- Kamis, 8 Oktober 2026
Malamang Padang Pariaman, Tradisi Memasak Lamang Yang Dikerjakan Bersama
Malamang Padang Pariaman, Tradisi Memasak Lamang yang Dikerjakan Bersama
Oleh: Andika Putra Wardana
Tradisi malamang merupakan kegiatan membuat lamang yang masih dikenal di sejumlah nagari di Kabupaten Padang Pariaman. Lamang dibuat dari beras ketan atau puluik yang dicampur santan, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang dan dipanggang di atas bara api. Di Padang Pariaman, malamang berkaitan dengan kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi, menjelang Ramadan, serta kegiatan yang berhubungan dengan kematian.
Malamang tidak hanya berlangsung sebagai kegiatan memasak makanan tradisional. Dalam pelaksanaannya, masyarakat dapat bekerja bersama sejak menyiapkan bambu, membersihkan bahan, mengolah beras ketan dan santan, hingga memanggang lamang. Salah satu kawasan yang masih dikenal dengan tradisi ini adalah Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, tempat malamang berkaitan dengan kegiatan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Lamang dan Proses Malamang
Lamang dibuat menggunakan bahan utama beras ketan atau puluik, santan, dan bambu sebagai wadah memasak. Ruas bambu terlebih dahulu dilapisi daun pisang sebelum adonan ketan dan santan dimasukkan. Bambu kemudian diletakkan miring menghadap bara api sehingga bagian dalamnya matang secara perlahan. Cara memasak seperti ini membuat proses malamang membutuhkan waktu cukup lama.
Di Padang Pariaman, proses tersebut dapat dilakukan dalam jumlah banyak ketika malamang menjadi bagian dari acara keagamaan. Dokumentasi kegiatan Mauluik Gadang Padang Pariaman 2026 memperlihatkan bahan mulai disiapkan sejak sehari sebelumnya. Bambu dipilih, beras ketan dan santan diracik, kemudian adonan dimasukkan ke dalam bambu yang telah diberi lapisan daun pisang. Bambu-bambu tersebut selanjutnya disusun berjajar di atas bara api dan dipanggang sambil dibolak-balik hingga lamang matang.
Cara memasak dengan bambu membuat malamang berbeda dengan memasak nasi ketan menggunakan periuk biasa. Bambu menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena berfungsi sebagai tempat adonan selama pemanggangan. Api juga harus dijaga agar lamang matang dengan baik. Proses yang cukup panjang inilah yang membuat kegiatan malamang biasanya dikerjakan bersama, terutama ketika jumlah lamang yang dibuat cukup banyak untuk kebutuhan acara.
Dalam kehidupan masyarakat Padang Pariaman, lamang juga dapat diberikan kepada keluarga dan kerabat. Di Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, misalnya, lamang berkaitan dengan hubungan antara keluarga, ipar, besan, serta tamu yang datang dalam kegiatan keagamaan. Kebiasaan mengantar lamang membuat proses memasak tidak berhenti pada penyediaan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari hubungan sosial antarkeluarga.
Malamang dalam Kegiatan Keagamaan
Salah satu waktu penting untuk malamang di Padang Pariaman adalah peringatan Maulid Nabi. Di Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, kegiatan Maulid dapat berlangsung dalam rentang bulan Rabiul Awal hingga Jumadil Akhir. Ketika kegiatan berlangsung di surau, pembuatan lamang menjadi salah satu bagian dari persiapan makanan untuk tamu dan masyarakat yang hadir.
Pelaksanaan malamang dalam kegiatan Maulid juga memperlihatkan hubungan antara makanan, surau, dan aktivitas keagamaan di Padang Pariaman. Ketika orang siak melaksanakan badikia di surau, masyarakat yang telah mendapat tugas mulai menyiapkan bahan dan membuat lamang. Lamang yang sudah matang kemudian diberikan kepada tamu atau undangan yang datang ke surau. Pola seperti ini tercatat dalam praktik masyarakat Kecamatan Sintuk Toboh Gadang.
Selain Maulid Nabi, masyarakat Padang Pariaman mengenal periode menjelang Ramadan sebagai bulan lamang atau bulan malamang. Periode ini berlangsung pada bulan Sya'ban sebelum memasuki Ramadan. Pada masa tersebut, keluarga membuat lamang untuk dikirimkan kepada ipar, besan, dan kerabat. Kebiasaan tersebut membuat kegiatan memasak memiliki hubungan langsung dengan persiapan menyambut bulan puasa sekaligus mempererat hubungan keluarga.
