- Rabu, 7 Oktober 2026
Sijobang Lima Puluh Kota Menghidupkan Kisah Anggun Nan Tongga Lewat Seni Tutur
Sijobang Lima Puluh Kota Menghidupkan Kisah Anggun Nan Tongga Lewat Seni Tutur
Sijobang merupakan kesenian seni tutur yang berkembang di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, dengan salah satu pusat keberadaannya di Nagari Sungai Talang, Kecamatan Guguak. Pertunjukan ini membawakan cerita dalam bentuk dendang dan tutur, terutama kisah Anggun Nan Tongga Magek Jabang, yang dikenal sebagai salah satu kaba dalam tradisi sastra lisan masyarakat setempat. Keunikan Sijobang juga terlihat dari alat pengiringnya yang sederhana, seperti kotak korek api yang dimainkan dengan cara dijentikkan ke lantai.
Sijobang atau Basijobang masuk dalam kategori seni pertunjukan dan pada 2022 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Penetapan tersebut menempatkan Sijobang sejajar dengan sejumlah karya budaya daerah lain yang telah dicatat secara nasional. Di tingkat daerah, Sijobang tercatat sebagai kesenian yang berkembang di Sungai Talang dan menjadi salah satu bagian dari kekayaan seni tradisi Luak Limopuluah.
Sijobang dan Kisah Anggun Nan Tongga
Kisah Anggun Nan Tongga Magek Jabang menjadi bagian penting dalam pertunjukan Sijobang. Cerita tersebut disampaikan oleh seorang tukang Sijobang dengan cara didendangkan. Penyampaian cerita tidak dilakukan seperti membaca teks biasa. Tukang Sijobang harus menguasai alur kaba, irama dendang, serta perubahan bagian cerita agar pertunjukan dapat berlangsung panjang dan tetap mudah diikuti oleh penonton.
Dalam tradisi Sijobang, istilah tukang Sijobang digunakan untuk menyebut orang yang membawakan pertunjukan. Ia memiliki peran utama karena harus menyampaikan cerita sekaligus menjaga irama permainan. Pada bentuk pertunjukan yang menggunakan korek api, pemain dapat memainkan alat sederhana tersebut sambil berdendang. Pola bunyi dari korek api membantu membangun irama dan tempo ketika cerita disampaikan.
Cerita Anggun Nan Tongga sendiri merupakan kaba yang cukup dikenal dalam sastra lisan Minangkabau. Dalam Sijobang yang berkembang di kawasan Lima Puluh Kota, kisah tersebut menjadi materi utama pertunjukan. Karena itu, Sijobang tidak hanya dapat dipahami sebagai nyanyian tradisional, tetapi juga sebagai cara masyarakat menyampaikan cerita panjang melalui kemampuan seorang pencerita.
Pembukaan pertunjukan Sijobang juga memiliki bagian pantun yang dikenal sebagai pantun pasombahan. Bagian tersebut dapat berisi pantun muda, pantun bergurau, serta pantun yang berkaitan dengan tuan rumah atau acara tempat pertunjukan berlangsung. Setelah bagian pembuka, tukang Sijobang melanjutkan cerita sesuai alur kaba yang dibawakan.
Korek Api Menjadi Pengiring
Salah satu hal yang membuat Sijobang berbeda dari sejumlah kesenian kaba Minangkabau lainnya adalah penggunaan korek api sebagai pengiring. Kotak korek api kayu dapat dijentikkan ke lantai menggunakan jari sehingga menghasilkan bunyi ritmis. Alat sederhana tersebut tidak digunakan untuk menghasilkan melodi seperti alat musik berdawai atau alat musik tiup, tetapi berfungsi mengikuti irama dendang yang dibawakan tukang Sijobang.
Selain korek api, terdapat pula bentuk pengembangan Sijobang yang menggunakan kucapi atau kecapi. Kucapi merupakan alat musik berdawai yang berkembang di kawasan Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Penggunaan kucapi memberikan warna berbeda karena alat tersebut dapat berfungsi sebagai pengiring melodi bagi dendang yang dibawakan dalam pertunjukan Basijobang.
Keberadaan dua bentuk pengiring tersebut menunjukkan bahwa penyajian Sijobang tidak selalu menggunakan satu perangkat musik yang sama. Bentuk yang menggunakan korek api memperlihatkan kesederhanaan perangkat pertunjukan, sedangkan penggunaan kucapi memberikan kemungkinan pengembangan musikal yang lebih luas. Namun, unsur utama Sijobang tetap berada pada kemampuan tukang Sijobang dalam menyampaikan cerita melalui dendang.
