- Senin, 19 Oktober 2026
Dendang Bansi Solo Memadukan Tiupan Bambu Dan Suara Pendendang
Oleh: Andika Putra Wardana
Dendang Bansi Solo merupakan kesenian musik tradisional yang tercatat dalam pendataan kebudayaan Kota Solok, Sumatera Barat. Pertunjukannya mengandalkan dua unsur utama, yakni seorang pendendang dan seorang pemain bansi. Alat musik tiup berbahan bambu itu mengiringi nyanyian dengan pola melodi khas yang berbeda dari permainan bansi di sejumlah daerah Minangkabau lainnya.
Bansi yang digunakan dalam kesenian ini memiliki enam lubang nada. Bentuknya menyerupai suling atau recorder, tetapi ukuran, warna bunyi, dan teknik permainannya memiliki ciri tersendiri. Dalam kajian musik, kesenian ini juga dikenal dengan sebutan Bansi Solok. Penyebutan tersebut merujuk pada tradisi musik yang berkembang di Kota Solok, bukan sekadar permainan alat musik bansi secara tunggal.
Asal Istilah dan Karakter Bunyi
Ada penjelasan lokal yang menghubungkan kata bansi dengan istilah basisiekan, yang berarti disisipkan. Penjelasan ini tercantum dalam pendataan kesenian pada basis data Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Namun, keterangan yang tersedia tidak menguraikan secara lengkap bagaimana istilah tersebut terbentuk atau sejak kapan digunakan. Karena itu, asal-usul kata bansi masih perlu ditempatkan secara hati-hati, tanpa menetapkan satu cerita sebagai sejarah yang sudah pasti.
Ciri musikal Bansi Solok dapat terdengar dari cara pemain mengolah nada. Instrumen ini dimainkan dengan teknik garitiak, yakni permainan hiasan nada yang rapat disertai tekanan pada nada tertentu. Pola tersebut menghasilkan melodi yang khas. Dalam beberapa bagian, gerak melodi bansi tidak selalu mengikuti alur vokal secara persis. Hubungan keduanya justru membentuk karakter musikal tersendiri ketika dendang dan tiupan dimainkan bersama.
Perbedaan juga terlihat jika Bansi Solok dibandingkan dengan bansi yang lazim dikenal di Sumatera Barat. Dalam kajian Ronaldi dan Pande Made Sukerta yang terbit pada 2017, bansi pada umumnya disebut memiliki delapan lubang nada, sedangkan Bansi Solok menggunakan enam lubang. Penelitian itu juga menjelaskan bahwa bansi di sejumlah daerah lebih sering dimainkan sebagai instrumen melodi tunggal, sementara Bansi Solok berfungsi mengiringi dendang atau nyanyian khas Solok.
Perbedaan tersebut tidak berarti salah satu bentuk permainan lebih baik daripada yang lain. Keduanya berkembang dalam lingkungan musikal yang memiliki kebiasaan berbeda. Pada Bansi Solok, karakter tiupan dan suara pendendang menjadi satu kesatuan. Untuk memahami kesenian ini, perhatian tidak cukup diarahkan pada bentuk bambunya saja, tetapi juga pada cara pemain membangun hubungan antara melodi dan vokal.
Dendang dan Repertoar Khas Solok
Kesenian ini menghadirkan dendang sebagai bagian utama pertunjukan. Syair yang dilantunkan pendendang berjalan bersama melodi bansi, sementara pemain mengolah variasi nada melalui teknik tiupan dan permainan jari. Susunan tersebut membuat pertunjukan bertumpu pada dua pemain dengan tugas berbeda, tetapi saling melengkapi.
Sejumlah repertoar Bansi Solok tercatat dalam dokumentasi pertunjukan tradisi pada 2016. Di antaranya ialah Pado-pado, Dendang Pauah, Lereang Pauah, Pariaman, Cupak Maambiak Lado, Ratok Solok, dan Ratok Cupak. Nama-nama ini memperlihatkan ragam lagu yang pernah dibawakan dalam pertunjukan Bansi Solok. Dokumentasi tersebut penting sebagai catatan mengenai repertoar, meskipun tidak dengan sendirinya memastikan bahwa seluruh lagu itu masih rutin dimainkan saat ini.
