HOME VIRAL UNIK

  • Sabtu, 29 November 2025

10 Lauk Khas Minang Selain Rendang Yang Wajib Dicicipi Perantau

Lauk Khas Minang
Lauk Khas Minang

10 Lauk Khas Minang Selain Rendang yang Wajib Dicicipi Perantau

Oleh: Andika Putra Wardana


Ketika membicarakan kuliner Minangkabau, rendang sering menjadi ikon utamanya. Namun di balik kepopuleran itu, dapur Minang menyimpan ratusan lauk lain yang tak kalah memikat, rasa pedas, gurih, aromatik, dan diracik dengan teknik memasak yang diwariskan turun-temurun. Dari lembah yang sejuk hingga nagari-nagari pesisir, orang Minang selalu menjadikan masakan sebagai bagian dari identitas dan ruang rindu, terutama bagi perantau.

Inilah 10 lauk Minang selain rendang yang wajib kamu cicipi atau kamu cari ketika rindu pulang tapi masih jauh dari kampung halaman.

1. Itiak Lado Mudo

Hidangan khas Koto Gadang dan Sungai Tanang ini memakai itik kampung yang dimasak dengan cabe hijau giling. Rasanya pedas-segar dengan aroma daun jeruk yang kuat. Teknik memasaknya lama dan bertahap sehingga daging itik menjadi lembut tanpa hilang karakter liarnya. Ini salah satu lauk paling autentik dari Luhak nan Tuo.

2. Dendeng Batokok

Dendeng yang ditokok hingga pipih ini bisa dibuat versi basah maupun kering. Setelah dipukul, daging dipanggang atau digoreng, lalu disiram sambal lado merah yang segar. Aromanya harum, pedasnya menyengat, dan teksturnya lembut, ciri khas dendeng Minang yang tidak tergantikan.

3. Cancang Karani

Lauk klasik dari Lintau Buo ini memakai potongan daging kecil yang dimasak hingga bumbu menyusut total. Teknik karani membuat cancang terasa pekat, pedas, dan punya aroma kuat dari rempah. Ini jenis lauk yang membuat orang Minang merasa “sapiriang nasi ndak cukuik.”

4. Rendang Tumbuk

Rendang versi “bulat” ini dibuat dari daging giling yang dicampur kelapa sangrai, lalu dimasak dalam santan berbumbu hingga mengering. Teksturnya lembut, rasanya gurih dengan aroma sangrai yang khas. Hidangan ini mudah dibawa, tahan lama, dan sering jadi bawaan perantau.

5. Gajebo (Gajeboh)

Terbuat dari punuk sapi yang kaya lemak, gajebo dimasak dalam kuah asam pedas tanpa santan. Lemaknya meleleh di mulut, kuahnya pedas-segar, dan aromanya menggoda. Banyak orang Minang menyebut gajebo sebagai “kasta tertinggi” gulai Padang.

6. Gulai Babek (Babat)

Babat sapi dimasak dengan santan kental, kunyit, lengkuas, jahe, serta cabai giling. Tantangannya ada pada menghilangkan amis sekaligus membuat babat empuk. Jika dimasak dengan benar, gulai ini menyajikan sensasi gurih pedas dengan tekstur kenyal yang adiktif.

7. Ayam Pop

Ikon Masakan Padang yang terkenal karena warnanya putih pucat. Ayam direbus dengan bawang putih, serai, dan daun jeruk sebelum digoreng sebentar. Rasanya ringan tapi gurih, cocok dipadukan dengan sambal merah yang pedas dan segar. Ayam pop adalah bukti bahwa masakan Minang tidak selalu harus “berbumbu berat”.

8. Ayam Koto Gadang (Ayam Lado Hijau)

Berbeda dari banyak hidangan ayam Minang lainnya, Ayam Koto Gadang menghadirkan karakter rasa yang segar dan pedas tanpa memakai santan. Hidangan khas nagari Koto Gadang, Bukittinggi, ini dimasak dengan cabe hijau giling dalam jumlah melimpah, memberi warna hijau cerah sekaligus aroma yang kuat. Daging ayam dimasak perlahan bersama bawang merah, bawang putih, jahe, dan daun jeruk sehingga bumbunya meresap hingga ke serat terdalam. Rasanya pedas, segar, dan aromatik, jenis lauk yang membuat nasi terasa “hilang” tanpa sadar. Ayam Koto Gadang kerap disebut juga ayam lado mudo versi dapur darek, dan sampai sekarang masih menjadi menu favorit di banyak rumah makan Padang.

9. Pangek Simancuang

Lauk berumur ratusan tahun ini dimasak tanpa santan. Rasa pedas-asamnya berasal dari bumbu segar dan kunyit. Warna kuning cerah dan aromanya yang khas membuat pangek Simancuang menjadi kuliner identitas Nagari Simancuang, Solok Selatan. Cocok bagi pencinta masakan Minang non-santan yang tetap kaya rasa.

10. Gulai Tunjang (Kikil)

Di hampir semua rumah makan Padang, gulai tunjang adalah “pemain utama” setelah rendang. Tunjang kikil atau urat kaki sapi dimasak lama dalam kuah santan kental bersama kunyit, lengkuas, serai, bawang, dan cabai giling. Teksturnya lembut, kenyal, dan menyerap bumbu dengan sempurna. Kuahnya gurih-pedas, pekat, dan harum. Ini jenis lauk yang sering dirindukan perantau, terutama karena tidak banyak daerah lain yang mampu meniru rasa gulai tunjang ala Minang yang otentik.

Dari itik, ayam, jeroan, hingga dendeng, kuliner Minang menunjukkan bahwa rasa adalah bagian dari identitas. Untuk perantau, makanan bukan cuma soal perut, tetapi cara paling sederhana untuk merasakan rumah.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Lauk Khas Minang, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kita

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com