- Selasa, 6 Oktober 2026
Tambua Tansa Padang Pariaman Mengiringi Arak-arakan Dan Alek Anak Nagari
Tambua Tansa Padang Pariaman Mengiringi Arak-arakan dan Alek Anak Nagari
Tambua Tansa merupakan kesenian perkusi tradisional yang berkembang kuat di Kabupaten Padang Pariaman dan kawasan budaya Pariaman. Permainan ini menggunakan dua alat musik utama, yaitu tambua dan tasa, yang dimainkan secara berkelompok dengan pola pukulan yang saling mengisi. Di Padang Pariaman, Tambua Tansa digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari arak-arakan, acara adat, penyambutan tamu, hingga perayaan yang melibatkan banyak orang.
Kesenian Tambua Tansa juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2021 bersama sejumlah karya budaya dari Kabupaten Padang Pariaman. Pengakuan tersebut memperlihatkan posisi Tambua Tansa sebagai bagian penting dari kebudayaan daerah. Namun, kehidupan kesenian ini tetap banyak bergantung pada kelompok seni dan anak nagari yang masih berlatih serta memainkannya dalam kegiatan masyarakat.
Tambua dan Tasa
Tambua merupakan gendang berukuran besar yang dimainkan dengan cara dipukul, sedangkan tasa memiliki ukuran lebih kecil dan berperan penting dalam mengarahkan jalannya permainan. Dalam permainan Gandang Tambua di Desa Cubadak Aia, Kota Pariaman, tasa menjadi bagian yang memimpin pola permainan, sementara tambua mengikuti pukulan tersebut. Pola hubungan itu membuat permainan tidak hanya terdengar sebagai bunyi perkusi yang ramai, tetapi memiliki susunan ritme yang teratur.
Dalam kesenian Tambua Tansa di Pariaman, satu kelompok pada umumnya terdiri dari enam pemain tambua dan seorang pemain tasa. Formasi tersebut ditemukan dalam praktik kelompok Tambua Tansa di wilayah Pariaman, termasuk kelompok yang berada di Korong Durian Gadang, Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman. Setiap kelompok dapat memiliki gaya permainan dan pengembangan pola ritme yang berbeda sesuai lingkungan keseniannya.
Karakter suara Tambua Tansa yang keras membuat kesenian ini cocok dimainkan di ruang terbuka. Karena itu, permainan Tambua Tansa sering hadir ketika masyarakat membutuhkan iringan musik yang dapat terdengar oleh orang banyak, terutama dalam kegiatan arak-arakan. Dalam sejumlah kegiatan adat di Pariaman, kesenian ini juga digunakan untuk mengiringi pengantin, alek nagari, dan kegiatan sosial lainnya.
Salah satu bentuk permainan yang berkembang di Padang Pariaman adalah lagu Alihan Anam. Lagu tersebut dimainkan oleh kelompok Tambua Tasa di Korong Durian Gadang, Nagari Lareh Nan Panjang. Kelompok setempat memiliki pola pengulangan dan pengembangan gerak pemain yang berbeda dengan kelompok lain. Hal itu menunjukkan bahwa permainan Tambua Tansa memiliki ruang bagi setiap kelompok untuk mempertahankan ciri lokalnya.
Tambua Tansa dalam Arak-arakan
Arak-arakan menjadi salah satu ruang yang paling mudah memperlihatkan fungsi Tambua Tansa dalam kehidupan masyarakat Pariaman. Bunyi tambua dan tasa mengiringi rombongan ketika bergerak dari satu tempat ke tempat lain sehingga kehadiran sebuah acara dapat diketahui oleh masyarakat di sepanjang jalan. Dalam kegiatan perkawinan, permainan ini dapat mengiringi rombongan pengantin dan menjadi bagian dari kemeriahan acara.
Di Desa Pasir Sunur, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, misalnya, terdapat lagu Sunua dalam tradisi Gandang Tambua. Lagu tersebut memiliki tiga bagian permainan, yaitu pangka matam, maatam panjang, dan ikua matam. Gandang Tambua di Pasir Sunur digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk arak-arakan penganten dan penyambutan tamu. Lagu Sunua juga menjadi salah satu ciri yang berkaitan dengan identitas masyarakat setempat.
