HOME VIRAL UNIK

  • Rabu, 30 September 2026

Silek Lanyah Di Padang Panjang Berawal Dari Pengembangan Silek Tuo Gunuang

Silek Lanyah di Padang Panjang Berawal dari Pengembangan Silek Tuo Gunuang

Oleh: Andika Putra Wardana

Silek Lanyah di Kota Padang Panjang dikenal sebagai seni bela diri Minangkabau yang dimainkan di hamparan sawah berlumpur. Atraksi ini berkembang di Kubu Gadang, Kelurahan Ekor Lubuk, Kecamatan Padang Panjang Timur, dengan gerakan silat yang dilakukan di tanah basah dan licin. Pemerintah Kota Padang Panjang mencatat Desa Wisata Kubu Gadang mulai dikembangkan sejak 2014 dan Silek Lanyah menjadi salah satu atraksi utamanya. 

Yang menarik, Silek Lanyah bukan aliran silek lama yang sejak awal memang dimainkan di sawah. Silek Lanyah merupakan hasil pengembangan langkah Silek Tuo Gunuang dan mendapat pengaruh gerak Tari Sakin atau Tari Sewah. Pengembangan tersebut dilakukan masyarakat Kubu Gadang pada 2015, ketika gerakan silek yang sebelumnya dilakukan di tempat kering kemudian disusun menjadi pertunjukan di area persawahan yang lanyah atau berlumpur. 

Silek Lanyah

Kata lanyah merujuk pada kondisi tanah yang basah dan berlumpur. Di Kubu Gadang, arena pertunjukan bukan dibuat seperti gelanggang dengan lantai khusus, melainkan memanfaatkan area persawahan. Permukaan tanah yang licin membuat pesilat harus mengatur posisi kaki, keseimbangan dan serangan secara berbeda dibandingkan saat berlatih di tanah kering. Pemerintah melalui Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata juga mencatat Silek Lanyah sebagai sajian khas Desa Wisata Kubu Gadang yang menggunakan gerakan Silek Tuo Gunuang. 

Gerakan yang ditampilkan dalam Silek Lanyah juga sudah memiliki susunan untuk kebutuhan pertunjukan. Penelitian ISI Padangpanjang mencatat beberapa bentuk gerakan, antara lain Lapak Buayo, Tangkok Lua, Tangkok Dalam, Pilin, Loncek Harimau, Guntiang Kapalo dan Guntiang Kaki. Berbeda dari Silek Tuo Gunuang yang geraknya menyesuaikan serangan lawan dalam konteks bela diri, Silek Lanyah memiliki aturan gerakan yang lebih tetap agar atraksi dapat ditampilkan secara teratur di hadapan penonton. 

Pembedaan itu penting karena Silek Lanyah memang hadir sebagai seni pertunjukan. Kajian di Jurnal Khasanah Ilmu tahun 2024 menyebut pertunjukan tersebut menjadi bagian dari paket wisata edukasi di Desa Wisata Kubu Gadang. Wisatawan tidak hanya melihat pesilat bermain di lumpur, tetapi juga dapat mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat, seperti menanam padi, memandikan kerbau dan menangkap ikan di sawah. Dengan begitu, arena Silek Lanyah berada dalam ruang kehidupan agraris yang masih digunakan masyarakat Kubu Gadang. 

Pertunjukan ini juga melibatkan masyarakat dari beberapa kelompok usia. Data pada laman Jadesta menyebut Silek Lanyah dimainkan oleh tiga generasi masyarakat asli Kubu Gadang, yaitu anak-anak, remaja dan orang dewasa. Keterlibatan beberapa generasi tersebut membuat latihan silek tidak hanya berlangsung sebagai aktivitas seni pertunjukan, tetapi juga menjadi kegiatan yang mempertemukan pemain muda dengan orang-orang yang lebih dahulu mempelajari silek di lingkungan Kubu Gadang. 

