HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 8 Oktober 2026

Dikia Rabano Agam, Kesenian Rebana Yang Mengiringi Selawat Dan Acara Keagamaan

Dikia Rabano Agam, Kesenian Rebana yang Mengiringi Selawat dan Acara Keagamaan

Oleh: Andika Putra Wardana

Dikia Rabano merupakan kesenian tradisional bernuansa Islam yang berkembang di sejumlah nagari di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kesenian ini memadukan dendang atau vokal bernuansa keagamaan dengan permainan rabano, alat musik sejenis rebana. Di Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Dikia Rabano dimainkan dalam kelompok laki-laki dan hadir dalam kegiatan seperti peringatan Isra Mikraj, batagak pangulu, arak-arakan baralek, hingga arak-arakan khatam Al-Qur'an. 

Istilah Dikia Rabano berkaitan dengan dua unsur utama pertunjukan, yaitu dikia dan rabano. Dikia berhubungan dengan zikir atau lantunan keagamaan, sedangkan rabano merupakan alat musik yang digunakan untuk mengiringi vokal. Dalam praktiknya, pemain rabano duduk berkelompok sambil memainkan pola ritme yang telah dikenal dalam kesenian tersebut. Bentuk penyajian dan penggunaannya dapat berbeda antara satu nagari dengan nagari lainnya. 

Dikia Rabano di Nagari Lasi

Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, merupakan salah satu wilayah Kabupaten Agam yang memiliki tradisi Dikia Rabano. Di Jorong Lasi Mudo, kesenian ini dimainkan oleh sekitar empat sampai sembilan orang laki-laki. Para pemain rabano biasanya duduk membentuk setengah lingkaran dan saling berhadapan ketika pertunjukan berlangsung. Dalam masyarakat setempat, Dikia Rabano juga dikenal dengan sebutan barabano. 

Permainan rabano di Lasi memiliki beberapa pola yang disebut guguah. Beberapa di antaranya adalah guguah ciek, guguah duo, guguah tigo, guguah ampek, guguah limo, dan guguah anam. Pola tersebut menjadi bagian dari struktur permainan musik dan dapat dimainkan secara bersamaan maupun dengan pola yang saling mengisi. Salah satu teknik yang digunakan adalah interlocking, ketika pola ritme dari beberapa rabano dimainkan secara jalin-menjalin. 

Dalam pertunjukan Dikia Rabano di Lasi, terdapat pula pola rampak, yaitu permainan dengan motif ritme yang dimainkan secara serempak oleh para pemain rabano. Perbedaan pola permainan membuat pertunjukan tidak hanya bergantung pada vokal, tetapi juga pada hubungan ritmis antarpemain. Pola guguah dan rampak tersebut menjadi bagian dari pengetahuan musikal yang dipelajari oleh pemain Dikia Rabano di lingkungan masyarakat setempat. 

Awalnya, Dikia Rabano di Lasi banyak digunakan dalam peringatan hari besar Islam, termasuk Isra Mikraj. Dalam perkembangannya, kesenian tersebut juga hadir dalam kegiatan adat dan sosial. Pertunjukan dapat mengiringi arak-arakan pernikahan, batagak pangulu, kegiatan setelah bayi dipotong rambutnya, serta arak-arakan khatam Al-Qur'an. Perubahan ruang pertunjukan itu membuat Dikia Rabano memiliki hubungan dengan kegiatan keagamaan sekaligus kehidupan adat masyarakat Lasi. 

Salah satu pola yang berkaitan dengan arak-arakan adalah guguah ciek. Di Lasi Mudo, pola tersebut digunakan pada bagian tertentu dari guguah arak dan dimainkan ketika rombongan bergerak dalam arak-arakan. Penggunaan rabano untuk mengiringi rombongan membuat fungsi musik tidak hanya berada di tempat pertunjukan, tetapi juga dapat mengikuti kegiatan masyarakat di ruang terbuka. 

