- Selasa, 22 September 2026
Maapam Pasaman Barat Dan Tradisi Membuat Apam Yang Bertahan Di Masyarakat
Maapam Pasaman Barat dan Tradisi Membuat Apam yang Bertahan di Masyarakat
Tradisi Maapam di Pasaman Barat merupakan kegiatan membuat apam secara bersama-sama yang masih dilakukan masyarakat hingga sekarang. Maapam biasanya dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu dalam kalender Islam, terutama menjelang Ramadan dan pada bulan Rajab yang berkaitan dengan peringatan Isra Mikraj. Penelitian Ayuthia Mayang Sari dan Dina Rahma Dani yang diterbitkan dalam Panggung pada 2026 mencatat Maapam sebagai praktik budaya yang diwariskan antargenerasi dan memiliki hubungan dengan kehidupan sosial serta keagamaan masyarakat Pasaman Barat.
Maapam tidak hanya ditemukan di satu kampung. Penelitian Yurisa Mailani pada 2023 secara khusus mendokumentasikan pelaksanaannya di Kampung Padang Panjang, Nagari Talu, Pasaman Barat, dalam rangka menyambut Ramadan dan memperingati Isra Mikraj. Penelitian lain di Kampung Sungai Balai, Jorong VI Koto Selatan, Kenagarian Kinali, juga mencatat Maapam sebagai tradisi masyarakat yang masih dilaksanakan dalam menyambut bulan suci Ramadan. Perbedaan lokasi penelitian tersebut menunjukkan bahwa Maapam hidup dalam beberapa lingkungan masyarakat Pasaman Barat dengan pelaksanaan yang dapat mengikuti kebiasaan setempat.
Apam dan Tungku Tradisional
Bagian utama dalam Maapam adalah membuat kue apam. MURI mencatat bahan yang digunakan dalam tradisi tersebut antara lain tepung beras, santan, gula dan gula aren. Adonan kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional dengan bahan bakar dari daun kelapa dan kuali berbahan besi. Cara memasak seperti ini membuat kegiatan Maapam berbeda dari sekadar pembuatan makanan sehari-hari karena proses memasaknya tetap mempertahankan perlengkapan tradisional yang dikenal dalam pelaksanaan Maapam di Pasaman Barat.
Dalam kegiatan Maapam, kaum perempuan memiliki peran besar dalam menyiapkan bahan dan memasak apam. Dokumentasi pelaksanaan di Pasaman Barat pada 2024 menyebut kaum ibu masih menjadi bagian utama dalam proses pembuatan apam, mulai dari menyiapkan adonan hingga memasaknya di atas tungku. Penelitian Sari dan Dani pada 2026 juga melihat keterlibatan antargenerasi dalam Maapam sebagai salah satu ruang berlangsungnya komunikasi budaya antara masyarakat yang lebih tua dengan generasi berikutnya.
Suasana memasak secara bersama membuat pekerjaan yang biasanya dilakukan di dapur rumah berubah menjadi kegiatan sosial. Dalam dokumentasi MURI pada 2020, Maapam digambarkan sebagai kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk memasak apam sekaligus membagikannya kepada warga. Kegiatan tersebut juga disebut sebagai bentuk gotong royong masyarakat Pasaman Barat.
Maapam di Bulan Rajab dan Ramadan
Waktu pelaksanaan menjadi bagian penting dalam tradisi Maapam. Penelitian di Kampung Padang Panjang, Nagari Talu, mencatat Maapam dilakukan untuk menyambut bulan khusus, terutama Ramadan dan peringatan Isra Mikraj. Penelitian tersebut menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk melihat bagaimana tradisi memasak apam tetap dilakukan masyarakat di wilayah tersebut.
Bulan Rajab juga menjadi waktu yang sering dikaitkan dengan Maapam di Pasaman Barat. Penelitian tentang tradisi ini yang diterbitkan dalam Besaung pada 2025–2026 menyebut pelaksanaan Maapam pada bulan Rajab berkaitan dengan persiapan menyambut Ramadan dan menjadi ruang untuk menjalankan kegiatan bersama. Hubungan antara waktu pelaksanaan dengan kalender Islam membuat Maapam memiliki posisi khusus dalam kehidupan masyarakat yang menjalankannya.
