- Rabu, 7 Oktober 2026
Alek Bakajang Gunuang Malintang, Tradisi Perahu Yang Meramaikan Lebaran Di Lima Puluh Kota
Alek Bakajang Gunuang Malintang, Tradisi Perahu yang Meramaikan Lebaran di Lima Puluh Kota
Alek Bakajang merupakan tradisi masyarakat Nagari Gunuang Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang digelar setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini menggunakan perahu kajang yang dihias menyerupai kapal dan kemudian dibawa menyusuri Sungai Batang Maek. Alek Bakajang menjadi bagian dari kegiatan silaturahmi anak nagari sekaligus perayaan adat yang melibatkan masyarakat dari berbagai unsur.
Pelaksanaan Alek Bakajang saat ini berlangsung dalam bentuk yang lebih besar dibandingkan kebiasaan lama masyarakat Gunuang Malintang. Pada 2026, kegiatan tersebut berlangsung pada 24 sampai 28 Maret atau hari keempat hingga kedelapan Syawal. Perahu kajang yang sebelumnya digunakan sebagai alat transportasi untuk saling mengunjungi keluarga saat Lebaran kini dibuat dengan bentuk yang lebih menarik dan menjadi bagian utama dalam alek tahunan di Nagari Gunuang Malintang.
Kajang dan Sungai Batang Maek
Nama Bakajang berkaitan dengan kajang, yaitu perahu atau sampan yang dahulu digunakan masyarakat Gunuang Malintang untuk menyusuri sungai. Kondisi geografis Nagari Gunuang Malintang yang dilalui Sungai Batang Maek membuat sungai memiliki peran dalam hubungan antarwarga pada masa ketika akses jalan darat belum seperti sekarang. Masyarakat menggunakan perahu untuk manjalang atau mengunjungi sanak keluarga ketika suasana Idul Fitri.
Kebiasaan menggunakan perahu untuk berkunjung tersebut kemudian berkembang menjadi Alek Bakajang. Kajang yang dahulu memiliki fungsi transportasi berubah menjadi perahu hias yang dibuat secara bersama-sama oleh masyarakat. Dalam pelaksanaan sekarang, bentuknya bahkan dibuat menyerupai kapal pesiar atau bangunan tertentu sehingga menjadi perhatian ketika dibawa ke Sungai Batang Maek. Perubahan bentuk itu tetap mempertahankan unsur utama tradisi, yakni perahu dan kegiatan masyarakat di lingkungan sungai.
Pembuatan kajang membutuhkan keterlibatan anak nagari. Masyarakat bekerja bersama untuk membuat dan menghias perahu sebelum kegiatan berlangsung. Pada pelaksanaan 2023, misalnya, pemerintah daerah mencatat keterlibatan empat pasukuan yang ada di Gunuang Malintang dalam pembuatan kapal Bakajang, yaitu Suku Domo, Melayu, Pagar Cancang, dan Piliang. Setiap unsur masyarakat memiliki ruang untuk terlibat dalam persiapan alek tersebut.
Keterlibatan niniak mamak juga terlihat dalam penyelenggaraan Alek Bakajang. Dalam sambutan penutupan Alek Bakajang 2023, unsur adat seperti datuak pangulu, niniak mamak, Bundo Kanduang, pemuda, alim ulama, cadiak pandai, dan tokoh masyarakat disebut sebagai bagian dari masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa Alek Bakajang tidak hanya dikerjakan oleh kelompok pembuat perahu, tetapi melibatkan berbagai unsur dalam kehidupan nagari.
Alek Bakajang Setelah Lebaran
Alek Bakajang dilaksanakan setelah Lebaran dan berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat Gunuang Malintang dalam mempererat hubungan keluarga serta hubungan antar-anak nagari. Pada masa lalu, kegiatan manjalang dilakukan dengan menggunakan perahu untuk mendatangi keluarga yang berada di kawasan lain di sepanjang aliran sungai. Bentuk kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah perayaan yang ditunggu masyarakat setiap tahun.
