- Selasa, 22 September 2026
Bakaua Adat Sijunjung, Tradisi Syukur Yang Berkaitan Dengan Musim Bertani
Bakaua Adat Sijunjung, Tradisi Syukur yang Berkaitan dengan Musim Bertani
Bakaua Adat di Kabupaten Sijunjung merupakan tradisi masyarakat yang berkaitan erat dengan pertanian, terutama kegiatan turun ke sawah dan hasil panen padi. Tradisi ini tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Barat melalui SK Nomor 414/P/2022 dalam domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan. Dalam pelaksanaannya, Bakaua Adat tidak hanya menjadi kegiatan yang berhubungan dengan sawah, tetapi juga menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat nagari.
Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat mencatat Bakaua sebagai tradisi yang berkenaan dengan pertanian di sejumlah daerah Minangkabau. Di Sijunjung, pelaksanaannya berkembang dalam kehidupan masyarakat nagari dengan bentuk yang dapat berbeda sesuai adat setempat. Penelitian tentang Bakaua Adat di Nagari Lubuk Tarok, misalnya, mencatat tradisi tersebut sebagai kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya dan berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen serta doa agar sawah yang digarap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bakaua dan Kehidupan Petani
Hubungan Bakaua Adat dengan pertanian terlihat dari waktunya yang berkaitan dengan siklus mengolah sawah. Di sejumlah nagari Sijunjung, kegiatan ini dilaksanakan setelah panen sebagai ungkapan syukur, sedangkan dalam pelaksanaan lainnya Bakaua juga berkaitan dengan persiapan musim tanam. Karena waktu mengolah sawah tidak selalu sama di setiap daerah, bentuk dan waktu pelaksanaan Bakaua dapat mengikuti kesepakatan masyarakat masing-masing nagari.
Di Nagari Sijunjung, tradisi Bakaua Adat dilaksanakan di Los Tabek, sebuah tempat pertemuan adat yang berada di kawasan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung. Tempat tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai unsur masyarakat, mulai dari niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, Bundo Kanduang, wali nagari, perangkat pemerintahan hingga masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pertanian.
Keterlibatan banyak unsur tersebut menunjukkan bahwa urusan pertanian dalam kehidupan nagari tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan masing-masing pemilik sawah. Bakaua menjadi kesempatan untuk mempertemukan masyarakat dalam satu kegiatan adat. Dalam tradisi yang dilaksanakan di Nagari Sijunjung, tujuan yang disebutkan dalam dokumentasi pemerintah juga mencakup mempererat silaturahmi dan kekompakan masyarakat tani dalam menggarap sawah.
Penelitian Rian Yuniarti mengenai Bakaua Adat di Nagari Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, mencatat bahwa penyelenggaraan Bakaua diawali dengan beberapa kali mufakat untuk menentukan pelaksanaannya. Setelah kesepakatan diperoleh, masyarakat melakukan persiapan seperti gotong royong, menyiapkan kebutuhan acara, menyembelih kerbau dan memasak makanan. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan adat membutuhkan kerja bersama sebelum acara utama dilaksanakan.
Musyawarah dan Doa Bersama
Musyawarah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Bakaua Adat di sejumlah nagari Sijunjung. Penelitian mengenai Nagari Lalan mencatat adanya empat tahap mufakat sebelum acara dilaksanakan. Tahapan tersebut diperlukan untuk menentukan berbagai keperluan kegiatan, sehingga Bakaua tidak hanya berlangsung sebagai ritual, tetapi juga menjadi kegiatan sosial yang melibatkan banyak anggota masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, unsur keagamaan juga mempunyai posisi penting. Di Nagari Sijunjung, Bakaua dipimpin oleh orang siak atau pemuka agama yang dipilih berdasarkan kesepakatan masyarakat. Doa yang dipanjatkan berkaitan dengan rasa syukur atas hasil pertanian serta permohonan agar masyarakat mendapatkan keselamatan dan hasil pertanian yang baik. Unsur doa ini memperlihatkan pertemuan antara adat Minangkabau dan kehidupan keagamaan masyarakat nagari.
