HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 24 September 2026

Goba-goba Bidar Alam Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026

Goba-goba Bidar Alam Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026

Oleh: Andika Putra Wardana

Goba-goba dari Nagari Bidar Alam, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) Tahun 2026. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencatat Goba-goba sebagai salah satu dari 15 karya budaya Sumbar yang ditetapkan pada Termin I setelah sidang penetapan WBTbI berlangsung di Jakarta pada 30 Juni hingga 3 Juli 2026. Tradisi ini dikenal masyarakat Bidar Alam sebagai kegiatan penyambutan Hari Raya Idul Fitri yang dilakukan menjelang waktu Subuh.

Goba-goba memiliki bentuk yang berbeda dari pertunjukan tradisional Minangkabau seperti randai atau saluang. Di Bidar Alam, tradisi ini menggunakan bambu, pohon kelapa, lampu, obor, petasan, kembang api dan konstruksi berbentuk pagar tinggi yang ditempatkan di bukit atau tepian sungai. Penelitian Yudha Mulri Yansyah pada 2022 menyebut Goba-goba sebagai tradisi seni api obor yang dibuat menggunakan batang bambu dan dihias berdasarkan kesepakatan kepala jorong bersama pemuda masyarakat Nagari Bidar Alam.

Goba-goba di Bidar Alam

Tradisi Goba-goba diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Nagari Bidar Alam dan berkaitan khusus dengan perayaan Idul Fitri. Penelitian yang dilakukan Yudha Mulri Yansyah pada 2022 menyebut perubahan zaman dan arus modernisasi tidak membuat masyarakat Bidar Alam meninggalkan tradisi tersebut. Dalam kajian yang sama, Goba-goba ditempatkan sebagai kebiasaan masyarakat Kecamatan Sangir Jujuan yang dilakukan berulang dalam menyambut hari raya.

Pelaksanaan Goba-goba tidak berlangsung secara mendadak pada malam Idul Fitri. Dalam laporan mengenai pelaksanaan di Bidar Alam pada 2023, persiapan telah dilakukan sekitar lima hari sebelum Lebaran. Para pemuda pergi mencari bambu dan pohon kelapa yang kemudian dikumpulkan untuk membuat konstruksi Goba-goba. Proses tersebut dilakukan secara bergotong royong oleh pemuda di lingkungan nagari.

Bambu yang telah dikumpulkan kemudian dirakit menjadi pagar tinggi di kawasan perbukitan Bidar Alam. Dalam pelaksanaan yang dilaporkan pada 2023, ukuran konstruksi tersebut dapat mencapai sekitar 10 hingga 20 meter. Bentuknya tidak selalu sama karena para pemuda membuat rancangan seperti pesawat, elang, nomor atau angka, kemudian memasang lampu agar bentuk bambu tersebut dapat terlihat pada malam hari.

Selain bambu, pohon kelapa juga digunakan dalam persiapan Goba-goba di Bidar Alam. Laporan pelaksanaan 2023 menyebut bagian pohon kelapa dimanfaatkan untuk membuat badia-badia yang berkaitan dengan petasan, sementara bambu digunakan untuk konstruksi pagar tinggi. Penggunaan bahan dari lingkungan sekitar tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat menyiapkan perlengkapan Goba-goba sebelum malam takbiran.

Setelah konstruksi bambu, lampu, badia-badia, petasan dan kembang api selesai disiapkan, masyarakat menunggu malam takbiran hingga menjelang Subuh. Dalam pelaksanaan yang didokumentasikan Harian Haluan pada April 2023, masyarakat Bidar Alam membawa obor menuju lokasi Goba-goba setelah takbiran dan mulai menjalankan tradisi sekitar pukul 03.00 atau 04.00 pada pagi Hari Raya Idul Fitri.

Peran Pemuda dalam Goba-goba

Pemuda mempunyai posisi penting dalam pelaksanaan Goba-goba di Nagari Bidar Alam. Penelitian Muhammad Fajar Hidayat dan Romi Mesra yang diterbitkan dalam Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya pada 2022 mencatat sejumlah pekerjaan yang dilakukan pemuda, mulai dari mengadakan pertemuan, membentuk kepanitiaan, mengumpulkan dana, membersihkan lokasi, mencari bahan, membuat perlengkapan, mendirikan Goba-goba hingga menyosialisasikan kegiatan kepada masyarakat.

