HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 6 Oktober 2026

Ronggeng Pasaman Di Pasaman Barat Padukan Pantun, Musik, Dan Tari

Ronggeng Pasaman di Pasaman Barat Padukan Pantun, Musik, dan Tari

Oleh: Andika Putra Wardana

Ronggeng Pasaman merupakan kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Pertunjukan ini memadukan pantun, nyanyian, tari atau joget, serta iringan musik seperti biola, gitar, rebana, dan tamburin. Di Pasaman Barat, Ronggeng Pasaman tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok etnis sehingga bentuk keseniannya memperlihatkan pertemuan budaya Minangkabau, Mandailing, dan Jawa.

Ronggeng Pasaman juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia untuk kategori seni pertunjukan. Penetapan tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 270/P/2014 dengan Kabupaten Pasaman Barat sebagai wilayah yang dicatat dalam data warisan budaya tersebut.

Sejarah Ronggeng Pasaman

Sejarah perkembangan Ronggeng Pasaman tidak dapat dilepaskan dari kondisi Pasaman Barat sebagai wilayah yang memiliki pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Dokumentasi Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat cerita dari pelaku sejarah yang mengaitkan awal perkembangan Ronggeang dengan kawasan Aia Dingin di sekitar perkebunan Ophir. Sekitar 1942, para opas asal Jawa yang ditempatkan untuk menjaga perkebunan disebut mengisi waktu dengan bernyanyi dan menggunakan benda sederhana seperti kaleng sebagai alat bunyi. Dalam perkembangannya, bentuk hiburan tersebut menggunakan instrumen seperti biola, gendang dua, botol, dan tamburin.

Cerita tersebut merupakan penuturan mengenai perkembangan awal kesenian, sehingga tidak dapat diperlakukan sama dengan catatan sejarah dokumenter mengenai tahun kelahirannya. Yang lebih jelas terlihat dalam perkembangan Ronggeng Pasaman adalah proses percampuran budaya yang berlangsung di wilayah Pasaman. Kajian kebudayaan mengenai kesenian ini mencatat bahwa masyarakat pendukungnya berasal dari lingkungan Minangkabau dan Mandailing, sementara pengaruh Jawa juga terlihat dalam penamaan ronggeng serta sejarah perkembangannya.

Kondisi tersebut membuat Ronggeng Pasaman memiliki ciri yang berbeda dari ronggeng yang berkembang di Jawa. Dalam pertunjukannya, bahasa yang digunakan dapat berupa bahasa Minangkabau dialek Pasaman dan pada daerah tertentu bercampur dengan bahasa Mandailing. Irama dendang dan musik pengiringnya juga memiliki karakter Minang-Melayu. Karena itu, istilah Ronggeng Pasaman tidak hanya menunjukkan nama sebuah pertunjukan, tetapi juga merujuk pada bentuk kesenian yang berkembang sesuai lingkungan sosial budaya Pasaman.

Pantun, Tari, dan Musik

Pantun menjadi salah satu bagian utama dalam Ronggeng Pasaman. Pantun tidak hanya dibacakan, tetapi didendangkan atau dinyanyikan mengikuti irama musik. Dalam pertunjukan, seorang ronggeng memiliki kemampuan berpantun dan menjadi salah satu pusat interaksi dengan penampil lainnya. Balasan pantun dapat berlangsung secara spontan sehingga pertunjukan juga menjadi ruang bagi pemain untuk merespons keadaan di sekitar mereka.

Unsur tari hadir bersamaan dengan dendang dan pantun. Penampil bergerak atau berjoget mengikuti irama musik yang dimainkan. Dalam bentuk pertunjukan yang terdokumentasi di Pasaman, terdapat seorang ronggeng yang mendendangkan pantun dan sejumlah penampil laki-laki yang ikut menari serta memberikan balasan. Struktur tersebut menunjukkan bahwa Ronggeng Pasaman tidak berdiri sebagai seni musik atau seni tari saja, melainkan menggabungkan beberapa bentuk ekspresi dalam satu pertunjukan.

Iringan musik Ronggeng Pasaman juga memiliki sejumlah alat yang dikenal dalam pertunjukan kesenian tersebut. Biola, gitar, rebana, dan tamburin menjadi instrumen yang digunakan dalam beberapa bentuk pertunjukan. Dalam perkembangannya, terdapat pula kelompok yang mengemas Ronggeng Pasaman dengan alat musik yang lebih modern. Kajian mengenai bentuk pertunjukannya mencatat adanya dua kecenderungan penyajian, yakni bentuk yang mempertahankan unsur tradisi dan bentuk yang menyesuaikan diri dengan penggunaan musik modern.

Ronggeng dalam Kehidupan Masyarakat Pasaman Barat

Di Pasaman Barat, Ronggeng Pasaman dapat hadir dalam kegiatan masyarakat seperti baralek. Salah satu dokumentasi pertunjukan terdapat di Kanagarian Aua Kuniang, tempat Ronggiang Pasaman dikaitkan dengan acara perkawinan dan kegiatan malam memasak atau mamasak serta maaghak-aghak. Pertunjukan tersebut berlangsung di ruang terbuka pada malam hari dan memperlihatkan hubungan Ronggiang dengan kegiatan sosial masyarakat setempat.

Ronggeng Pasaman juga ditemukan dalam kehidupan masyarakat di Nagari Aua Kuniang, Jorong Padang Tujuh. Bentuk pertunjukannya melibatkan penari laki-laki yang sekaligus berdendang dengan pantun, termasuk seorang penampil yang mengambil peran sebagai perempuan dan dikenal dengan sebutan biduan atau anak Ronggiang. Bentuk tersebut merupakan bagian dari praktik Ronggiang yang berkembang di lingkungan masyarakat Pasaman Barat, bukan ketentuan yang dapat digeneralisasi untuk semua kelompok Ronggeng Pasaman di setiap daerah.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Ronggeng Pasaman juga menarik karena tumbuh di wilayah dengan keberagaman etnis. Kabupaten Pasaman Barat dihuni antara lain oleh masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Jawa. Pertemuan kelompok masyarakat tersebut ikut membentuk karakter kesenian Ronggeng Pasaman, terutama pada bahasa, musik, pantun, dan unsur pertunjukannya. Karena itu, Ronggeng Pasaman sering ditempatkan sebagai salah satu kesenian yang memperlihatkan proses pembauran masyarakat di Pasaman Barat.

Keberadaan Ronggeng Pasaman di Pasaman Barat memperlihatkan bagaimana sebuah pertunjukan rakyat dapat berkembang dari lingkungan sosial yang beragam. Pantun memberi ruang untuk berbalas kata, musik menjaga irama pertunjukan, sedangkan tari membuat interaksi berlangsung dalam bentuk gerak. Di wilayah seperti Pasaman Barat, ketiga unsur tersebut kemudian bertemu dengan latar budaya Minangkabau, Mandailing, dan Jawa dalam bentuk kesenian yang memiliki ciri tersendiri.

Bagi masyarakat yang masih menggelarnya, Ronggeng Pasaman bukan hanya tontonan dengan musik dan tarian. Pertunjukan ini juga menjadi bagian dari kegiatan sosial seperti baralek di sejumlah nagari Pasaman Barat. Pantun yang disampaikan secara langsung membuat pertunjukan dapat berkembang mengikuti situasi dan orang-orang yang hadir, sehingga setiap pementasan dapat memiliki dinamika yang berbeda.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Ronggeng Pasaman, di Pasaman Barat, Padukan Pantun, Musik, dan Tari

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com