- Selasa, 8 September 2026
Rabab Pasisia Dan Cerita Yang Dibawakan Para Tukang Rabab
Rabab Pasisia dan Cerita yang Dibawakan Para Tukang Rabab
Rabab Pasisia berkembang sebagai kesenian tutur masyarakat di wilayah Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dalam pertunjukannya, seorang tukang rabab memainkan alat musik gesek sambil mendendangkan kaba atau cerita dalam bahasa Minangkabau. Pertunjukan ini pernah menjadi bagian dari berbagai acara masyarakat, seperti baralek, keramaian nagari, dan perhelatan adat. Penelitian tentang Rabab Pasisia juga mencatat keberadaannya di sejumlah wilayah Pesisir Selatan, termasuk Lengayang, Batang Kapas, Koto XI Tarusan, dan nagari lainnya.
Rabab Pasisia berbeda dengan beberapa bentuk rabab lain yang berkembang di Minangkabau. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat adanya Rabab Pariaman, Rabab Darek, dan Rabab Pesisir Selatan. Rabab Pesisir Selatan memiliki bentuk seperti biola dengan empat senar dan dalam penyajiannya dikenal pula dengan istilah babiola. Perkembangan alat ini kemudian memengaruhi bentuk pertunjukan, karena cerita yang sebelumnya disampaikan melalui seni tutur mendapat iringan musik gesek.
Tukang Rabab
Orang yang membawakan pertunjukan disebut tukang rabab. Ia tidak hanya dituntut mampu memainkan alat musik, tetapi juga harus menguasai bahasa Minangkabau, pantun, kaba, adat, dan cara berkomunikasi dengan penonton. Penelitian mengenai pertunjukan Rabab Pasisia di Nagari Talao, Pesisir Selatan, pada 2024 mencatat bahwa kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari kompetensi seorang tukang rabab. Ia harus dapat menyampaikan cerita sekaligus menyesuaikan penyajiannya dengan suasana pertunjukan.
Tukang rabab juga memiliki ruang untuk melakukan improvisasi. Dalam pertunjukan, mereka dapat menggunakan pantun dan talibun untuk menyampaikan bagian tertentu dari cerita. Bentuk penyampaian seperti ini membuat kaba yang dibawakan tidak selalu terdengar sama dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain. Penelitian tentang Rabab Pasisia bahkan mencatat adanya interaksi antara tukang rabab dan penonton melalui dendangan yang disampaikan secara bersahutan.
Kemampuan bercerita menjadi salah satu bagian penting dari profesi tersebut. Kajian mengenai lima pemain Rabab Pasisia di Pesisir Selatan yang diterbitkan BKSNT Padang mencatat bahwa pemain rabab profesional membutuhkan wawasan dan daya imajinasi karena mereka dituntut mampu menyajikan cerita yang bervariasi ketika tampil. Keterampilan itu tidak hanya diperoleh dari latihan memainkan alat musik, tetapi juga dari pengalaman bergaul dalam lingkungan masyarakat dan komunitas seniman rabab.
Kaba yang Dibawakan
Cerita yang disampaikan dalam Rabab Pasisia disebut kaba. Dalam tradisi sastra Minangkabau, kaba merupakan cerita lisan yang dapat berisi kisah kehidupan, perjalanan, persoalan keluarga, penderitaan, perantauan, percintaan, maupun nasihat. Penelitian Universitas Negeri Padang tentang kaba dalam pertunjukan rabab di Nagari Duku, Kecamatan Koto XI Tarusan, menunjukkan adanya nilai moral dan keagamaan yang disampaikan melalui cerita tersebut.
Kaba yang dibawakan tukang rabab juga mengalami perkembangan. Dokumentasi yang tersimpan di repositori Kementerian Pendidikan mencatat bahwa pada masa awal, cerita yang dibawakan antara lain Kaba Gombang Patuan, Magek Manandin, dan Malin Deman. Dalam perkembangan berikutnya, muncul cerita dengan tokoh dan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti persoalan perkawinan, percintaan, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan perantauan.
Salah satu contoh kaba yang pernah dikaji adalah Abidin dan Bainar. Penelitian Gusti Arni di Universitas Indonesia menyebut cerita tersebut sebagai sastra lisan yang memiliki bentuk prosa liris. Dalam penyajiannya terdapat pantun dengan tema suka, duka, nasihat, dan persoalan muda-mudi. Penelitian itu juga menggunakan data dari tukang rabab, penonton, serta sumber rekaman yang menunjukkan bahwa kaba Rabab Pasisia memiliki bentuk penyampaian yang berbeda dari sejumlah sastra lisan Minangkabau lainnya.