Keterlibatan pemuda juga terlihat dari proses pembuatan konstruksi Goba-goba di perbukitan Bidar Alam. Laporan tahun 2023 mencatat para pemuda secara bersama-sama mencari bambu dan pohon kelapa, merakit bahan tersebut menjadi pagar tinggi, kemudian memasangnya di bukit atau tepian sungai. Aktivitas itu membuat persiapan Goba-goba menjadi kegiatan kolektif yang membutuhkan pembagian pekerjaan dan tenaga banyak orang.

Penelitian Hidayat dan Mesra pada 2022 juga menunjukkan bahwa pemuda tidak hanya bekerja ketika pertunjukan berlangsung. Mereka terlibat sejak tahap perencanaan melalui rapat pemuda, pengumpulan dana dan pembentukan panitia. Keterlibatan tersebut berlanjut sampai proses mencari bahan, membuat instrumen Goba-goba, mendirikan konstruksi serta menghidupkan kembali pelaksanaan tradisi di Nagari Bidar Alam.

Kegiatan tersebut kemudian mempertemukan pemuda dengan masyarakat dalam satu momentum yang sama. Pada Hari Raya Idul Fitri, warga berkumpul di sekitar lokasi Goba-goba untuk melihat konstruksi bambu yang telah dihiasi lampu serta menyaksikan bunyi petasan dan kembang api dari kawasan bukit dan tepian sungai. Dokumentasi pelaksanaan 2023 menggambarkan Goba-goba sebagai pamenan bagi anak-anak dan pemuda Bidar Alam ketika menyambut hari raya.

Goba-goba dan Kehidupan Masyarakat

Fungsi sosial Goba-goba terlihat dari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan bersama oleh masyarakat Bidar Alam. Penelitian Hidayat dan Mesra pada 2022 menempatkan pemuda sebagai pelaksana utama yang mengurus persiapan hingga penyelenggaraan, sementara penelitian Yansyah pada 2022 mencatat Goba-goba memiliki peran penting bagi masyarakat terutama dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi ini juga menjadi ruang pertemuan antara kegiatan keagamaan dan budaya lokal di Bidar Alam. Waktu pelaksanaan Goba-goba berada pada pagi Hari Raya Idul Fitri setelah malam takbiran, dengan masyarakat membawa obor menuju lokasi yang telah disiapkan. Karena itu, kegiatan tersebut hadir dalam suasana perayaan Lebaran, bukan sebagai kegiatan yang berdiri terpisah dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Keberadaan Goba-goba selama bertahun-tahun juga memperlihatkan adanya proses pewarisan melalui keterlibatan generasi muda. Penelitian tahun 2022 mencatat bahwa pemuda Bidar Alam mengurus bahan, pembuatan, pemasangan, sosialisasi dan pelaksanaan tradisi. Pola keterlibatan seperti ini membuat pengetahuan tentang cara membuat konstruksi Goba-goba tidak hanya tersimpan dalam cerita orang tua, tetapi dipraktikkan langsung oleh generasi yang ikut menyiapkannya.

Pada 2026, Goba-goba kemudian memperoleh status WBTbI bersama 14 karya budaya lain dari Sumatera Barat. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencatat penetapan tersebut berlangsung dalam sidang nasional pada akhir Juni hingga awal Juli 2026, sementara Goba-goba dicantumkan sebagai karya budaya dari Kabupaten Solok Selatan. Penetapan ini sekaligus menjadi catatan resmi mengenai keberadaan tradisi Bidar Alam dalam daftar kebudayaan takbenda Indonesia.

Bagi masyarakat Bidar Alam, Goba-goba tetap berangkat dari pekerjaan yang sangat konkret: mencari bambu, mengumpulkan bahan, membuat konstruksi, memasang lampu dan menyiapkan perlengkapan untuk menyambut Idul Fitri. Ketika pagi mulai mendekati waktu Subuh dan warga berkumpul di sekitar bukit, rangkaian pekerjaan para pemuda itu berubah menjadi sebuah pertunjukan yang hanya muncul pada momentum Lebaran. Di situlah Goba-goba terus mendapat ruang dalam kehidupan masyarakat Nagari Bidar Alam.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Goba-goba, Bidar Alam, Jadi Warisan, Budaya, Takbenda Indonesia 2026

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com