- Minggu, 30 November 2025
12 Kue Dan Jajanan Manis Khas Minangkabau Yang Mulai Langka, Rasanya Bikin Rindu Kampuang
12 Kue dan Jajanan Manis Khas Minangkabau yang Mulai Langka, Rasanya Bikin Rindu Kampuang
Oleh: Andika Putra Wardana
Sumatera Barat dikenal luas dengan rendang, gulai, dan dendeng, tapi di balik kekuatan rasa pedas-gurihnya, ada satu dunia kuliner lain yang sering luput dari sorotan, kue dan jajanan manis tradisional Minangkabau.
Ragamnya banyak, prosesnya unik, dan hampir semuanya lahir dari dapur-dapur kayu di nagari.
Sayangnya, sebagian besar jajanan ini kini mulai jarang terlihat di pasar. Banyak yang tersisih oleh kue modern, padahal dulunya menjadi sajian wajib saat baralek, batagak gala, hingga pitih habis di surau.
Berikut 12 kue dan jajanan Minang yang makin langka, tapi tetap dicari karena kelezatannya yang khas.
1. Pinyaram
Kue bundar ini terbuat dari campuran tepung beras, gula aren, dan santan. Dulu wajib hadir saat pesta adat.
Pinyaram punya dua jenis: kuning dan hitam (yang lebih langka karena memakai beras hitam).
Teksturnya renyah di luar, lembut di tengah. Saat digoreng di tungku kayu, aromanya langsung mengisi dapur.
2. Kacimuih
Terbuat dari singkong kukus yang ditumbuk, disajikan dengan parutan kelapa muda dan siraman gula aren cair. Inilah jajanan yang paling menggambarkan kesederhanaan orang Minang. Ketika panas, aromanya wangi sekali dan di kampuang, kacimuih sering jadi “sarapan buru-buru” sebelum ke sawah.
3. Kue Mangkuak
Bentuknya seperti mangkuk kecil—itulah asal namanya. Terbuat dari tepung beras, santan, dan gula, lalu dikukus dalam wadah cilik. Teksturnya lembut, rasanya manis ringan. Biasanya dimakan dengan parutan kelapa putih. Sayangnya, kue mangkuak sekarang jarang dibuat karena minim penjualnya.
4. Kue Talam
Di Minangkabau, talam sering berwarna putih-coklat atau hijau-putih. Lapisan bawahnya lebih padat, lapisan atasnya lembut dengan rasa santan kuat. Sering hadir dalam baralek dan pertemuan keluarga. Sekarang makin jarang ada yang membuat talam dengan cara tradisional.
5. Bareh Randang
Beras sangrai ditumbuk bersama kelapa dan gula.
Camilan ini renyah, manis, dan tahan lama, makanya sering dijadikan bekal merantau. Cara membuatnya perlu tenaga ekstra karena harus ditumbuk sampai halus dan pulen.
6. Galamai
Dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota, galamai mirip dodol namun lebih pekat. Dibuat dari tepung beras ketan, santan, dan gula aren. Pengadukannya bisa berjam-jam, bahkan sampai berbelas jam jika dalam jumlah besar. Rasanya legit, teksturnya kenyal-lembut, sangat khas Minang.
7. Lamang
Lamang dibuat dengan memasak ketan dalam ruas bambu, dilapisi daun pisang, lalu dibakar.
Biasanya disajikan dengan tapai, gula merah, atau kelapa parut.
Ada banyak variasi, termasuk lamang pisang dan lamang bakujuik dari Batipuh.
8. Lamang Bakujuik
Berbeda dari lamang biasa, lamang bakujuik dipadatkan setelah dimasak, lalu dikukus ulang dalam bungkus daun pisang. Rasanya gurih-manis, teksturnya lebih padat dan kenyal. Hanya muncul pada Idul Fitri dan Idul Adha, sehingga selalu dinanti.
9. Layu-Layu
Manisa ini muncul ketika panen padi, dibuat dari padi yang belum terlalu masak. Padi digongseng, ditumbuk, diayak, lalu dicampur gula aren dan ditumbuk kembali. Terakhir diberi parutan kelapa putih. Rasanya manis-gurih, mirip emping tapi lebih natural dan wangi.
10. Kareh-Kareh
Terbuat dari tepung yang dicampur gula dan digoreng hingga kering.
Rasanya manis ringan, renyah, dan cocok sebagai camilan. Kareh-kareh sering dibawa merantau sebagai pengingat kampung halaman.
11. Arai Pinang
Kue tipis renyah berbahan beras ketan yang digoreng hingga garing. Rasanya gurih-manis, sering jadi teman kopi pagi. Kini pembuatnya tak banyak lagi, sehingga arai pinang mulai langka.
12. Bubur Kampiun
Walau masih sering ditemukan di bulan Ramadan, bubur kampiun sebenarnya sudah makin jarang menjadi santapan harian. Isinya lengkap seperti bubur sumsum, bubur candil, kolak pisang, kolak ubi, dan ketan. Rasanya manis lembut, cocok sebagai penutup atau sarapan.
Kue dan jajanan Minang bukan sekadar makanan manis, mereka adalah bentuk memori kolektif dan bagian penting dari identitas budaya minang.
Jika jajanan ini hilang, hilang pula satu lapis budaya Minangkabau. Karena itu, setiap gigitan pinyaram atau kacimuih bukan hanya soal rasa, tetapi penghubung antara kita, masa kecil, dan kampung halaman yang selalu dirindukan.
Kalau suatu hari kamu pulang ka kampuang, jangan lupa cari jajanan-jajanan ini. Karena sebelum rasanya hilang dari lidah, siapa tahu justru kampuang yang lebih dulu hilang dari ingatan.
Editor : melatisan
Tag :Kue, Jajanan Manis, Khas Minangkabau, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Syarak
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
10 LAUK KHAS MINANG SELAIN RENDANG YANG WAJIB DICICIPI PERANTAU
-
10 GULAI PALING IKONIK DARI RANAH MINANG: DARI PAKU SAMPAI GAJEBO
-
NAGARI SUNGAYANG: JEJAK TUA MINANGKABAU YANG MENJAGA WARISAN “TANJUANG NAN AMPEK”
-
15 KULINER MINANGKABAU YANG WAJIB DICICIPI: JEJAK RASA YANG TERSIMPAN DALAM TRADISI, ALAM, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
SUNGAI TARAB: NAGARI TUA YANG MENJADI PUSAT LAREH KOTO PILIANG
-
PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN PADA FURNITURE BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
-
DIMANA MUSEUM KOTA BUKITTINGGI?
-
"ANAK DARO" DIKLAIM KOPI KERINCI JAMBI OLEH ROEMAH KOFFIE, POTENSI PENCAPLOKAN BUDAYA MINANG PICU KONTROVERSI
-
MEMBUMIKAN KOPI MINANG: DARI SEJARAH 1840 HINGGA GERAKAN MENANAM KAUM
-
FWK MEMBISIKKAN KEBANGSAAN DARI DISKUSI-DISKUSI KECIL