Tradisi malamang juga ditemukan dalam kegiatan yang berkaitan dengan kematian. Di beberapa wilayah Padang Pariaman, lamang disiapkan dalam rangkaian acara kematian dan diberikan kepada orang yang hadir. Praktiknya tidak selalu sama di setiap nagari, sehingga malamang lebih tepat dipahami sebagai tradisi yang memiliki variasi sesuai kebiasaan masyarakat setempat.
Malamang dan Gotong Royong Masyarakat
Membuat lamang dalam jumlah banyak membutuhkan tenaga beberapa orang. Di Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, kegiatan malamang dilakukan dengan pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Ada yang menyiapkan bahan, membersihkan bambu, mengisi adonan ke dalam bambu, hingga mengurus proses pemanggangan. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bersama ketika kebutuhan lamang cukup banyak.
Gotong royong terlihat semakin jelas ketika malamang menjadi bagian dari kegiatan surau atau perayaan Maulid. Masyarakat tidak hanya menyiapkan makanan untuk keluarga sendiri, tetapi juga menyiapkan lamang yang akan dibagikan kepada tamu. Karena itu, proses memasak dapat menjadi ruang pertemuan antara keluarga, tetangga, pengurus surau, dan masyarakat yang ikut dalam kegiatan keagamaan.
Kegiatan malamang juga memiliki hubungan dengan kebiasaan manjalang di sebagian masyarakat Minangkabau. Lamang dapat dibawa oleh keluarga perempuan ketika berkunjung ke rumah keluarga laki-laki atau mertua. Di Padang Pariaman, kebiasaan membawa makanan kepada kerabat membuat lamang memiliki fungsi sosial yang lebih luas daripada sekadar makanan untuk dikonsumsi di rumah.
Keberadaan malamang di Padang Pariaman juga tidak berarti tradisi tersebut hanya dikenal di daerah ini. Membuat lamang merupakan tradisi yang ditemukan di berbagai wilayah Minangkabau, termasuk Agam, Tanah Datar, Solok, Payakumbuh, dan Pesisir Selatan. Namun, hubungan malamang dengan kegiatan Maulid, bulan lamang, surau, dan tradisi keagamaan cukup kuat dalam kehidupan masyarakat Padang Pariaman.
Saat ini, tradisi tersebut masih dapat ditemui dalam kegiatan budaya dan keagamaan di Padang Pariaman. Pada Padang Pariaman Mauluik Gadang 2026, prosesi malamang kembali menjadi bagian dari rangkaian acara yang mempertemukan unsur keagamaan dan budaya daerah. Kehadiran Bundo Kanduang serta masyarakat dalam proses persiapan menunjukkan bahwa kegiatan membuat lamang masih ditempatkan sebagai aktivitas bersama dalam acara tersebut.
Bagi masyarakat Padang Pariaman, ruas bambu yang dipenuhi beras ketan dan santan akhirnya memiliki cerita yang lebih panjang daripada proses memasaknya. Ada surau, Maulid Nabi, bulan Sya'ban, keluarga, ipar, besan, dan tetangga yang terlibat dalam berbagai kesempatan. Selama malamang masih dilakukan bersama dalam kegiatan masyarakat, lamang tetap mempunyai tempat dalam kehidupan sosial dan keagamaan di nagari-nagari Padang Pariaman.
Editor : melatisan
Tag :Malamang, Padang Pariaman
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
DIKIA RABANO AGAM, KESENIAN REBANA YANG MENGIRINGI SELAWAT DAN ACARA KEAGAMAAN
-
SIJOBANG LIMA PULUH KOTA MENGHIDUPKAN KISAH ANGGUN NAN TONGGA LEWAT SENI TUTUR
-
ALEK BAKAJANG GUNUANG MALINTANG, TRADISI PERAHU YANG MERAMAIKAN LEBARAN DI LIMA PULUH KOTA
-
TAMBUA TANSA PADANG PARIAMAN MENGIRINGI ARAK-ARAKAN DAN ALEK ANAK NAGARI
-
PUPUIK BATANG PADI DI AGAM TUMBUH DARI TRADISI MASYARAKAT SAWAH