- Selasa, 8 September 2026
Tari Toga Dan Latar Budaya Masyarakat Minangkabau
Tari Toga dan Latar Budaya Masyarakat Minangkabau
Tari Toga merupakan kesenian tradisional yang berkembang di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Tari ini memiliki hubungan dengan sejarah Kerajaan Siguntur dan dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat Minangkabau di wilayah tersebut. Pemerintah menetapkan Tari Toga sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014 dalam kategori seni pertunjukan, dengan lokasi budaya di Siguntur dan etnis pengampu Minangkabau.
Keberadaan Tari Toga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan budaya Siguntur yang memiliki sejarah kerajaan. Penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menyebut Tari Toga telah ada sejak masa Kerajaan Siguntur. Dalam perkembangannya, tari tersebut mengalami beberapa tahap pewarisan, mulai dari masa kerajaan, masa penjajahan, hingga periode setelah Indonesia merdeka. Perubahan pada setiap periode ikut memengaruhi bentuk Tari Toga yang dikenal masyarakat sekarang.
Nama Toga juga memiliki penjelasan yang berasal dari bahasa setempat. Dalam dokumentasi Warisan Budaya Takbenda, istilah Toga disebut berasal dari kata togaan dalam bahasa Siguntur yang berarti larangan. Penjelasan mengenai nama tersebut menjadi salah satu bagian dari keterangan budaya yang melekat pada Tari Toga. Namun, cerita mengenai asal-usul tari dan kisah yang menjadi dasar syairnya juga banyak disampaikan melalui tradisi lisan masyarakat Siguntur.
Cerita Kerajaan Siguntur
Salah satu cerita yang dikenal dalam Tari Toga berkaitan dengan Sutan Elok. Berdasarkan keterangan dalam dokumentasi Warisan Budaya Takbenda, Sutan Elok disebut sebagai seorang yang baik hati yang kemudian meninggal setelah ditanduk kerbau. Pemilik kerbau, Bujang Salamaik, kemudian dibawa menghadap raja untuk menjalani proses pengadilan. Raja selanjutnya mengeluarkan titah hukuman terhadap Bujang Salamaik. Cerita inilah yang menjadi salah satu dasar alur dalam Tari Toga.
Penelitian tentang syair Tari Toga yang diterbitkan dalam Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni juga mencatat bahwa masyarakat Siguntur mewariskan cerita mengenai sebuah peristiwa nahas yang menimpa putra mahkota kerajaan. Penelitian tersebut menempatkan syair sebagai bagian penting dalam tari karena cerita tidak hanya disampaikan melalui gerakan, tetapi juga melalui dendangan. Keterangan tentang peristiwa tersebut terutama bersumber dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga tidak semuanya dapat diperlakukan sebagai catatan sejarah kerajaan yang berdiri sendiri.
Dalam penyajiannya, Tari Toga memiliki dua unsur utama, yaitu gerak dan syair. Syair digunakan untuk menyampaikan cerita, sementara gerak tari menggambarkan bagian-bagian tertentu dari kehidupan dan cerita yang dibawakan. Penelitian Irdawati mengenai Tari Toga juga menemukan adanya simbol gerak yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat, termasuk gerakan yang berhubungan dengan kehidupan pertanian.
Tari Toga pada masa kerajaan juga memiliki kaitan dengan lingkungan istana. Dokumentasi budaya menyebut unsur utama pertunjukan terdiri atas penari, pendendang, dan pemusik. Dalam cerita pertunjukannya terdapat pula tokoh seperti raja, hulubalang, dayang-dayang, dan terdakwa. Susunan tersebut memperlihatkan bahwa Tari Toga tidak hanya berupa rangkaian gerakan tari, tetapi membawa bentuk penceritaan yang melibatkan sejumlah tokoh.
Bentuk Pertunjukan
Musik menjadi bagian penting dalam Tari Toga. Beberapa alat yang digunakan antara lain momongan, kemong, gong, canang, dan gandang. Bunyi dari alat-alat tersebut mengiringi gerak penari sekaligus mendukung penyampaian syair. Dalam konteks pertunjukan tradisional, pendendang memiliki posisi penting karena syair menjadi salah satu unsur utama untuk menjelaskan cerita yang dibawakan.
Penelitian mengenai fungsi dan simbol Tari Toga mencatat bahwa bentuk awalnya berkaitan dengan pertunjukan estetis yang dilakukan dayang-dayang untuk raja. Seiring perubahan fungsi sosialnya, Tari Toga kemudian ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Penelitian tersebut mencatat penggunaannya dalam upacara penobatan raja, penyambutan tamu kerajaan, pengangkatan penghulu, dan pesta perkawinan.
Perubahan fungsi juga membuat Tari Toga tidak lagi hanya berada dalam lingkungan kerajaan. Setelah masa kerajaan, tari ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Siguntur. Dalam perkembangannya, Tari Toga digunakan dalam berbagai acara daerah, termasuk penyambutan tamu dan peringatan hari jadi Kabupaten Dharmasraya. Penelitian Refisrul mencatat bahwa pemerintah daerah kemudian menetapkan Tari Toga sebagai salah satu tarian yang ditampilkan dalam peringatan hari ulang tahun kabupaten.
