HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 27 September 2026

Bahasa Pondok Tumbuh Dari Perjumpaan Bahasa Minang Dan Budaya Tionghoa Di Kota Padang

Bahasa Pondok Tumbuh dari Perjumpaan Bahasa Minang dan Budaya Tionghoa di Kota Padang

Oleh: Andika Putra Wardana

Kampung Pondok di Kota Padang tidak hanya dikenal sebagai salah satu kawasan yang kuat dengan jejak masyarakat Tionghoa, tetapi juga sebagai ruang pertemuan bahasa dan budaya yang melahirkan kekhasan berbahasa. Di kawasan yang berada di Kecamatan Padang Barat itu, masyarakat Tionghoa telah berinteraksi dengan masyarakat Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui perdagangan dan hubungan sosial. Dari proses panjang tersebut kemudian dikenal istilah Bahasa Minang Pondok atau yang dalam percakapan masyarakat sering disebut Bahasa Pondok. Penelitian Riniwaty Makmur, Engkus Kuswarno, Evi Novianti, dan Nuryah Asri Sjafirah yang diterbitkan dalam Jurnal Kajian Komunikasi Universitas Padjadjaran pada 2018 menyebut bahasa tersebut sebagai hasil penyesuaian masyarakat Tionghoa terhadap bahasa masyarakat Minangkabau di Kota Padang.

Kampung Pondok sebagai Ruang Pertemuan

Sejarah Bahasa Pondok tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kampung Pondok sebagai kawasan permukiman dan perdagangan masyarakat Tionghoa di Padang. Penelitian tentang kehidupan sosial Kampung Pondok yang diterbitkan UIN Imam Bonjol Padang pada 2024 mencatat kawasan tersebut sebagai bagian penting dari perkembangan awal Kota Padang. Para pedagang yang datang melalui jalur laut menuju kawasan muara Batang Arau kemudian membangun permukiman di sekitar wilayah tersebut. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa juga mendapat ruang permukiman di Kampung Pondok sehingga kawasan itu berkembang sebagai pusat kehidupan komunitas Tionghoa di Padang.

Perkembangan Kampung Pondok kemudian tidak hanya membentuk lingkungan permukiman, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan pedagang Tionghoa dengan masyarakat Minangkabau. Penelitian Makmur dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa kawasan Pondok berkaitan dengan sejarah panjang permukiman masyarakat Tionghoa sejak masa Hindia Belanda. Kelenteng, rumah duka, gedung perkumpulan atau kongsi, serta berbagai aktivitas perdagangan pernah menjadi bagian dari kehidupan kawasan tersebut. Pasar dan kegiatan jual beli membuat interaksi antarkelompok berlangsung dalam kebutuhan yang sangat praktis, termasuk kebutuhan untuk saling memahami bahasa.

Hubungan tersebut ikut menjelaskan mengapa Bahasa Minang menjadi salah satu bahasa yang digunakan masyarakat Tionghoa di Padang dalam komunikasi sehari-hari. Penelitian yang dilakukan melalui observasi dan wawancara pada Januari 2016 hingga Juni 2017 melibatkan 39 informan dari masyarakat Tionghoa dan Minang di kawasan Kampung Pondok. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa Bahasa Minang Pondok terbentuk sebagai penyesuaian untuk mencapai pemahaman dalam komunikasi antara masyarakat Tionghoa dan kelompok mayoritas Minangkabau di Kota Padang.

Bahasa Minang dengan Lafal yang Berbeda

Kekhasan Bahasa Pondok terlihat dari cara kata-kata Bahasa Minang mengalami perubahan ketika digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Padang. Penelitian dalam Jurnal Kajian Komunikasi menyebut perubahan tersebut terjadi pada aspek fonologis atau bunyi dan morfologis atau bentuk kata. Bahasa Minang yang digunakan tidak sepenuhnya sama dengan bentuk yang umum digunakan oleh penutur Minang lainnya karena dipengaruhi oleh dialek Tionghoa dalam pengucapan.

Contohnya dapat dilihat pada sejumlah kosakata yang dicatat peneliti dari hasil observasi 2016 dan 2017. Kata “aia” dalam Bahasa Minang yang berarti air dapat terdengar sebagai “aek” dalam Bahasa Minang Pondok. Kata “ambiak” berubah menjadi “ambek”, “angkuik” menjadi “angkuk”, sedangkan “angsua” menjadi “angsu”. Pada kata lain, “baok” menjadi “bawak”, “cabuik” menjadi “cabuk”, “campua” menjadi “campu”, dan “ituang” menjadi “etong”. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa kekhasan Bahasa Pondok tidak hanya terletak pada kosakata, tetapi juga pada cara bunyi tertentu diucapkan.