Seni tutur seperti Sijobang membutuhkan kemampuan mengingat cerita dalam jumlah panjang. Tukang Sijobang tidak hanya menyanyikan beberapa bait pendek, tetapi membawa penonton mengikuti rangkaian peristiwa dalam kaba. Karena itu, penguasaan bahasa Minangkabau, irama dendang, dan alur cerita menjadi bagian penting dari kemampuan seorang tukang Sijobang.
Sijobang di Sungai Talang
Nagari Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, menjadi salah satu wilayah yang dikenal dengan keberadaan Sijobang. Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota juga mencatat Sijobang sebagai karya budaya yang berasal dari Sungai Talang. Di daerah tersebut, keberadaan seniman seperti Asrul Dt. Kodo ikut mempertahankan pertunjukan ini hingga dikenal lebih luas.
Asrul Dt. Kodo mendapat pengakuan sebagai Maestro Seni Tradisi dalam Apresiasi Kebudayaan Indonesia 2022. Ia dikenal sebagai salah seorang pelaku Sijobang yang masih aktif mempertunjukkan dan mengajarkan kesenian tersebut. Perjalanannya mempelajari Sijobang dimulai sejak masih muda dan kemudian dilanjutkan dengan berguru kepada seniman yang memiliki hubungan dengan tradisi Sijobang di wilayah tersebut.
Sijobang dahulu dapat hadir dalam kegiatan masyarakat seperti perhelatan, pesta perkawinan, dan acara adat. Pertunjukan juga dikenal berlangsung di rumah penduduk atau di lepau. Dalam beberapa bentuk penyelenggaraan, pertunjukan dapat berlangsung pada malam hari hingga mendekati pagi. Durasi yang panjang berkaitan dengan sifat cerita yang dibawakan, sebab satu kaba membutuhkan waktu untuk disampaikan secara utuh.
Kehadiran Sijobang dalam acara masyarakat membuat seni tutur ini memiliki hubungan dengan kehidupan sosial di lingkungan pendukungnya. Ketika sebuah keluarga mengadakan alek, tukang Sijobang dapat menjadi bagian dari hiburan sekaligus pembawa cerita. Penonton tidak hanya mendengarkan irama dendang, tetapi mengikuti tokoh dan peristiwa yang terdapat dalam kaba.
Perkembangan hiburan modern ikut memengaruhi keberadaan Sijobang di Lima Puluh Kota. Pertunjukan yang dahulu dapat mengisi malam dalam sebuah perhelatan kini harus bersaing dengan bentuk hiburan lain, termasuk musik dengan perangkat elektronik. Kondisi tersebut membuat kesempatan tampil bagi tukang Sijobang menjadi lebih terbatas dibandingkan masa ketika kesenian ini lebih sering hadir dalam acara masyarakat.
Kondisi pewarisan juga menjadi perhatian karena Sijobang membutuhkan proses belajar yang tidak singkat. Calon tukang Sijobang harus mengenal cerita, bahasa, pola dendang, serta cara memainkan pengiring yang digunakan. Asrul Dt. Kodo menjadi salah satu tokoh yang mendapat perhatian karena konsisten mempertahankan kesenian ini sekaligus diharapkan dapat membantu mengenalkan Sijobang kepada generasi muda.
Penetapan Sijobang sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 memberi catatan penting bagi kesenian yang tumbuh di Nagari Sungai Talang tersebut. Namun, keberadaan sertifikat tidak otomatis membuat sebuah kesenian terus dimainkan. Pertunjukan tetap membutuhkan tukang Sijobang, ruang tampil, dan generasi yang bersedia mempelajarinya.
Di Lima Puluh Kota, Sijobang masih dapat dikenali melalui suara tukang Sijobang yang membawa kaba dengan dendang dan iringan sederhana. Korek api yang dijentikkan ke lantai mungkin terlihat sebagai benda biasa, tetapi dalam pertunjukan Sijobang bunyi kecil itu menjadi bagian dari pengiring cerita panjang Anggun Nan Tongga. Dari Nagari Sungai Talang, kesenian tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau menyimpan cerita melalui suara, irama, dan kemampuan seorang pencerita.
Editor : melatisan
Tag :Sijobang, Lima Puluh Kota, Menghidupkan Kisah, Anggun Nan Tongga, Lewat Seni Tutur
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
ALEK BAKAJANG GUNUANG MALINTANG, TRADISI PERAHU YANG MERAMAIKAN LEBARAN DI LIMA PULUH KOTA
-
TAMBUA TANSA PADANG PARIAMAN MENGIRINGI ARAK-ARAKAN DAN ALEK ANAK NAGARI
-
PUPUIK BATANG PADI DI AGAM TUMBUH DARI TRADISI MASYARAKAT SAWAH
-
RONGGENG PASAMAN DI PASAMAN BARAT PADUKAN PANTUN, MUSIK, DAN TARI
-
BAKUREH DI PESISIR SELATAN, TRADISI GOTONG ROYONG DALAM PERSIAPAN ACARA ADAT