HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 20 Oktober 2026

Tenun Koto Nan Godang Menjaga Produksi Kain Adat Di Payakumbuh

Oleh: Andika Putra Wardana

 

Tenun Koto Nan Godang di Balai Cacang, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, menghasilkan kain adat yang digunakan dalam busana perempuan dan perlengkapan pakaian penghulu. Keterampilan menenun di kawasan ini diwariskan dari ibu kepada anak perempuan dengan menggunakan alat tenun tradisional yang dikenal sebagai ponte. Namun, catatan kebudayaan yang diterbitkan pada 2023 menyebutkan bahwa perempuan yang masih menekuni kegiatan menenun di Koto Nan Godang tidak lagi banyak.

Kain tenun ini berkaitan erat dengan tata cara berpakaian dalam upacara adat masyarakat Koto Nan Godang. Pemakaiannya mengikuti ketentuan adat, termasuk perbedaan jenis pakaian berdasarkan umur, kedudukan sosial, dan keperluan upacara. Karena itu, pekerjaan penenun tidak hanya menghasilkan lembaran kain, tetapi juga menyediakan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan adat setempat.

Kain Tenun dalam Pakaian Adat

Tenun Koto Nan Godang memiliki beragam penggunaan. Pada pakaian perempuan, kain tenun menjadi bagian dari kelengkapan busana yang dipakai ketika menghadiri upacara adat. Seorang anak perempuan perlu memiliki pakaian yang sesuai dengan ketentuan adat ketika mulai mengikuti kegiatan tersebut. Persiapan pakaian biasanya menjadi perhatian keluarga, termasuk ibu yang menyiapkan perlengkapan adat bagi anak perempuannya.

Kain hasil tenunan juga digunakan dalam pakaian kebesaran penghulu. Beberapa jenis yang dikenal di Koto Nan Godang ialah cukia kuning untuk sandang, cawek sebagai ikat pinggang, dan popek Koto Godang sebagai sarung. Masing-masing memiliki penggunaan tersendiri dalam kelengkapan busana adat. Ragam itu memperlihatkan bahwa kain tenun setempat tidak dibuat untuk satu kebutuhan saja.

Penggunaan kain dalam upacara adat turut memengaruhi kebutuhan produksi. Perlengkapan pakaian perlu disesuaikan dengan jenis acara dan ketentuan pemakaiannya. Penenun yang menguasai keterampilan tersebut memegang peranan dalam menyediakan kain yang dibutuhkan masyarakat, terutama ketika perlengkapan adat harus dipersiapkan oleh keluarga.

Kedudukan kain tenun dalam pakaian adat juga menjelaskan mengapa keterampilan ini perlu diwariskan bersama pengetahuan tentang penggunaannya. Membuat kain dan memahami peruntukannya merupakan dua hal yang saling berkaitan. Tanpa pengetahuan mengenai jenis kain adat, hasil tenunan akan lebih sulit ditempatkan sesuai kebutuhan masyarakat Koto Nan Godang.

Ponte dan Pewarisan Keterampilan Menenun

Dalam tradisi menenun Koto Nan Godang, perempuan mengerjakan kain menggunakan alat tenun yang disebut ponte. Kegiatan ini secara tradisional dilakukan di bawah kolong Rumah Gadang. Rumah gadang tidak hanya menjadi tempat tinggal keluarga dalam lingkungan adat, tetapi juga menjadi ruang berlangsungnya kegiatan kerajinan yang diwariskan antargenerasi.

Pengetahuan menenun diteruskan dari ibu kepada anak perempuan. Pola pewarisan tersebut memungkinkan keterampilan dipelajari melalui hubungan keluarga dan praktik langsung. Anak tidak hanya mengenal hasil kain, tetapi juga berkesempatan mempelajari pekerjaan yang dilakukan untuk membuatnya. Akan tetapi, sumber yang tersedia belum menjelaskan secara terperinci tahapan pembelajaran, lama pengerjaan satu kain, maupun jumlah penenun aktif saat ini.

Balai Cacang dikenal sebagai lokasi kegiatan menenun Koto Nan Godang sejak dahulu. Nama tempat ini juga tercatat dalam dokumentasi kebudayaan tentang kain adat Payakumbuh. Hubungan antara lokasi, penenun, dan penggunaan kain adat memberi gambaran mengenai lingkungan tempat keterampilan tersebut berkembang.

Pada 2022, Tenun Koto Nan Godang Payakumbuh ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional. Penetapan tersebut mengakui keberadaan keterampilan menenun sebagai bagian dari warisan budaya daerah. Namun, pengakuan itu berbeda dari keberlanjutan produksi sehari-hari. Kain tetap memerlukan orang yang menguasai tekniknya, alat yang dapat digunakan, serta penerus yang bersedia belajar.

Perajin dan Keberlanjutan Produksi

Persoalan yang muncul dalam perkembangan Tenun Koto Nan Godang ialah berkurangnya perempuan yang masih aktif menenun. Catatan dalam buku tentang pakaian adat Koto Nan Godang yang diterbitkan pada 2023 menyebutkan bahwa kegiatan menenun tidak lagi banyak dilakukan perempuan setempat. Keterangan tersebut tidak disertai angka jumlah penenun, sehingga kondisi terkini dan skala penurunannya masih perlu ditelusuri lebih jauh.

Keberadaan perajin menjadi penting dalam menjaga kesinambungan produksi kain adat. Keterampilan mereka mencakup pengetahuan tentang alat tenun dan proses menghasilkan kain yang dapat digunakan dalam busana adat. Ketika jumlah orang yang menekuni pekerjaan itu terbatas, kesempatan untuk meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya ikut bergantung pada penenun yang masih bertahan.

Dokumentasi mengenai kain, alat, proses pengerjaan, dan penggunaan setiap jenis tenun dapat membantu mencatat pengetahuan yang dimiliki perajin. Catatan tersebut juga dapat memperjelas perbedaan jenis kain adat Koto Nan Godang serta kebutuhan masyarakat terhadap masing-masing produk. Meski demikian, dokumentasi tidak menggantikan keterampilan praktik yang harus dipelajari langsung dari orang yang menguasainya. (*)


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : Benk123

Tag :#tenun,

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com