Silek Tuo Gunuang

Dasar gerakan Silek Lanyah berkaitan dengan Silek Tuo Gunuang yang berkembang di kawasan Gunuang, Padang Panjang. Penelitian ISI Padangpanjang menyebut Silek Tuo Gunuang sebelumnya dilakukan di tempat kering, terutama halaman surau atau pekarangan di sekitar rumah masyarakat. Pola tersebut berbeda dengan Silek Lanyah yang menggunakan persawahan berlumpur sebagai arena pertunjukan. 

Nama Inyiak Upiak Palatiang juga berkaitan erat dengan sejarah Silek Tuo Gunuang di Kubu Gadang. Penelitian Ari Pardi, Martarosa dan Rafilosa yang diterbitkan pada 2019 mencatat Inyiak Upiak Palatiang sebagai pandeka perempuan Minangkabau yang menguasai aliran Silek Gunuang dan aktif mengajarkan silek tuo. Sementara itu, laman Desa Wisata Kubu Gadang di Jadesta mencatat Silek Tuo Gunuang yang menjadi dasar Silek Lanyah diciptakan Inyiak Upiak Palatiang pada 1915. 

Menurut data Jadesta, minat terhadap Silek Tuo Gunuang sempat kuat di kalangan anak muda pada era 1960-an, tetapi kemudian mengalami penurunan. Angku Datuak Sati, salah seorang niniak mamak di Kubu Gadang yang disebut sebagai murid Inyiak Upiak Palatiang, bersama penggerak Desa Wisata Kubu Gadang kemudian mengembangkan silek tersebut sebagai atraksi wisata pada 2015. Saat itulah arena bersilat dipindahkan dari tanah kering ke sawah berlumpur untuk membentuk pertunjukan yang berbeda dari latihan silek sebelumnya. 

Kubu Gadang

Perubahan bentuk tersebut berjalan bersamaan dengan berkembangnya Kubu Gadang sebagai desa wisata. Pemerintah Kota Padang Panjang menyebut pengembangan kawasan ini dimulai pada 2014, sedangkan berbagai sumber tentang Kubu Gadang mencatat Yuliza Zen sebagai salah satu penggerak pengembangan desa wisata bersama masyarakat setempat. Kegiatan yang ditawarkan tidak hanya berupa pertunjukan budaya, tetapi juga memanfaatkan sawah, kuliner tradisional, permainan anak nagari dan aktivitas keseharian warga sebagai pengalaman wisata. 

Silek Lanyah kemudian menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari Kubu Gadang. Atraksi tersebut menggabungkan gerak silek dengan kondisi persawahan yang licin, sehingga percikan air dan lumpur menjadi bagian dari visual pertunjukan. Pada saat yang sama, keberadaan pesilat anak-anak, remaja dan orang dewasa memperlihatkan bahwa ruang pertunjukan itu masih berkaitan dengan masyarakat Kubu Gadang sendiri, bukan semata-mata menghadirkan pemain dari luar kawasan. 

Di kawasan Kubu Gadang, sawah karena itu tidak hanya tampil sebagai latar pemandangan bagi wisatawan. Sawah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan menanam padi, menangkap ikan dan aktivitas agraris lainnya, sekaligus arena tempat Silek Lanyah dipertunjukkan. Perpindahan gerakan silek ke dalam lumpur membuat hubungan antara seni bela diri Minangkabau dan lingkungan hidup masyarakat setempat terlihat secara langsung, terutama di kawasan Ekor Lubuk, Padang Panjang Timur. 

Silek Lanyah di Padang Panjang pada akhirnya memiliki perjalanan yang cukup jelas. Dasarnya berasal dari Silek Tuo Gunuang, kemudian dikembangkan masyarakat Kubu Gadang pada 2015 menjadi pertunjukan yang dimainkan di sawah berlumpur. Kini atraksi itu berdiri bersama aktivitas pertanian, kuliner dan permainan tradisional dalam lingkungan Desa Wisata Kubu Gadang, membuat penonton tidak hanya melihat gerakan silek, tetapi juga ruang tempat budaya tersebut dipraktikkan.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Silek Lanyah, di Padang Panjang, Berawal dari, Pengembangan, Silek Tuo Gunuang

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com