- Selasa, 27 Oktober 2026
Ujian Hakim: Antara Kasar, Kasir, Dan Kasur
Ujian Hakim: Antara Kasar, Kasir, dan Kasur
“Ujian menjadi hakim itu tidak hanya soal integritas, tetapi juga bagaimana menaklukkan tiga ujian besar: Kasar, Kasir, dan Kasur.” ujar seorang pejabat Komisi Yudisial pada suatu forum, kalimat yang sempat membuat ruangan hening, lalu disambut tawa getir para peserta.
Tawa itu bukan karena lucu, tapi karena ada bongkahan kaca kecil dibalik kata-kata sarkas tersebut, yang paham akan bercermin, yang tidak akan terlukai. Saya yang bukan siapa-siapa mencoba menelisik lagi lebih dalam memahami kalimatnya. Singkat, tapi dalam.
Saya bertanya dalam hati, apa benar disini adalah kerajaan mini yang di dalamnya keadilan acap kali diuji bukan di ruang sidang; tapi di ruang hati?. Kata-kata itu menohok, tapi menampar dengan sangat keras yang membuat semua yang hadir sontak tersadar, para penegak hukum tidak hanya diukur dari toga ataupun sumpah jabatannya, tetapi lebih dalam daripada itu. Ya, seberapa kuat mereka menolak godaan di balik tiga kata sakral: kasar, kasir, dan kasur.
Walaupun saya tau, dari awal kita semua sepakat bahwa integritas=harga mati, tapi ini menarik untuk dikuliti lebih dalam. Bukan untuk menghakimi, melainkan refleksi—,—refleksi yang mempertahankan marwah dan harga diri. Saya coba melihat ini bukan sebagai sarkasme, tetapi dari poin lain ; peringatan.
Kasar: Ketika Kekuasaan Memangsa Nurani
“Kamu tahu saya siapa?” kalimat klasik yang acap kali muncul saat kekuasaan mengalahkan kendali diri, pun hanya terbesit didalam hati. Ujian yang menjelma dalam bentuk arogansi. Saat jabatan berhasil membuat seseorang lupa bahwa di balik palu sidang, ada nurani yang seharusnya mengetuk lebih dulu.
Seharusnya keadilan lahir dari empati, nurani dan logika. Tapi bagaimana jadinya ketika keduanya digantikan ego dan etnosentrisme? Ya, jadilah pengadilan bukan wadah mencari kebenaran, melainkan ajang unjuk kekuasaan. Ironisnya, banyak yang lulus ujian hukum, tapi gagal ujian sikap.
Kekuasaan tanpa kendali justru bisa melukai makna keadilan itu sendiri. Maka, ujian ini sesungguhnya bukan untuk menguji “siapa yang paling berkuasa”, tapi siapa yang paling mampu menundukkan, menelan egonya demi menjaga marwah lembaga.
Kasir: Saat Hukum Dihargai Seharga Nominal
Ujian kedua adalah ujian yang paling senyap, datang dari meja kasir, bukan di mall, tapi di bawah meja rapat, di balik amplop, atau di layar ponsel genggam. Disinilah keadilan diuji harganya.
Di negeri yang katanya menjunjung tinggi moral, selain apapun bisa diuangkan, hukum juga bisa saja jadi barang dagangan. Bagaimana bisa? harga pasalnya tergantung “siapa pembelinya”. Ada yang bilang uang tidak bisa membeli keadilan, Tapi mereka lupa uang bisa membeli nurani. Kenyataannya, uang bisa menyewa waktu, mengatur jadwal, bahkan “mengatur putusan”. Lucunya, orang yang bicara soal integritas sering lupa bahwa kejujuran tidak punya rekening.
Ketika seseorang memilih menjadi hakim, sesungguhnya ia telah menandatangani komitmen moral untuk menolak segala bentuk imbalan di luar keadilan itu sendiri. Integritas menjadi benteng terakhir yang tidak bisa dibeli dengan apa pun, bahkan ketika dunia menggoda dengan segala kilauannya.
Kasur: Ketika Nafsu Mengalahkan Nurani
Ujian terakhir adalah yang paling personal. Kasur, simbol dari godaan paling tua dalam sejarah manusia--tapi kuat, sangat kuat. Bukan cuma soal tubuh, tapi tentang penyalahgunaan posisi dan kuasa. Saat jabatan dijadikan daya tarik, dan moral ditukar dengan kenikmatan sesaat, disitulah kehormatan profesi terkubur di balik selimut.
Tentu, tidak semua jatuh dalam jebakan ini. Masih banyak hakim yang setia pada sumpahnya, yang menjadikan toga bukan pelindung status, tapi jauh lebih suci daripada itu ; simbol tanggung jawab. Tapi sayangnya, seperti satu noda, cukup membuat warna putih jadi abu-abu.
Keadilan, Sebelum Diputuskan, Sudah Diuji
Tiga ujian ini bukan sekadar sindiran. Ia adalah cermin: bahwa profesi mulia tidak selalu dijaga oleh malaikat, tapi oleh manusia yang bisa tergelincir. Memang lucu, membuat kita tidak bisa berkata apapun juga kecuali tertawa. Tapi mungkin sudah waktunya kita berhenti tertawa getir, dan mulai bertanya: Apakah keadilan di negeri ini masih diuji oleh tiga hal itu, atau sudah lulus dari semuanya?
Tiga ujian ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa profesi kehakiman adalah refleksi panjang menuju kematangan moral. Setiap ujian adalah kesempatan untuk memperkuat diri dan membuktikan bahwa integritas masih menjadi fondasi utama penegakan hukum di negeri ini.
Karena keadilan bukan hanya soal memutus perkara, tapi tentang bagaimana seorang hakim terus lulus dari ujian-ujian kecil yang tidak pernah tertulis di dalam undang-undang.
Tag :Ujian Hakim, Antara Kasar, Kasir, dan Kasur
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
LILIPALY MENJADI PEMBEDA, TETAPI KONSISTENSI HARUS MENYUSUL
-
SEMEN PADANG FC DAN BAN KAPTEN: KETIKA PENGALAMAN SAJA TAK CUKUP, KABAU SIRAH BUTUH JIWA YANG MENGIKAT
-
MEMBACA DATA DENGAN BENAR, LANGKAH AWAL MELINDUNGI STATUS GIZI ANAK
-
BAJANJANG NAIAK, BATANGGO TURUN: PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI MINANGKABAU
-
WAYANG SAWAHLUNTO MENGANGKAT KISAH TAMBANG OMBILIN DENGAN BAHASA TANGSI
-
UJIAN HAKIM: ANTARA KASAR, KASIR, DAN KASUR
-
JEJAK PENGABDIAN HAN LAKSANAKAN KEGIATAN DISKUSI TERBUKA TERKAIT HUNIAN TETAP DI NAGARI SUNGAI BATANG
-
LILIPALY MENJADI PEMBEDA, TETAPI KONSISTENSI HARUS MENYUSUL
-
SEMEN PADANG FC DAN BAN KAPTEN: KETIKA PENGALAMAN SAJA TAK CUKUP, KABAU SIRAH BUTUH JIWA YANG MENGIKAT
-
MEMBACA DATA DENGAN BENAR, LANGKAH AWAL MELINDUNGI STATUS GIZI ANAK