Perubahan bunyi itu membuat percakapan masyarakat Tionghoa di Padang memiliki ciri yang dapat dikenali oleh orang yang sudah terbiasa mendengarnya. Penelitian tersebut menggambarkan Bahasa Minang Pondok sebagai Bahasa Minang yang digunakan dengan ciri dialek Tionghoa. Beberapa cengkok atau pola pelafalan dalam Bahasa Minang mengalami perubahan sehingga menghasilkan bentuk tutur yang berbeda dari Bahasa Minang yang digunakan masyarakat Minangkabau pada umumnya. Karena itu, Bahasa Pondok lebih tepat dipahami sebagai fenomena kebahasaan yang tumbuh dari interaksi sosial, bukan sekadar kumpulan kata yang berbeda.

Pengaruh budaya Tionghoa juga terlihat dalam penggunaan istilah kekerabatan. Penelitian Makmur dan tim mencatat adanya panggilan seperti “Ii” untuk tante dan “Icik” untuk tante paling kecil. Istilah “Icik” dijelaskan sebagai bentuk gabungan dari “Ii”, yang berkaitan dengan panggilan dalam bahasa Mandarin atau Hokkian, dengan kata “kecik” dalam Bahasa Minang. Ada pula “Cidang” yang berasal dari “cici” dan “gadang”, serta “Kokogadang” yang menggabungkan “koko” dan “gadang”. Bentuk tersebut memperlihatkan bahwa hubungan keluarga dan sistem panggilan dalam budaya Tionghoa ikut masuk ke dalam pola bahasa yang digunakan sehari-hari di Padang.

Bahasa Pondok dalam Kehidupan Kota Padang

Bahasa Pondok pada akhirnya tidak berdiri sendiri dari kehidupan sosial Kampung Pondok. Bahasa tersebut berkembang karena ada kebutuhan komunikasi antara masyarakat dengan latar budaya berbeda. Perdagangan menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut. Masyarakat Tionghoa yang menjalankan aktivitas perdagangan perlu berhubungan dengan pembeli, pemasok, pekerja, dan masyarakat sekitar yang banyak menggunakan Bahasa Minang. Bahasa kemudian menjadi bagian dari proses adaptasi yang berlangsung dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian Makmur menyebut kemampuan membangun pemahaman bersama sebagai salah satu faktor terbentuknya Bahasa Minang Pondok.

Jejak percampuran itu juga dapat dilihat dalam ruang publik Kampung Pondok. Kajian tentang lanskap linguistik di kawasan tersebut menemukan penggunaan Bahasa Indonesia, Bahasa Tionghoa, Bahasa Minangkabau, dan Bahasa Inggris pada berbagai tanda publik. Penelitian itu mencatat bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dominan dalam tanda-tanda umum, sementara bahasa Tionghoa tetap muncul pada papan nama usaha dan identitas perkumpulan. Pada sejumlah tanda, bahkan ditemukan penggunaan beberapa bahasa sekaligus, menunjukkan bahwa ruang publik Kampung Pondok masih memperlihatkan pertemuan berbagai latar kebahasaan.

Perubahan kawasan juga ikut memengaruhi keberadaan masyarakat dan penggunaan bahasa. Penelitian tahun 2018 mencatat bahwa perkembangan permukiman baru di luar kawasan pecinan serta gempa besar Padang pada 2009 mendorong sebagian masyarakat Tionghoa berpindah dari kawasan Pondok. Meski demikian, Kampung Pondok tetap menjadi penanda penting keberadaan komunitas Tionghoa di Kota Padang. Kajian tentang masyarakat Tionghoa Padang yang diterbitkan pada 2022 juga menempatkan Kelurahan Kampung Pondok sebagai ruang publik dan ruang religi, sekaligus kawasan yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan perayaan budaya Tionghoa.

Keberadaan Bahasa Pondok karena itu memperlihatkan bagaimana sebuah bahasa dapat berubah ketika digunakan oleh masyarakat dengan latar budaya berbeda. Kata-kata Minang tetap menjadi bagian penting dalam percakapan, tetapi cara pengucapan dan sejumlah istilah kekerabatan mendapat pengaruh dari bahasa serta kebiasaan masyarakat Tionghoa. Di Kampung Pondok, perjumpaan itu berlangsung melalui pasar, keluarga, lingkungan permukiman, dan hubungan sosial yang terbentuk dalam waktu panjang.

Hari ini, kawasan Pondok tidak lagi memiliki bentuk yang sama seperti pada masa awal perkembangan pecinan Padang. Namun, nama Kampung Pondok masih mengingatkan pada ruang tempat berbagai kelompok bertemu dan membangun cara berkomunikasi. Bahasa Pondok menjadi salah satu jejak yang tersisa dari proses tersebut. Kekhasannya terdengar bukan hanya dari satu atau dua kata, tetapi dari cara Bahasa Minang digunakan dengan pengaruh pelafalan dan istilah yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Tionghoa Padang.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Bahasa Pondok, Tumbuh, dari Perjumpaan, Bahasa Minang, dan Budaya Tionghoa, di Kota Padang

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com