- Rabu, 14 Oktober 2026
Basapa Di Ulakan Tapakis Menyatukan Ziarah, Sejarah Islam, Dan Tradisi Minangkabau
Basapa di Ulakan Tapakis Menyatukan Ziarah, Sejarah Islam, dan Tradisi Minangkabau
Tradisi Basapa di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, merupakan kegiatan ziarah tahunan ke makam Syekh Burhanuddin, ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam dan perkembangan Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Safar dalam kalender Hijriah dan diikuti jemaah dari berbagai daerah. Bagi masyarakat yang mengikuti Basapa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk berziarah, berdoa, serta mengenang peran Syekh Burhanuddin dalam perkembangan kehidupan Islam di Sumatera Barat.
Nama Basapa berasal dari kata bersafar, yang dalam pengucapan masyarakat Minangkabau berkembang menjadi basapa. Pelaksanaannya berpusat di kompleks makam Syekh Burhanuddin di kawasan Ulakan. Tradisi ini memperlihatkan hubungan antara penghormatan kepada ulama, praktik keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Basapa juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2020, sehingga keberadaannya memiliki arti penting dalam dokumentasi kebudayaan daerah.
Syekh Burhanuddin dan Sejarah Islam di Ulakan
Syekh Burhanuddin dikenal sebagai ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Minangkabau, khususnya melalui Tarekat Syattariyah. Aktivitas dakwahnya berkaitan erat dengan Ulakan, kawasan pesisir di Kabupaten Padang Pariaman yang kemudian berkembang sebagai salah satu pusat penting tradisi Islam di Sumatera Barat. Surau menjadi bagian penting dalam penyebaran pengetahuan agama pada masa itu, karena berfungsi sebagai tempat belajar, beribadah, dan membina hubungan antara guru dengan murid.
Dalam ingatan masyarakat pengikut Syattariyah, Syekh Burhanuddin memiliki kedudukan penting sebagai guru agama. Pengaruhnya tidak hanya berkaitan dengan pengajaran keislaman, tetapi juga dengan terbentuknya jaringan murid dan komunitas yang meneruskan ajaran tarekat. Hubungan guru dan murid tersebut menjadi salah satu latar sosial yang membantu menjelaskan mengapa ziarah ke makamnya terus dilakukan oleh jemaah dari berbagai nagari.
Tradisi Basapa berkembang sebagai kegiatan ziarah untuk menghormati jasa Syekh Burhanuddin. Catatan mengenai pelaksanaannya menyebutkan bahwa tradisi ini mulai berlangsung pada 1897, jauh setelah masa hidup sang ulama. Karena itu, Basapa perlu dipahami sebagai tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat pengikutnya, bukan sebagai kegiatan yang secara langsung dapat dipastikan telah dilaksanakan oleh Syekh Burhanuddin sendiri.
Kompleks makam Syekh Burhanuddin menjadi pusat kegiatan tersebut. Kawasan ini juga memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan perkembangan Islam di Ulakan. Di sekitar kompleks makam terdapat Masjid Agung Syekh Burhanuddin dan sejumlah surau yang menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Keberadaan tempat-tempat tersebut memperlihatkan hubungan antara ruang ziarah, tempat ibadah, dan lingkungan sosial yang tumbuh di kawasan Ulakan.
Pelaksanaan Tradisi Basapa
Basapa dilaksanakan pada bulan Safar, dengan waktu kegiatan yang mengikuti penanggalan Hijriah dan kebiasaan komunitas penyelenggaranya. Puncak kegiatan biasanya berlangsung setelah tanggal 10 Safar. Jemaah datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, termasuk dari lingkungan masyarakat yang memiliki hubungan dengan Tarekat Syattariyah. Sebagian peserta juga berasal dari luar provinsi, sehingga kegiatan ini mempertemukan orang-orang dari latar daerah yang berbeda.
Rangkaian Basapa berpusat pada ziarah ke makam Syekh Burhanuddin. Para peziarah berdoa dan melakukan kegiatan keagamaan sesuai kebiasaan masing-masing. Zikir, pembacaan Al-Qur'an, selawat, dan doa bersama termasuk kegiatan yang dijumpai dalam pelaksanaan tradisi ini. Bentuk kegiatan dapat berbeda menurut kelompok jemaah, sehingga tidak semua rangkaian harus dianggap sama bagi setiap peserta.