Dikia Rabano di Nagari Bawan dan Matua Hilia

Dikia Rabano juga berkembang di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Di daerah ini, kesenian tersebut memiliki beberapa fungsi dalam kegiatan masyarakat, antara lain baok anak ka aie atau kegiatan turun mandi, peringatan Maulid Nabi, khitanan, dan malapeh niaiek sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan. Kesenian ini juga disajikan dalam acara adat dan kegiatan syukuran. 

Dalam kegiatan baok anak ka aie di Nagari Bawan, terdapat repertoar Guguah Baarak yang menjadi bagian dari penyajian Dikia Rabano. Nama tersebut berkaitan dengan bentuk penyajian yang digunakan dalam kegiatan yang melibatkan pergerakan atau arak-arakan. Pola rabano dalam Guguah Baarak memiliki bentuk permainan yang berulang sehingga menghasilkan karakter ritmis tersendiri dalam pertunjukan Dikia Rabano Bawan. 

Wilayah lain yang memiliki Dikia Rabano adalah Jorong Batu Baselo, Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Di daerah tersebut, Dikia Rabano masih digunakan dalam peringatan hari besar Islam dan upacara syukuran masyarakat. Fungsinya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana komunikasi dan bagian dari kegiatan bersama masyarakat. 

Perbedaan penggunaan di Lasi, Bawan, dan Matua Hilia menunjukkan bahwa Dikia Rabano tidak memiliki satu pola pelaksanaan yang berlaku sama di seluruh Kabupaten Agam. Di Lasi, kesenian ini dapat mengiringi batagak pangulu dan arak-arakan khatam Al-Qur'an. Di Bawan, Dikia Rabano ditemukan dalam baok anak ka aie, Maulid Nabi, khitanan, dan malapeh niaiek. Sementara di Matua Hilia, kesenian tersebut berkaitan dengan peringatan hari besar Islam dan kegiatan syukuran. 

Rabano dan Selawat dalam Kehidupan Masyarakat

Unsur keislaman menjadi ciri yang kuat dalam Dikia Rabano. Lantunan vokal berisi puji-pujian kepada Allah dan selawat kepada Nabi Muhammad menjadi bagian dari kesenian ini. Rabano kemudian digunakan sebagai pengiring vokal sekaligus memberikan aksentuasi pada bagian-bagian tertentu dalam pertunjukan. Karena itu, Dikia Rabano memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan keagamaan masyarakat di berbagai daerah tempat kesenian ini berkembang. 

Kehadiran Dikia Rabano dalam kegiatan masyarakat juga membuat kesenian ini memiliki fungsi sosial. Ketika dimainkan dalam Maulid Nabi atau kegiatan syukuran, pemain dan masyarakat berkumpul dalam satu kegiatan. Di Nagari Bawan, misalnya, Dikia Rabano dapat hadir dalam malapeh niaiek. Sementara di Nagari Lasi, kesenian ini dapat mengiringi kegiatan adat seperti batagak pangulu dan arak-arakan baralek. 

Keberadaan Dikia Rabano juga masih menghadapi persoalan pewarisan. Di Nagari Lasi, pengetahuan tentang pola guguah membutuhkan kemampuan memainkan rabano secara berkelompok. Sementara di wilayah lain, seperti Nagari Tepi Selo di Lintau, perkembangan Dikia Rabano pada 2025 menunjukkan perlunya pelatihan karena jumlah seniman yang masih aktif semakin terbatas dan sebagian sudah berusia lanjut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan kesenian ini sangat bergantung pada adanya pemain baru yang mau mempelajari vokal dan permainan rabano. 

Dikia Rabano di Kabupaten Agam pada akhirnya tetap dekat dengan ruang kehidupan masyarakat. Bunyi rabano dapat hadir ketika masyarakat memperingati Maulid Nabi, melaksanakan syukuran, mengarak khatam Al-Qur'an, atau menjalankan kegiatan adat seperti batagak pangulu. Setiap nagari memiliki bentuk dan kebutuhan pertunjukan yang berbeda, tetapi unsur vokal keagamaan dan permainan rabano tetap menjadi ciri utama yang membuat kesenian ini mudah dikenali.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Dikie Rabano, Kesenian Rebana

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com