Pada pelaksanaannya, apam yang selesai dimasak kemudian dibagikan kepada masyarakat. Praktik berbagi tersebut tercatat dalam dokumentasi MURI dan berbagai penelitian mengenai Maapam Pasaman Barat. Karena itu, kegiatan memasak tidak berhenti ketika apam matang, tetapi dilanjutkan dengan pembagian makanan kepada warga yang menjadi bagian dari lingkungan sosial tempat tradisi tersebut berlangsung.
Maapam juga memiliki dimensi keagamaan yang cukup kuat. Penelitian Sari dan Dani menyebut tradisi ini mempunyai dimensi sosial sekaligus spiritual karena pelaksanaannya berhubungan dengan momentum keagamaan seperti Rajab, Isra Mikraj dan persiapan Ramadan. Nilai spiritual tersebut berjalan bersamaan dengan kegiatan sosial seperti gotong royong, solidaritas dan komunikasi antargenerasi.
Maapam dan Kehidupan Masyarakat Pasaman Barat
Kegiatan Maapam memperlihatkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi bagian dari hubungan sosial masyarakat. Ketika kaum ibu berkumpul untuk menyiapkan tepung beras, santan, gula dan tungku, proses tersebut menciptakan ruang pertemuan yang memungkinkan warga bekerja bersama. Penelitian mengenai Maapam di Pasaman Barat pada 2026 mencatat gotong royong, solidaritas dan komunikasi antargenerasi sebagai nilai yang muncul dalam pelaksanaan tradisi tersebut.
Besarnya keterlibatan masyarakat terlihat dalam pelaksanaan Maapam pada 12 Maret 2020 di Taman Hutan Kota, Padang Tujuh, Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman. MURI mencatat kegiatan Maapam tahun tersebut menggunakan 1.074 tungku tradisional. Jumlah itu menunjukkan bahwa tradisi yang biasanya berlangsung dalam lingkungan masyarakat dapat pula dikembangkan menjadi kegiatan budaya dengan partisipasi dalam jumlah besar.
Pada 2024, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat kembali mengadakan kegiatan Maapam di halaman kantor bupati dalam rangka memperingati Isra Mikraj 1445 Hijriah dan menyambut Ramadan. Kegiatan tersebut melibatkan 13 kelompok dan menggunakan tungku serta kuali tradisional seperti yang digunakan dalam praktik Maapam masyarakat. Pelaksanaan di lingkungan pemerintahan itu menunjukkan bahwa Maapam tidak hanya berlangsung di rumah atau kampung, tetapi juga dapat ditampilkan dalam kegiatan pelestarian budaya daerah.
Perjalanan Maapam kemudian mendapat pengakuan dalam lingkup kebudayaan nasional. Pada Agustus 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyerahkan sertifikat penetapan yang menyebut Tradisi Maapam Pasaman Barat telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2025. Penetapan tersebut menempatkan Maapam bersama sejumlah tradisi daerah lain sebagai bagian dari kekayaan budaya takbenda Indonesia.
Bagi masyarakat Pasaman Barat, Maapam tetap berangkat dari kegiatan yang sederhana, yakni menyiapkan adonan apam, menyalakan tungku dan memasak bersama. Namun, kegiatan yang dilakukan pada bulan Rajab, menjelang Ramadan atau dalam peringatan Isra Mikraj itu juga menjadi ruang bagi warga untuk bertemu dan berbagi. Di antara tungku dan kuali yang digunakan, tradisi lama tersebut terus menemukan tempatnya dalam kehidupan masyarakat Pasaman Barat sampai sekarang.
Editor : melatisan
Tag :Maapam, Pasaman Barat, dan Tradisi, Membuat Apam, yang Bertahan, di Masyarakat
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
BAKAUA ADAT SIJUNJUNG, TRADISI SYUKUR YANG BERKAITAN DENGAN MUSIM BERTANI
-
MANGAJIAN PADI DI NAGARI SUPAYANG DAN PENGETAHUAN LOKAL PETANI
-
TRADISI TUNDUAK KOTA SOLOK DAN MAKNA DI BALIK ARAKANNYA
-
TRADISI BOTATAH DI NAGARI LANSEK KADOK PASAMAN DAN CERITA TURUN TANAH DARI PADANG NUNANG
-
TRADISI DORO DAN SANKSI ADAT DI NAGARI SIALANG LIMA PULUH KOTA