HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 13 Oktober 2026

Mandoa Turun Ka Sawah Di Sijunjung Mengiringi Persiapan Musim Tanam

Mandoa Turun Ka Sawah di Sijunjung Mengiringi Persiapan Musim Tanam

Oleh: Andika Putra Wardana

Tradisi mandoa turun ka sawah berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Minangkabau mengadakan doa bersama menjelang kegiatan pertanian. Di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, tradisi ini dapat dibahas dalam konteks hubungan antara kehidupan bertani, agama, dan kebersamaan warga nagari. Doa menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat sebelum mengolah sawah, sementara persiapan musim tanam juga membutuhkan kesepakatan mengenai waktu kerja dan pengelolaan lahan.

Namun, pelaksanaan mandoa turun ka sawah tidak dapat dianggap seragam di seluruh Sijunjung. Tata cara, waktu pelaksanaan, makanan yang disediakan, serta pihak yang memimpin kegiatan bisa berbeda menurut nagari dan kebiasaan setempat. Karena itu, tradisi ini perlu dipahami dengan memperhatikan lingkungan masyarakat yang menjalankannya, bukan sebagai satu upacara dengan aturan yang sama di semua daerah Minangkabau.

Bakaua Adat Menjelang Musim Tanam

Di Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, dikenal tradisi Bakaua Adat yang berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen dan permohonan agar kegiatan pertanian berikutnya berjalan baik. Tradisi ini juga digunakan untuk menentukan waktu turun ke sawah secara bersama. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul dengan melibatkan unsur adat dan warga yang menggantungkan kehidupan pada pertanian.

Bakaua Adat memperlihatkan bahwa persiapan musim tanam di Nagari Sijunjung memiliki sisi sosial yang kuat. Ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, dan masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Setiap unsur memiliki tempat dalam kehidupan nagari, sehingga pertemuan menjelang musim tanam juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.

Dalam pelaksanaan Bakaua Adat di kawasan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, makanan yang dibawa warga menjadi bagian dari kegiatan bersama. Bundo kanduang membawa jamba, yakni hidangan yang ditata di atas dulang. Kehadiran makanan dan kegiatan makan bersama mempertemukan warga dalam satu acara yang menggabungkan doa, adat, dan kebersamaan.

Sementara itu, di Nagari Palaluar, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, tradisi bakaua turun ke sawah juga dikenal dalam kehidupan masyarakat. Persiapan kegiatan melibatkan musyawarah untuk menentukan waktu pelaksanaan. Warga turut bergotong royong menyiapkan tempat dan makanan, termasuk membuat lamang. Setelah kegiatan adat, kerja bersama berlanjut pada urusan pertanian, seperti membersihkan saluran air atau bandar dan mengendalikan hama padi.

Praktik di Nagari Sijunjung dan Nagari Palaluar menunjukkan bahwa kegiatan doa menjelang musim tanam tidak berdiri sendiri. Ada persiapan, kesepakatan bersama, dan pekerjaan yang perlu diselesaikan sebelum sawah ditanami. Meski memiliki kesamaan tujuan, tata cara di setiap nagari perlu dijelaskan sesuai kebiasaan masyarakat setempat.

Baombai dan Gotong Royong di Sawah

Selain Bakaua Adat, masyarakat di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, khususnya kawasan Koto Padang Ranah dan Tanah Bato, mengenal tradisi Baombai menjelang musim tanam padi. Baombai merupakan kegiatan turun ke sawah secara bersama-sama untuk mengolah lahan. Dalam pelaksanaannya, kaum perempuan bekerja menggunakan cangkul dan mengerjakan sawah secara bergotong royong.

Kegiatan Baombai juga memiliki unsur sastra lisan. Saat bekerja, para perempuan melantunkan pantun dan lagu lama Minangkabau. Kaum laki-laki terkadang ikut berbalas pantun sehingga pekerjaan berlangsung dalam suasana ramai. Pantun yang dilantunkan membawa pesan kehidupan sekaligus membantu mengurangi rasa lelah ketika mengolah tanah.

Baombai dan Bakaua Adat memiliki bentuk pelaksanaan yang berbeda. Bakaua Adat menonjolkan doa, rasa syukur, musyawarah, serta penentuan waktu turun ke sawah. Baombai lebih terlihat dalam pekerjaan mengolah lahan secara bersama. Keduanya memperlihatkan hubungan antara kegiatan adat dan kebutuhan pertanian di lingkungan masyarakat Sijunjung.

Kegiatan turun ke sawah juga pernah menjadi inspirasi bagi kesenian daerah. Di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, terdapat Tari Barombai yang menggambarkan aktivitas masyarakat saat bekerja di sawah. Gerakannya menirukan pekerjaan pertanian, seperti mencangkul, membuat lumpur, menanam benih, dan menyiangi tanaman. Tari ini diiringi talempong pacik, gendang, serta dendang khas yang disebut dadoi.

Kehadiran Tari Barombai memperlihatkan bagaimana kegiatan pertanian dapat diolah menjadi pertunjukan seni. Gerakan yang berasal dari pekerjaan di sawah dipindahkan ke dalam koreografi sehingga pengalaman petani dapat ditampilkan kepada penonton. Dalam konteks Sijunjung, pertanian dengan demikian hadir dalam kegiatan adat, kerja bersama, pantun, dan kesenian.

Doa, Musyawarah, dan Pengetahuan Pertanian

Tradisi menjelang musim tanam di Sijunjung mempertemukan keyakinan keagamaan dengan kebutuhan praktis petani. Doa bersama menjadi cara masyarakat memohon kelancaran dan hasil panen yang baik, sedangkan musyawarah membantu menyepakati waktu pelaksanaan kegiatan. Pengaturan waktu tersebut penting karena pekerjaan pertanian membutuhkan kesiapan tenaga, air, dan lahan.

Pengetahuan pertanian juga terlihat dalam kegiatan gotong royong yang menyertai tradisi ini. Di Nagari Palaluar, misalnya, warga bersama-sama membersihkan bandar yang mengalirkan air ke lahan pertanian. Saluran air yang terawat membantu mendukung kebutuhan sawah, sementara pengerjaan bersama membuat beban pekerjaan dapat ditanggung oleh lebih banyak orang.

Kegiatan semacam ini turut menjaga hubungan antarwarga. Melalui musyawarah dan kerja bersama, masyarakat memiliki ruang untuk bertemu, menyampaikan kebutuhan, dan menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan sawah. Hubungan tersebut penting bagi kehidupan nagari yang sebagian warganya masih bergantung pada pertanian.

Istilah mandoa turun ka sawah dapat digunakan untuk menggambarkan doa menjelang musim tanam, tetapi di Kabupaten Sijunjung terdapat nama dan bentuk tradisi yang lebih khusus, seperti Bakaua Adat, bakaua turun ke sawah, dan Baombai. Penyebutan nama sesuai nagari membantu membedakan kegiatan doa adat dari kerja bersama mengolah lahan.

Di Sijunjung, persiapan menanam padi tidak hanya berhubungan dengan benih dan kondisi sawah. Tradisi seperti Bakaua Adat dan Baombai memperlihatkan keterlibatan keluarga, pemangku adat, dan warga dalam menghadapi musim tanam. Ketika masyarakat berkumpul untuk berdoa, bermusyawarah, atau mencangkul lahan bersama, kehidupan pertanian sekaligus menjadi ruang untuk merawat hubungan sosial di nagari.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Mandoa, Turun Ka Sawah, di Sijunjung ,Mengiringi Persiapan, Musim Tanam

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com