Tambua Tansa juga memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi Tabuik di Kota Pariaman. Dalam rangkaian kegiatan Tabuik pada bulan Muharam, permainan Gandang Tambua digunakan ketika tabuik diarak dan dalam prosesi mahoyak tabuik. Lagu Hoyak Tabuik dimainkan dengan tempo yang cepat untuk mengiringi gerakan dan suasana ketika dua kelompok tabuik bertemu. Penggunaan Tambua Tansa dalam Tabuik membuat kesenian perkusi ini semakin dikenal sebagai bagian dari kehidupan budaya Pariaman.
Meski begitu, Tambua Tansa tidak hanya berkaitan dengan Tabuik. Di Kabupaten Padang Pariaman, kesenian ini juga digunakan dalam kegiatan masyarakat di tingkat nagari dan korong. Desa Wisata Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, misalnya, mencatat Tambua Tasa sebagai atraksi budaya yang dapat ditampilkan untuk penyambutan tamu, festival, pesta, dan kegiatan tertentu lainnya.
Tambua Tansa dan Anak Nagari
Perkembangan Tambua Tansa di Padang Pariaman juga terlihat dari munculnya berbagai kelompok dan kegiatan yang melibatkan generasi muda. Pada 2025, Sanggar Seni Gonjong Panti Kayu menggelar Silaturahmi Tambua Tasa Panti Kayu di Korong Panti Kayu, Nagari Bisati Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Tambua Tasa masih digunakan sebagai ruang pertemuan dan aktivitas budaya anak nagari.
Sebelumnya, Festival Tambua Tasa Sapa Sapaan Tambua di Desa Cubadak Air, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, pada 2021 mempertemukan 34 grup dari Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Agam. Kegiatan tersebut melibatkan pemuda, niniak mamak, urang sumando, serta masyarakat setempat. Festival semacam ini memberi ruang bagi kelompok-kelompok Tambua Tasa untuk tampil sekaligus mempertemukan pemain dari berbagai daerah yang memiliki tradisi permainan serupa.
Permainan Tambua Tansa juga memperlihatkan bahwa satu kesenian dapat memiliki banyak gaya sesuai tempat tumbuhnya. Di Durian Gadang terdapat gaya permainan kelompok yang memiliki ciri pada lagu Alihan Anam, sedangkan di Pasir Sunur terdapat lagu Sunua dengan struktur permainan tersendiri. Perbedaan tersebut tidak membuat kesenian ini kehilangan bentuk dasarnya sebagai permainan perkusi berkelompok, tetapi justru memperlihatkan kekayaan tradisi musik di kawasan Pariaman.
Bagi masyarakat Padang Pariaman, Tambua Tansa akhirnya tidak hanya terdengar ketika sebuah kelompok tampil di atas panggung. Bunyi tambua dan tasa dapat muncul di jalan ketika rombongan diarak, di halaman ketika acara nagari berlangsung, atau dalam kegiatan budaya yang mempertemukan anak nagari dari berbagai tempat. Keberadaannya masih sangat dekat dengan kegiatan bersama, sehingga perkembangan kesenian ini juga mengikuti bagaimana masyarakat menggunakan dan mengajarkannya.
Di sejumlah nagari, latihan dan pertunjukan menjadi cara bagi pemain muda untuk mengenal pola pukulan sekaligus belajar tampil di tengah masyarakat. Ketika sebuah kelompok Tambua Tansa tampil dalam alek atau festival, yang dibawa bukan hanya seperangkat alat musik perkusi, tetapi juga gaya permainan yang berkembang di lingkungan mereka. Dari sanalah bunyi tambua dan tasa terus memiliki tempat dalam kegiatan budaya Padang Pariaman.
Editor : melatisan
Tag :Tambua Tansa, Padang Pariaman, Mengiringi, Arak-arakan, dan Alek Anak Nagari
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PUPUIK BATANG PADI DI AGAM TUMBUH DARI TRADISI MASYARAKAT SAWAH
-
RONGGENG PASAMAN DI PASAMAN BARAT PADUKAN PANTUN, MUSIK, DAN TARI
-
BAKUREH DI PESISIR SELATAN, TRADISI GOTONG ROYONG DALAM PERSIAPAN ACARA ADAT
-
SALUANG SIROMPAK DAN TRADISI MUSIK YANG BERKEMBANG DI TAEH BARUAH
-
MALAM BAINAI MENJADI BAGIAN PERSIAPAN PERKAWINAN ADAT DI PARIAMAN