Ada pula keterangan mengenai masa penjajahan Belanda yang memengaruhi keberadaan Tari Toga. Penelitian Refisrul menyebut bahwa pada periode tersebut bentuk tari tidak lagi ditampilkan seperti sebelumnya, sementara bait dan syairnya tetap disampaikan dalam kegiatan masyarakat. Penelitian yang sama menjelaskan bahwa setelah kemerdekaan dilakukan proses revitalisasi sehingga bentuk tari kembali dipelajari dan ditampilkan.
Pewarisan di Siguntur
Pewarisan menjadi bagian penting dalam perjalanan Tari Toga. Penelitian yang dilakukan Refisrul menunjukkan bahwa proses pewarisan pada masa kerajaan berlangsung secara tradisional. Anak-anak masyarakat Siguntur mengenal tari melalui lingkungan tempat mereka tumbuh dan kegiatan pertunjukan yang ada di sekitar mereka. Proses tersebut tidak berlangsung seperti pembelajaran formal dengan ruang kelas dan jadwal tertentu, tetapi melalui kebiasaan melihat, mengikuti, dan mempelajari pertunjukan.
Pada periode berikutnya, proses pewarisan mengalami perubahan. Penelitian tahun 2017 mencatat adanya persoalan seperti semakin sedikitnya pemahaman generasi muda terhadap bahasa lama yang terdapat dalam syair Tari Toga serta rendahnya apresiasi terhadap kesenian tersebut. Faktor lain yang disebut adalah dukungan pemerintah daerah yang pada waktu itu belum optimal. Kondisi tersebut membuat pewarisan Tari Toga tidak hanya bergantung pada keberadaan pelaku seni, tetapi juga pada lingkungan masyarakat dan pemerintah.
Salah satu tokoh yang banyak disebut dalam penelitian mengenai perkembangan Tari Toga adalah Marhasnida. Penelitian Hendra Naldi dan sejumlah peneliti dari Universitas Indonesia yang terbit pada 2023 mencatat keterlibatan Marhasnida dalam pelestarian Tari Toga sejak 1990. Upaya tersebut dilakukan melalui pertunjukan, pengembangan pembelajaran, dan pelibatan siswa di lingkungan pendidikan. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa Tari Toga kemudian dipentaskan dalam berbagai kegiatan di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Peran sekolah juga menjadi salah satu perkembangan baru dalam proses pewarisan Tari Toga. Penelitian 2023 mencatat bahwa lembaga pendidikan dan siswa menjadi bagian dari upaya pembinaan penari muda. Pola ini berbeda dengan pewarisan pada masa kerajaan yang lebih banyak berlangsung melalui lingkungan sosial masyarakat. Sekolah kemudian menjadi salah satu tempat untuk mengenalkan gerak dan pengetahuan tentang Tari Toga kepada generasi berikutnya.
Saat ini, Tari Toga tercatat sebagai salah satu kesenian yang berkaitan erat dengan identitas budaya Nagari Siguntur dan Kabupaten Dharmasraya. Penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2014 memperkuat pencatatan pemerintah terhadap kesenian tersebut. Sementara itu, penelitian mengenai pewarisannya menunjukkan bahwa perjalanan Tari Toga terus berkaitan dengan masyarakat Siguntur, keturunan Kerajaan Siguntur, pelaku seni, sekolah, dan pemerintah daerah.
Tari Toga dengan cerita tentang kehidupan kerajaan, syair, gerak, dan musiknya menjadi bagian khusus dari kebudayaan masyarakat Siguntur. Berbeda dari banyak tari Minangkabau yang berkembang luas di berbagai daerah, Tari Toga dalam sumber-sumber penelitian disebut hanya terdapat di Nagari Siguntur. Karena itu, pembahasan tentang Tari Toga juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah lokal Siguntur dan proses pewarisan yang berlangsung di masyarakat Dharmasraya.
Editor : melatisan
Tag :Tari Toga, dan Latar Budaya, Masyarakat, Minangkabau
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RABAB PASISIA DAN CERITA YANG DIBAWAKAN PARA TUKANG RABAB
-
DENDANG PAUAH SEBAGAI SENI TUTUR MASYARAKAT MINANGKABAU
-
SIJOBANG DAN CARA CERITA MINANGKABAU DIWARISKAN ANTARGENERASI
-
BADIA BALANSA DALAM HIBURAN DAN TRADISI MASYARAKAT MINANGKABAU
-
TRADISI BATOMBE DI NAGARI ABAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBANGUNAN RUMAH GADANG
-
KALAU ALAM SUDAH MENEGUR, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
MEMAHAT MANUSIA, BUKAN MENUMPUK BETON: BERGURU KE SULAWESI TENGAH
-
MADING LEMBAGA MAHASISWA JURUSAN SASTRA MINANGKABAU RESMI DIAKTIFKAN KEMBALI
-
KAPAN TERAKHIR KE PASAR? CATATAN JURNALISTIK HENDRY CH BANGUN
-
MELAWAN ARUS ALGORITMA: KETIKA PERS SUMATERA BARAT MEMILIH MENGHARGAI "SUNYI" DI UJUNG NEGERI