Bentuk Bakaua juga tidak selalu sama di setiap wilayah Sijunjung. Dokumentasi mengenai Nagari Tanjung Bonai Aur, misalnya, membedakan Bakaua menjadi bakaua ketek dan bakaua gadang. Bakaua ketek dilaksanakan dalam lingkup yang lebih sederhana, sedangkan bakaua gadang melibatkan masyarakat yang lebih luas dan dapat disertai penyembelihan hewan untuk jamuan. Perbedaan ini menjadi salah satu contoh bahwa adat salingka nagari turut memengaruhi cara sebuah tradisi dilaksanakan.
Pada beberapa pelaksanaan, masyarakat juga menyiapkan makanan tradisional sebelum acara utama. Di Tanjung Bonai Aur, misalnya, persiapan Bakaua dapat melibatkan pembuatan lamang, tapai puluik hitam dan ampiang. Makanan tersebut bukan hanya hidangan, tetapi menjadi bagian dari kegiatan bersama yang mempertemukan anggota masyarakat sebelum rangkaian Bakaua berlangsung.
Makan Bajamba di Los Tabek
Salah satu bagian yang dikenal dalam Bakaua Adat di Nagari Sijunjung adalah Makan Bajamba. Setelah rangkaian doa dan kegiatan adat selesai, masyarakat berkumpul untuk makan bersama. Dokumentasi Kementerian Pariwisata mencatat Makan Bajamba sebagai bagian akhir dari prosesi Bakaua Adat di Los Tabek Nagari Sijunjung.
Makan Bajamba juga memperlihatkan hubungan Bakaua dengan kehidupan sosial masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, makanan disiapkan dan dinikmati secara bersama oleh masyarakat yang hadir. Pada pelaksanaan di Nagari Sijunjung, Bundo Kanduang menjadi salah satu unsur masyarakat yang terlibat dalam penyediaan dan pembawaan hidangan. Kehadiran perempuan adat dalam rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa Bakaua tidak hanya menjadi urusan kelompok petani laki-laki.
Kegiatan seperti ini membuat Bakaua memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar ritual yang berkaitan dengan hasil pertanian. Ada musyawarah yang melibatkan tokoh nagari, doa yang dipimpin pemuka agama, gotong royong dalam persiapan, serta makan bersama setelah kegiatan adat. Semua unsur tersebut berlangsung dalam satu rangkaian yang mempertemukan masyarakat dari berbagai kelompok.
Keberadaan Bakaua Adat juga masih terlihat di sejumlah nagari Sijunjung dengan bentuk yang mengikuti kondisi masyarakat setempat. Pemerintah Nagari Koto Baru, Kecamatan IV Nagari, misalnya, mencatat pelaksanaan Berkaul Adat atau Bakaua Adat pada April 2026 sebagai kegiatan syukur setelah panen yang memadukan unsur adat dan keagamaan. Di Nagari Kumanis dan Nagari Tanjung Gadang, agenda Bakaua juga tercatat dalam kalender kegiatan budaya daerah dan berkaitan dengan hasil panen padi.
Bagi masyarakat Sijunjung, sawah tidak hanya menjadi tempat menghasilkan padi, tetapi juga berkaitan dengan hubungan antarwarga dalam nagari. Bakaua Adat mempertemukan kegiatan pertanian dengan musyawarah, doa, gotong royong dan makan bersama. Karena itu, ketika warga berkumpul di Los Tabek atau tempat adat lainnya untuk menjalankan Bakaua, yang dibicarakan bukan hanya hasil panen, tetapi juga hubungan masyarakat yang selama ini ikut menopang kehidupan nagari.
Editor : melatisan
Tag :Bakaua Adat Sijunjung, Tradisi Syukur, yang Berkaitan, dengan, Musim Bertani
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAAPAM PASAMAN BARAT DAN TRADISI MEMBUAT APAM YANG BERTAHAN DI MASYARAKAT
-
MANGAJIAN PADI DI NAGARI SUPAYANG DAN PENGETAHUAN LOKAL PETANI
-
TRADISI TUNDUAK KOTA SOLOK DAN MAKNA DI BALIK ARAKANNYA
-
TRADISI BOTATAH DI NAGARI LANSEK KADOK PASAMAN DAN CERITA TURUN TANAH DARI PADANG NUNANG
-
TRADISI DORO DAN SANKSI ADAT DI NAGARI SIALANG LIMA PULUH KOTA