- Sabtu, 4 Oktober 2025
Nagari Surian: Dari Sejuknya Alam Ke Gurihnya Kacang Khas
Nagari Surian: Dari Sejuknya Alam ke Gurihnya Kacang Khas
Oleh: Andika Putra Wardana
Di jalur penghubung antara Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan, berdiri sebuah nagari bernama Surian. Lokasinya strategis, menjadi titik singgah penting bagi para pelintas yang bepergian dari arah Padang dan Solok menuju Solok Selatan atau sebaliknya. Udara Surian sejuk, hamparan sawah hijau dan kebun masyarakat terbentang luas, sementara aktivitas warganya masih kental dengan nuansa pedesaan. Mungkin nama Surian belum sepopuler nagari wisata seperti Pariangan atau Koto Gadang, tapi bagi siapa saja yang pernah singgah, ada satu hal yang selalu diingat yaitu kacang Surian.
Sejak lama, Surian dikenal sebagai daerah pertanian. Masyarakatnya hidup dari sawah, kebun, dan hasil bumi. Namun, dari sekian banyak komoditas lokal, ada satu yang menonjol, kacang tanah yang diolah menjadi camilan khas. Warga menyebutnya dengan bangga sebagai kacang Surian. Kudapan ini bukan sekadar makanan ringan, melainkan identitas nagari. Hampir setiap perantau yang pulang kampung, atau tamu yang berkunjung, selalu membawa kacang Surian sebagai oleh-oleh.
Apa Itu Kacang Surian?
Kacang Surian sebenarnya adalah kacang tanah lokal yang dipilih dari kualitas terbaik, lalu diolah dengan cara digoreng atau dipanggang. Bentuknya sederhana, tapi justru di situlah letak kekhasannya. Gurih, renyah, dan aromanya khas, membuat siapa saja yang mencicipi sulit berhenti. Beberapa pelaku usaha di Surian, seperti Pondok Kacang H. Arifin, bahkan sudah mendapatkan sertifikat halal, menandakan pengolahan yang higienis dan memenuhi standar.
Kapan dan Bagaimana Dinikmati?
Kacang Surian paling sering hadir sebagai teman santai, saat berkumpul keluarga, menemani obrolan di warung kopi, atau jadi bekal perjalanan. Karena sifatnya ringan dan awet, kacang ini cocok dijadikan oleh-oleh. Tidak jarang pula kacang Surian dijual di pasar-pasar tradisional hingga toko oleh-oleh di kota besar, menjadi salah satu wajah kuliner khas Solok Selatan.
UMKM lokal dan masyarakat nagari lah yang menjaga eksistensi kacang Surian. Dari ibu-ibu rumah tangga yang menggoreng dalam jumlah kecil, hingga industri rumahan yang memproduksi dalam skala lebih besar, semua berkontribusi menjadikan kacang ini ikon Surian. Setiap bungkus kacang Surian yang berpindah tangan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal keberlangsungan ekonomi nagari.
Kenapa Penting bagi Surian?
Bagi masyarakat, kacang Surian adalah simbol kebanggaan sekaligus sumber penghidupan. Ia bukan sekadar camilan, tapi produk identitas yang memperkenalkan Surian ke luar daerah. Sama seperti rendang yang jadi ikon Minangkabau, kacang Surian adalah pintu masuk bagi orang luar untuk mengenal nagari ini.
Nagari Surian menunjukkan bahwa sebuah nagari bisa dikenal bukan hanya dari alamnya, tapi juga dari kudapan sederhana yang lahir dari tanahnya. Dari sawah yang subur hingga tangan-tangan cekatan pengolah kacang, lahirlah sebuah camilan yang melekat di hati perantau dan pengunjung, kacang Surian. Gurihnya bukan hanya di lidah, tapi juga di ingatan, karena setiap gigitannya membawa cerita tentang nagari kecil yang menyimpan kebanggaan besar.
Editor : melatisan
Tag :#Kacang Surian
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
12 KUE DAN JAJANAN MANIS KHAS MINANGKABAU YANG MULAI LANGKA, RASANYA BIKIN RINDU KAMPUANG
-
10 LAUK KHAS MINANG SELAIN RENDANG YANG WAJIB DICICIPI PERANTAU
-
10 GULAI PALING IKONIK DARI RANAH MINANG: DARI PAKU SAMPAI GAJEBO
-
NAGARI SUNGAYANG: JEJAK TUA MINANGKABAU YANG MENJAGA WARISAN “TANJUANG NAN AMPEK”
-
15 KULINER MINANGKABAU YANG WAJIB DICICIPI: JEJAK RASA YANG TERSIMPAN DALAM TRADISI, ALAM, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN PADA FURNITURE BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
-
DIMANA MUSEUM KOTA BUKITTINGGI?
-
"ANAK DARO" DIKLAIM KOPI KERINCI JAMBI OLEH ROEMAH KOFFIE, POTENSI PENCAPLOKAN BUDAYA MINANG PICU KONTROVERSI
-
MEMBUMIKAN KOPI MINANG: DARI SEJARAH 1840 HINGGA GERAKAN MENANAM KAUM
-
FWK MEMBISIKKAN KEBANGSAAN DARI DISKUSI-DISKUSI KECIL