- Jumat, 27 Februari 2026
Nagari Tuo Pariangan: Sejarah Nagari Terindah Yang Jadi Cikal Bakal Minangkabau
Nagari Tuo Pariangan: Sejarah Nagari Terindah yang Jadi Cikal Bakal Minangkabau
Oleh: Dzaky Herry Marino
Begitu melewati jalan berkelok dari arah Batusangkar menuju kaki Gunung Marapi, pemandangan hijau yang terbentang nyaris selalu membuat siapa saja berhenti sejenak. Di sinilah Sejarah Nagari Tuo Pariangan sebagai desa terindah terasa kuat, bukan hanya karena lanskapnya yang memesona, tetapi juga cerita panjang yang mengikat masyarakat Minangkabau dengan tanah leluhur mereka. Nagari Tuo Pariangan bukan sekadar desa wisata di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, melainkan sebuah tempat yang disebut dalam tambo sebagai permukiman pertama masyarakat Minangkabau di lereng Merapi.
Saat pertama kali tiba di nagari ini, suasana sejuk udara pegunungan langsung menyapa. Hamparan sawah yang subur, rumah-rumah gadang khas dengan atap gonjongnya yang runcing, serta pepohonan yang rimbun memperlihatkan warisan budaya dan alam yang begitu terjaga. Tidak heran jika nagari ini pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terindah di dunia oleh majalah pariwisata internasional dari New York, Travel Budget, pada tahun 2012.
Penduduk setempat kerap bercerita bahwa nagari ini merupakan tempat pertama permukiman nenek moyang Minangkabau bermula. Dalam tambo, cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, disebutkan bahwa leluhur Minang datang dari lereng Gunung Marapi dan memilih Pariangan sebagai tempat tinggal pertama mereka setelah air surut dari sekitar pegunungan itu. Makna dari tradisi lisan ini makin kuat ketika para tetua nagari masih bisa membacakan pantun lokal yang menggambarkan asal usul tersebut.
Sejarah Nagari Tuo Pariangan tidak hanya penting dari sisi budaya, tetapi juga dari sisi struktur sosial. Tempat ini dianggap sebagai asal mula sistem pemerintahan nagari, sebuah bentuk pemerintahan lokal yang kemudian berkembang di seluruh Ranah Minang sebelum undang-undang desa memperkenalkan sistem yang berbeda pada 1980-an.
Kenapa Nagari Tuo Pariangan disebut ‘desa terindah’? Jawabannya ada pada kombinasi unsur alam dan budaya yang berpadu dengan alami. Dari jalan utama menuju nagari, pengunjung disuguhi pemandangan sawah yang luas dan hijau. Rumah-rumah tradisional dibangun mengikuti kontur lereng, menciptakan pola kampung yang rapi dan unik, seakan rumah-rumah itu tumbuh dengan sendirinya dari tanah yang subur.
Kehidupan sehari-hari masyarakatnya juga menyimpan kearifan lokal yang khas. Masyarakat Nagari Pariangan masih menjalankan tradisi adat, melakukan pertanian secara gotong-royong, serta menjaga nilai-nilai budaya Minangkabau yang telah hidup selama berabad-abad. Bahkan kuliner, seni, dan tarian lokal turut menjadi bagian dari daya tarik nagari ini bagi wisatawan.
Tanda-tanda sejarah dapat ditemui di berbagai sudut nagari. Ada situs budaya seperti sawah pertama yang dibuka oleh leluhur masyarakat Minangkabau, memperlihatkan bahwa lapisan sejarah di Pariangan bukan sekadar legenda. Di tengah nagari pula, beberapa rumah adat kuno masih berdiri tegak, menjadi saksi bisu perjalanan panjang komunitas yang menjaga warisan leluhur mereka.
Menjelang sore, saat bayangan gunung memanjang di sela-sela rumah, Nagari Tuo Pariangan tampak seperti lukisan hidup, sebuah tempat di mana sejarah, alam, dan budaya saling berpadu tanpa sekat. Bukan sekadar desa wisata, nagari ini adalah tonggak identitas masyarakat Minangkabau yang terus hidup dan beradaptasi, sekaligus bukti bahwa keindahan alam dan cerita sejarah bisa berjalan beriringan dalam keseharian warga lokal.
Editor : melatisan
Tag :Nagari Tuo, Pariangan, Sejarah, Nagari Terindah, Cikal Bakal, Minangkabau
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SEJARAH KABUPATEN SIJUNJUNG DAN TRANSFORMASI DARI SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG
-
DINAMIKA PERUBAHAN ADAT MINANG DI ERA MODERN: ANTARA TRADISI DAN ZAMAN YANG BERGERAK CEPAT
-
HUKUM WARIS DALAM TRADISI MINANGKABAU: KETIKA GARIS IBU MENJADI PENENTU
-
HUBUNGAN ADAT BASANDI SYARAK DAN SYARIAT ISLAM DI MINANGKABAU
-
MAKNA FILOSOFIS RANGKIANG DI HALAMAN RUMAH GADANG YANG TAK SEKADAR LUMBUNG
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN