- Rabu, 30 September 2026
Bakaua Ka Sawah Di Kabupaten Solok Jadi Doa Sebelum Memulai Musim Tanam
Bakaua Ka Sawah di Kabupaten Solok Jadi Doa Sebelum Memulai Musim Tanam
Bakaua Ka Sawah di Kabupaten Solok merupakan tradisi yang berkaitan dengan kehidupan pertanian masyarakat Minangkabau, terutama saat warga akan memulai kembali aktivitas di sawah. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul untuk berdoa, memohon keselamatan dan hasil pertanian yang baik, sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Praktik bakaua dengan konteks pertanian tercatat di sejumlah nagari di Kabupaten Solok, termasuk Sibarambang, Aripan, Selayo dan Surian, meskipun bentuk serta waktu pelaksanaannya dapat berbeda menurut adat setempat.
Bakaua
Istilah bakaua dalam tradisi masyarakat Minangkabau berkaitan dengan kegiatan berkaul atau menyampaikan permohonan kepada Allah SWT. Dalam kajian Dede Pramayoza yang terbit di Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni pada 2021, Bakaua dijelaskan sebagai ritual yang memiliki fungsi ungkapan rasa syukur sekaligus tolak bala. Dalam konteks masyarakat yang hidup dari sawah, ritual tersebut berkaitan dengan harapan agar gangguan seperti bencana, hama pertanian dan berbagai kesulitan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat dapat dihindari.
Di Nagari Sibarambang, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, bakaua secara khusus dibahas sebagai ritual yang dilakukan sebelum atau bersamaan dengan kegiatan turun ke sawah. Kajian yang mendokumentasikan tradisi tersebut menyebut adanya doa bersama kepada Allah SWT, kemudian dalam pelaksanaan tertentu terdapat pemotongan kerbau, makan bersama dan mendoa. Bentuk pelaksanaan semacam ini menunjukkan bahwa bakaua tidak hanya berlangsung sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga melibatkan hubungan sosial antara petani, tokoh adat dan anggota masyarakat dalam satu kegiatan bersama.
Tradisi bakaua juga ditemukan di Nagari Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Dokumentasi mengenai Bakaua Ka Tampek Manjapuik Baniah yang dilaksanakan pada 25 Januari 2024 menyebut acara tersebut diawali dengan pidato adat oleh niniak mamak, kemudian dilanjutkan dengan doa dan shalawat bersama masyarakat. Ketua KAN Aripan, Herman Dt. Batuah, menyebut kegiatan itu sebagai tradisi turun-temurun masyarakat Aripan dan bagian dari ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Di Aripan, tradisi bakaua juga memiliki pola pelaksanaan yang cukup teratur. Sebuah penelitian mengenai teks Bakaua di Nagari Aripan mencatat bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab dan memiliki beberapa tempat pelaksanaan atau tampek. Penelitian itu menyebut tiga lokasi, yakni Tampek Santua di Aripan Bawah, Tampek Tabiang di Aripan Atas dan Tampek Guguak Tabek di Aripan Atas. Keberadaan tampek tersebut memperlihatkan bahwa bakaua terikat dengan ruang adat yang dikenal masyarakat nagari, bukan sekadar kegiatan berkumpul tanpa aturan tempat.
Turun Ka Sawah
Hubungan bakaua dengan kegiatan bertani juga terlihat dalam tradisi turun ka sawah di wilayah Kabupaten Solok. Di Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, terdapat tradisi Plakat Panjang Turun Ka Sawah yang berkaitan dengan penanaman padi. Penelitian Yopi Maizalti dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang menyebut tradisi tersebut berupa selamatan atau syukuran setelah panen sekaligus kegiatan untuk memulai kembali penanaman padi pada musim berikutnya. Rangkaian acaranya mencakup mufakaik atau musyawarah, mambantai jawi jantan, ritual bakauah, badua dan makan bersama.
Catatan mengenai Nagari Selayo juga memperlihatkan posisi bakaua dalam kehidupan pertanian masyarakat Solok. Penelitian sejarah tentang pelaksanaan Revolusi Hijau di Selayo menyebut acara adat bakaua digunakan pada 1974–1975 oleh pemerintah bersama tokoh masyarakat untuk memperkenalkan program Revolusi Hijau kepada petani. Sebelumnya, Selayo sudah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi penting di Kabupaten Solok. Pada 1968, produksi padi di Selayo tercatat mencapai sekitar 3,2 ton gabah per hektare, lebih tinggi dibanding beberapa nagari lain yang dibahas dalam penelitian tersebut.
Kegiatan turun ka sawah juga pernah diperlihatkan secara terbuka dalam Festival Turun Ka Sawah di Nagari Paninggahan pada April 2019, dalam rangka HUT ke-106 Kabupaten Solok. Saat itu masyarakat memperagakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan agraris, mulai dari silek lunau, menangkap ikan di sawah, menanam padi hingga makan bersama di pematang. Dokumentasi kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sawah dalam budaya masyarakat Kabupaten Solok bukan hanya tempat produksi padi, tetapi juga ruang berlangsungnya aktivitas adat dan kebersamaan.
Dalam pelaksanaan Bakaua Ka Sawah, unsur kebersamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pertanian. Penelitian tentang ritual Bakaua di Minangkabau yang diterbitkan ISI Padangpanjang pada 2021 menemukan bahwa ritual tersebut dapat dibaca sebagai simbol gotong royong dan kerukunan dalam masyarakat. Pertemuan warga melalui doa, persiapan makanan, kegiatan adat dan pelaksanaan ritual menciptakan ruang bersama bagi masyarakat nagari untuk menghadapi musim pertanian dengan kesepakatan dan hubungan sosial yang tetap terjaga.
Kehidupan Petani
Bagi masyarakat Kabupaten Solok yang memiliki tradisi pertanian padi di banyak nagari, bakaua juga berhubungan dengan cara masyarakat menempatkan hasil sawah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi Bakaua di Kota Solok, Ketua LKAAM Kota Solok Rusli Malin Maharajo Khatib Sulaiman pada 2024 menjelaskan bahwa padi dipandang sebagai sumber kehidupan sehingga makanan dari hasil pertanian tidak semestinya disia-siakan. Pada kegiatan yang berlangsung di hamparan sawah tersebut, peserta berjalan melalui pematang sambil berzikir, melantunkan shalawat dan berdoa bersama.
Meski demikian, waktu pelaksanaan bakaua tidak selalu sama di setiap daerah. Ada nagari yang mengaitkannya dengan awal kegiatan turun ke sawah, sementara tempat lain melaksanakannya setelah panen sebagai ungkapan syukur atau menggabungkan keduanya dalam satu rangkaian adat. Perbedaan tersebut terlihat dari catatan Sibarambang, Aripan dan Surian di Kabupaten Solok yang memiliki bentuk serta tahapan masing-masing. Karena itu, Bakaua Ka Sawah lebih tepat dipahami sebagai bagian dari ragam tradisi pertanian Minangkabau yang tumbuh mengikuti adat nagari masing-masing.
Ketika masyarakat berkumpul sebelum kembali mengerjakan sawah, yang dilakukan bukan hanya menyiapkan lahan dan benih. Di sejumlah nagari Kabupaten Solok, ada doa, pidato adat, mufakaik, makan bersama serta keterlibatan niniak mamak, alim ulama dan masyarakat. Dari rangkaian itulah Bakaua Ka Sawah tetap terkait dengan kehidupan sosial warga, karena musim tanam tidak hanya menyangkut pekerjaan petani secara pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan bersama dalam nagari.
Sawah akhirnya menjadi ruang yang mempertemukan dua hal yang berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Solok, pekerjaan bertani dan praktik adat. Setiap kali tradisi bakaua dilaksanakan, doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT berjalan bersama kegiatan yang melibatkan masyarakat nagari. Dari sanalah tradisi ini tetap mudah dikenali, karena keberadaannya tidak jauh dari sawah, padi, mufakaik, doa dan kebersamaan warga yang menjalani musim pertanian.
Editor : melatisan
Tag :Bakaua, Ka Sawah, di Kabupaten Solok, Jadi Doa, Sebelum Memulai, Musim Tanam
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SILEK LANYAH DI PADANG PANJANG BERAWAL DARI PENGEMBANGAN SILEK TUO GUNUANG
-
INDANG SOLOK TUMBUH DARI TRADISI MUSIK DAN GERAK MASYARAKAT NAGARI
-
TARI TUPAI JANJANG KOTO HILALANG MENGGAMBARKAN PERBURUAN DAN KEHIDUPAN ANAK NAGARI
-
TARI TUPAI JANJANG KOTO HILALANG MENGGAMBARKAN PERBURUAN DAN KEHIDUPAN ANAK NAGARI
-
TARI PIRIANG BALENGGEK LUNTO MEMILIKI GERAK BERTINGKAT YANG KHAS