Kegiatan ziarah juga berkaitan dengan hubungan murid terhadap guru yang dihormati. Bagi pengikut Tarekat Syattariyah, kedatangan ke makam Syekh Burhanuddin merupakan cara mengenang jasa ulama yang berperan dalam penyebaran ajaran Islam. Penghormatan tersebut berada dalam konteks tradisi keagamaan masyarakat, sementara tata cara dan pemahaman mengenai ziarah dapat berbeda di antara kelompok dan individu.
Besarnya jumlah peziarah membuat kawasan Ulakan menjadi lebih ramai selama pelaksanaan Basapa. Masyarakat setempat ikut terlibat dalam berbagai kebutuhan kegiatan, mulai dari membantu kelancaran kunjungan hingga menyediakan barang dan makanan bagi pengunjung. Kehadiran jemaah dari berbagai daerah juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjalin silaturahmi dan memperkuat hubungan dengan kerabat maupun sesama anggota komunitas keagamaan.
Basapa dan Kehidupan Masyarakat Ulakan
Pelaksanaan Basapa turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kompleks makam. Ketika jemaah berdatangan, pedagang setempat memperoleh kesempatan menjual makanan, minuman, dan kebutuhan lain bagi peziarah. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan di Ulakan juga berhubungan dengan kehidupan ekonomi warga yang tinggal di sekitar kawasan ziarah.
Hubungan sosial menjadi bagian lain yang terlihat selama Basapa. Jemaah dari berbagai nagari dapat bertemu dengan sesama anggota komunitas, bertukar kabar, dan menjalin kembali hubungan yang mungkin jarang terbangun dalam keseharian. Bagi masyarakat perantauan yang pulang untuk mengikuti ziarah, kegiatan ini juga dapat menjadi kesempatan mengunjungi keluarga dan kampung halaman.
Pemerintah daerah bersama masyarakat turut berperan dalam penyelenggaraan dan penataan kawasan makam. Kebersihan, ketertiban, serta kenyamanan pengunjung menjadi hal yang perlu diperhatikan ketika jumlah peziarah meningkat. Kompleks makam Syekh Burhanuddin juga memiliki nilai sebagai kawasan sejarah Islam, sehingga pengelolaannya perlu memperhatikan kepentingan ibadah sekaligus perlindungan peninggalan bersejarah.
Basapa memperlihatkan bagaimana sejarah penyebaran Islam di Minangkabau berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang berkembang setelah masa seorang ulama. Syekh Burhanuddin dikenang melalui peran dakwah dan jaringan muridnya, sedangkan Basapa menjadi salah satu bentuk penghormatan yang diteruskan oleh komunitas pengikutnya. Tradisi ini tumbuh dengan ciri khas masyarakat Ulakan dan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai tata cara ziarah yang berlaku bagi seluruh masyarakat Minangkabau.
Setiap bulan Safar, kedatangan peziarah kembali menghidupkan kegiatan keagamaan di kompleks makam Syekh Burhanuddin. Di Ulakan Tapakis, Basapa mempertemukan sejarah Islam, hubungan guru dan murid, serta kehidupan masyarakat yang berada di sekitar pusat ziarah. Melalui tradisi ini, nama Syekh Burhanuddin tetap hadir dalam ingatan masyarakat, bersamaan dengan cerita tentang perkembangan Islam yang membentuk identitas keagamaan kawasan Padang Pariaman.
Editor : melatisan
Tag :Basapa, di Ulakan Tapakis, Menyatukan Ziarah, Sejarah Islam, dan Tradisi Minangkabau
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
KUCIANG LALOK DALAM RAGAM HIAS TRADISIONAL MINANGKABAU
-
MANDOA TURUN KA SAWAH DI SIJUNJUNG MENGIRINGI PERSIAPAN MUSIM TANAM
-
SALUANG PAUAH DAN CIRI KHAS ALAT MUSIKNYA
-
MAANTA LIMAU DAN TRADISI BERBAGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
BATAGAK RUMAH DALAM ADAT MINANGKABAU MELIBATKAN KAUM DAN WARGA NAGARI