Dalam pelaksanaan modern, perahu kajang tidak lagi digunakan semata-mata sebagai alat transportasi untuk mengunjungi keluarga. Perahu dihias dengan tema tertentu dan diarak melalui Sungai Batang Maek. Pada 2026, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota menyebut Alek Bakajang berlangsung selama lima hari, dengan rangkaian kegiatan yang juga mencakup upacara adat di beberapa istana adat, pertunjukan seni, kuliner tradisional, serta kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat dan pengunjung.
Perayaan tersebut membuat sungai kembali menjadi ruang penting dalam kegiatan masyarakat Gunuang Malintang. Sungai Batang Maek tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan nagari, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya atraksi utama Alek Bakajang. Perahu-perahu yang telah dihias dibawa menyusuri aliran sungai sehingga hubungan masyarakat dengan lingkungan sungai terlihat langsung dalam bentuk kegiatan budaya.
Alek Bakajang juga mempertemukan masyarakat kampung dengan para perantau dan pengunjung yang datang saat Lebaran. Pada pelaksanaan 2023, penutupan kegiatan di Jorong Baliak Bukik dihadiri ribuan masyarakat dan wisatawan. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perayaan yang berawal dari kebiasaan manjalang keluarga telah berkembang menjadi agenda budaya yang menarik perhatian masyarakat di luar Gunuang Malintang.
Perubahan bentuk Alek Bakajang membuat tradisi ini kemudian dikenal lebih luas di luar Nagari Gunuang Malintang. Pada Anugerah Pesona Indonesia 2021, Alek Bakajang meraih Juara I kategori Atraksi Budaya. Penghargaan tersebut ikut memperkenalkan tradisi perahu dari Gunuang Malintang sebagai salah satu atraksi budaya Kabupaten Lima Puluh Kota.
Alek Bakajang juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan tradisi ini ketika masyarakat dan pemerintah daerah mulai memberi perhatian lebih besar terhadap dokumentasi serta penyelenggaraannya. Meski bentuk acaranya semakin besar, pelaksanaan Alek Bakajang tetap berpusat di Nagari Gunuang Malintang dan menggunakan Sungai Batang Maek sebagai bagian penting dari tradisinya.
Di Gunuang Malintang, Alek Bakajang juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk bekerja bersama. Pembuatan perahu, persiapan kegiatan, pelaksanaan arak-arakan, hingga rangkaian acara adat membutuhkan keterlibatan anak nagari. Karena itu, perayaan ini tidak hanya terlihat ketika perahu sudah berada di sungai. Banyak pekerjaan dilakukan sebelum hari pelaksanaan dan melibatkan unsur adat, pemuda, keluarga, serta masyarakat nagari.
Kini Alek Bakajang dikenal sebagai salah satu tradisi khas Nagari Gunuang Malintang di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bentuknya memang telah berkembang menjadi perayaan budaya dan atraksi wisata, tetapi hubungan dengan kehidupan masyarakat sungai masih terlihat dari penggunaan kajang dan Sungai Batang Maek. Setiap kali perahu kembali dihias dan dibawa menyusuri sungai setelah Lebaran, masyarakat Gunuang Malintang kembali menghidupkan bagian dari kebiasaan lama yang dahulu digunakan untuk saling menjalang dan bertemu keluarga.
Editor : melatisan
Tag :Alek Bakajang, Gunuang Malintang, Tradisi Perahu, yang Meramaikan, Lebaran, di Lima Puluh Kota
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SIJOBANG LIMA PULUH KOTA MENGHIDUPKAN KISAH ANGGUN NAN TONGGA LEWAT SENI TUTUR
-
TAMBUA TANSA PADANG PARIAMAN MENGIRINGI ARAK-ARAKAN DAN ALEK ANAK NAGARI
-
PUPUIK BATANG PADI DI AGAM TUMBUH DARI TRADISI MASYARAKAT SAWAH
-
RONGGENG PASAMAN DI PASAMAN BARAT PADUKAN PANTUN, MUSIK, DAN TARI
-
BAKUREH DI PESISIR SELATAN, TRADISI GOTONG ROYONG DALAM PERSIAPAN ACARA ADAT