebut berlangsung melalui beberapa usaha yang memiliki nama dan pengelolaan berbeda, sehingga Batik Sampan tidak tepat dipahami sebagai produk dari satu rumah produksi saja.
Pada 7 Juli 2026, Pemerintah Kota Pariaman mengumumkan penyerahan sertifikat merek untuk Kelompok Usaha Kerajinan Batik Sampan Pariaman dari Kementerian Hukum. Sertifikat ini memberikan perlindungan terhadap merek usaha sesuai ketentuan yang berlaku. Perlindungan merek tersebut berbeda dari pengakuan atas setiap motif kain, tetapi menjadi bagian dari penguatan identitas produk yang dipasarkan. (*)
Editor : Benk123
Tag :#batik pariaman
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
BALANGO GALOGANDANG BERTAHAN LEWAT KETERAMPILAN PERAJIN TANAH LIAT
-
TENUN KOTO NAN GODANG MENJAGA PRODUKSI KAIN ADAT DI PAYAKUMBUH
-
DENDANG BANSI SOLO MEMADUKAN TIUPAN BAMBU DAN SUARA PENDENDANG
-
SAMPELONG TALANG MAUA BERUBAH DARI MUSIK RITUAL MENJADI PERTUNJUKAN
-
KATUMBAK DI SUNGAI GERINGGING MEMADUKAN IRAMA MINANG, MELAYU, DAN INDIA
-
SEMEN PADANG FC DAN BAN KAPTEN: KETIKA PENGALAMAN SAJA TAK CUKUP, KABAU SIRAH BUTUH JIWA YANG MENGIKAT
-
MEMBACA DATA DENGAN BENAR, LANGKAH AWAL MELINDUNGI STATUS GIZI ANAK
-
BAJANJANG NAIAK, BATANGGO TURUN: PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI MINANGKABAU
-
WAYANG SAWAHLUNTO MENGANGKAT KISAH TAMBANG OMBILIN DENGAN BAHASA TANGSI
-
ALU KATENTONG PADANG LAWEH, KESENIAN PEREMPUAN MINANGKABAU YANG LAHIR DARI AKTIVITAS MENUMBUK PADI