Dalam dendang Minangkabau, syair menjadi sarana untuk menyampaikan pengalaman dan perasaan. Pada Bansi Solok, suara penyanyi tidak berdiri sendiri karena diiringi melodi bansi yang memiliki gerak khas. Teknik garitiak memberikan variasi pada permainan, termasuk tekanan nada yang bisa terdengar berbeda dari arah melodi vokal. Kekhasan tersebut menjadi bagian dari identitas musikal Bansi Solok.
Kesenian ini juga pernah menjadi bahan penciptaan musik baru. Ronaldi dan Pande Made Sukerta mengembangkan karya berjudul Bansi Rang Solok sebagai interpretasi terhadap tradisi Bansi Solok. Karya tersebut ditampilkan pada 2016 di kawasan wisata Pulau Belibis, Ampang Kualo, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Pertunjukannya menggabungkan materi musik tradisional dengan pengembangan komposisi yang memakai sejumlah instrumen lain, termasuk talempong, biola, akordeon, saluang, dan gandang tambua.
Dalam karya itu, pertunjukan Bansi Solok oleh seniman tradisi ditempatkan bersama bagian komposisi baru. Repertoar seperti Pado-pado dan Ratok Solok menjadi bahan pengolahan musikal. Peristiwa tersebut memperlihatkan salah satu cara kesenian tradisional masuk ke panggung komposisi tanpa sepenuhnya meninggalkan materi musik asalnya.
Tantangan Pewarisan di Kota Solok
Persoalan keberlanjutan Bansi Solok pernah menjadi perhatian dalam kajian musik yang terbit pada 2017. Penelitian tersebut menyebut kesenian ini berada dalam kondisi memprihatinkan dan mencatat Kaslan sebagai pendendang yang masih menekuninya pada masa penelitian. Informasi itu menggambarkan situasi yang dicatat hampir satu dekade lalu, bukan keterangan mengenai jumlah pemain yang masih aktif pada 2026.
Catatan tersebut memperlihatkan pentingnya dokumentasi terhadap pemain, teknik permainan, dan repertoar. Pengetahuan tentang Bansi Solok tidak hanya tersimpan dalam bentuk alat musik, tetapi juga dalam keterampilan menghasilkan nada, mengolah garitiak, serta menempatkan tiupan sebagai pengiring dendang. Jika hanya instrumennya yang tersisa tanpa orang yang menguasai cara memainkannya, bagian penting dari tradisi ini akan sulit dipelajari kembali.
Pendokumentasian lagu-lagu seperti Pado-pado, Ratok Solok, dan Lambok Malam dapat menjadi salah satu bahan untuk mengenali kekayaan repertoarnya. Namun, rekaman dan tulisan perlu disertai kesempatan belajar langsung dari pemain yang menguasai kesenian tersebut. Dengan begitu, teknik yang tidak mudah dijelaskan melalui notasi saja tetap dapat dipahami. (*)
Editor : Benk123
Tag :#bansi
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SAMPELONG TALANG MAUA BERUBAH DARI MUSIK RITUAL MENJADI PERTUNJUKAN
-
KATUMBAK DI SUNGAI GERINGGING MEMADUKAN IRAMA MINANG, MELAYU, DAN INDIA
-
KUCIANG LALOK DALAM RAGAM HIAS TRADISIONAL MINANGKABAU
-
BASAPA DI ULAKAN TAPAKIS MENYATUKAN ZIARAH, SEJARAH ISLAM, DAN TRADISI MINANGKABAU
-
MANDOA TURUN KA SAWAH DI SIJUNJUNG MENGIRINGI PERSIAPAN MUSIM TANAM
-
WAYANG SAWAHLUNTO MENGANGKAT KISAH TAMBANG OMBILIN DENGAN BAHASA TANGSI
-
ALU KATENTONG PADANG LAWEH, KESENIAN PEREMPUAN MINANGKABAU YANG LAHIR DARI AKTIVITAS MENUMBUK PADI
-
BAREH RANDANG PAYAKUMBUH PUNYA RASA MANIS DAN BERBEDA DARI RENDANG DAGING
-
KATUPEK GULAI PAKU, SAJIAN KHAS PESISIR MINANGKABAU DENGAN KUAH SANTAN DAN PAKIS
-
HUTAN DILEGALKAN UNTUK DITEBANG: PARADOKS DEFORESTASI DAN KLAIM PENYERAP EMISI