Cerita dalam Rabab Pasisia tidak hanya berisi kisah lama. Sumber dokumentasi kebahasaan juga mencatat sejumlah judul cerita yang berkembang dalam bentuk rekaman, seperti Zamzami dan Mariani, Rukiah jo Malamo, Hasa Surabaya, Abidin dan Bainar, Puti Gondoriah, dan cerita tentang perantauan ke Malaysia. Beberapa cerita bahkan terdiri atas beberapa kaset karena panjangnya alur yang disampaikan.
Pertunjukan di Pesisir Selatan
Rabab Pasisia biasanya dipertunjukkan pada malam hari dan dapat menjadi bagian dari bungo alek, yaitu hiburan dalam suatu acara masyarakat. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat bahwa pertunjukan rabab dapat hadir dalam acara perkawinan, keramaian anak nagari, pengangkatan penghulu, dan batagak kudo-kudo. Dalam perkembangannya, fungsi Rabab Pasisia semakin luas karena pertunjukan juga menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan tempat penyelenggaraannya.
Penelitian di Nagari Talao memberikan gambaran mengenai penggunaannya dalam acara baralek. Dalam penelitian tersebut, pertunjukan Rabab Pasisia dilaksanakan pada malam sebelum resepsi. Tukang rabab menghibur orang yang sedang bergotong royong menyiapkan keperluan acara dan pemuda yang menjaga panggung serta dekorasi. Pertunjukan diawali dengan kaba, kemudian dilanjutkan dengan raun sabalik atau kegiatan berbalas pantun, sebelum kembali kepada cerita kaba.
Di wilayah Lengayang, penelitian ISI Padangpanjang menemukan bahwa Rabab Pasisia berkembang menjadi pertunjukan yang memiliki fungsi lebih luas. Lagu Sikambang menjadi salah satu bagian yang penting dalam pertunjukan dan berhubungan dengan ekspresi masyarakat setempat. Penelitian tersebut juga mencatat masuknya sejumlah gaya seni populer ke dalam pertunjukan. Perubahan ini berkaitan dengan usaha seniman untuk mempertahankan daya tarik Rabab Pasisia di tengah perubahan selera penonton.
Perubahan bentuk pertunjukan tidak berarti seluruh cerita lama hilang. Rabab Pasisia tetap menggunakan pola bercerita yang mengandalkan kemampuan tukang rabab dalam mengolah kata dan melodi. Karena disampaikan secara lisan, cara seorang tukang rabab membawakan cerita dapat berbeda dengan pemain lainnya. Penguasaan terhadap kaba, bahasa, pantun, serta kemampuan membaca suasana penonton menjadi bagian dari keterampilan yang menentukan jalannya pertunjukan.
Keberadaan tukang rabab juga menghadapi persoalan regenerasi. Penelitian Silvia Rosa mengenai Rabab Pasisia Selatan mencatat bahwa pada 2019 banyak penampil Barabab merupakan laki-laki yang sudah berusia di atas 55 tahun. Penelitian itu melihat pewarisan keterampilan kepada generasi berikutnya belum berjalan dengan baik dan menjadi salah satu persoalan bagi keberlanjutan kesenian tersebut.
Rabab Pasisia akhirnya tidak hanya dikenal dari bunyi alat musiknya, tetapi juga dari cerita yang dibawakan tukang rabab. Di Pesisir Selatan, kaba menjadi bagian utama yang menghubungkan musik, bahasa Minangkabau, pengalaman masyarakat, dan hiburan dalam satu pertunjukan. Keberadaan tradisi ini masih tercatat dalam penelitian dan kegiatan kesenian di sejumlah nagari, meskipun bentuk penyajiannya terus menyesuaikan dengan kondisi masyarakat pendukungnya.
Editor : melatisan
Tag :Rabab Pasisia, dan Cerita, yang Dibawakan, Para Tukang Rabab
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
TARI TOGA DAN LATAR BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU
-
DENDANG PAUAH SEBAGAI SENI TUTUR MASYARAKAT MINANGKABAU
-
SIJOBANG DAN CARA CERITA MINANGKABAU DIWARISKAN ANTARGENERASI
-
BADIA BALANSA DALAM HIBURAN DAN TRADISI MASYARAKAT MINANGKABAU
-
TRADISI BATOMBE DI NAGARI ABAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBANGUNAN RUMAH GADANG
-
KALAU ALAM SUDAH MENEGUR, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
MEMAHAT MANUSIA, BUKAN MENUMPUK BETON: BERGURU KE SULAWESI TENGAH
-
MADING LEMBAGA MAHASISWA JURUSAN SASTRA MINANGKABAU RESMI DIAKTIFKAN KEMBALI
-
KAPAN TERAKHIR KE PASAR? CATATAN JURNALISTIK HENDRY CH BANGUN
-
MELAWAN ARUS ALGORITMA: KETIKA PERS SUMATERA BARAT MEMILIH MENGHARGAI "SUNYI" DI UJUNG NEGERI