HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 29 Agustus 2026

Melawan Arus Algoritma: Ketika Pers Sumatera Barat Memilih Menghargai "Sunyi" Di Ujung Negeri

Pelantikan Ketua dan Pengurus JMSI Sumbar Periode 2026-2031
Pelantikan Ketua dan Pengurus JMSI Sumbar Periode 2026-2031

Melawan Arus Algoritma: Ketika Pers Sumatera Barat Memilih Menghargai "Sunyi" di Ujung Negeri

Laju informasi yang lahir dari rahim media digital saat ini begitu masif dan seolah tak terbendung. Kita hidup di sebuah era di mana berita tidak lagi sekadar menyapa pembaca, melainkan berpacu dengan waktu, berlomba-lomba menyajikan kecepatan demi meraih apresiasi di mesin pencari Google.

Fenomena ini tak lepas dari euforia Reformasi yang membuka lebar gerbang kebebasan pers, melahirkan ribuan wadah berita, baik cetak maupun online. Saking bebasnya, Dewan Pers kini mencatat ada 1.261 perusahaan media online yang telah lolos verifikasi penuh, baik secara administrasi maupun faktual. Namun, di balik kebebasan tersebut, ada garis tegas yang memisahkan jurnalisme sejati dengan sekadar "bunyi-bunyian" digital. Berbicara soal verifikasi, seorang pengusaha media diwajibkan menaungi usahanya dalam badan hukum yang sah seperti PT atau Yayasan. Merekalah yang sejatinya disebut sebagai pengusaha media, yang terikat pada etika, hukum, dan tanggung jawab, bukan sekadar pemburu klik.

Di tengah riuh rendah perburuan trafik dan algoritma inilah, kehadiran Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menjadi sangat vital. JMSI bukan sekadar wadah, melainkan benteng pemersatu untuk menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak perusahaan pers yang legal dan berbadan hukum di berbagai daerah.

Hari ini, Sabtu, 29 Agustus 2026, JMSI Sumatera Barat (Sumbar) kembali menegaskan komitmennya. Di Auditorium Kantor Gubernur Sumbar, kepengurusan baru periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Aguswanto dan Almudazir resmi dilantik. Namun, jika kita hanya membaca pelantikan ini sebagai seremoni pergantian kursi organisasi, kita telah melewatkan sebuah pesan moral yang jauh lebih besar dari JMSI Sumbar.

Tantangan media siber ke depan niscaya semakin berat. Perubahan teknologi dan derasnya arus informasi hoaks menuntut perusahaan pers untuk tidak terjebak pada rutinitas mengejar traffic. Seperti yang ditegaskan oleh Aguswanto, ukuran keberhasilan media bukan lagi sekadar seberapa banyak orang membaca berita, tetapi seberapa besar publik percaya bahwa informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Media harus tumbuh bersama daerah, mengawal pembangunan, dan mencerdaskan masyarakat.

Namun, wajah pers yang beradab tidak hanya ditunjukkan melalui ketegasan mereka dalam memverifikasi fakta dan melawan hoaks. Wajah sejati pers juga terlihat dari kepekaan hati mereka dalam memberikan apresiasi.

Inilah yang membuat momentum pelantikan JMSI Sumbar hari ini terasa begitu istimewa, karena dirangkai dengan JMSI Awards 2026. Di saat banyak institusi sibuk memberikan piala kepada mereka yang populer atau yang memiliki kuasa, JMSI Sumbar justru memilih untuk menoleh pada mereka yang bekerja dalam sunyi, memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Lima tokoh menerima penghargaan ini, mewakili berbagai spektrum pengabdian: Arisal Aziz (Tokoh Publik), Dewi Sukmawati (Peduli Lingkungan lewat bank sampah), Patra Rina Dewi (Penanganan Bencana via KOGAMI), dan Ronal Wahtudi (Penggerak UMKM). Mereka adalah representasi dari kerja-kerja nyata yang menggerakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Tetapi, ada satu nama yang membuat gelaran JMSI Awards 2026 melampaui sekadar ajang seremonial: Rabiatul Adawiyyah.

Di tengah gemerlap dunia digital yang serba cepat dan terukur oleh mesin pencari, Rabiatul hadir sebagai antitesis yang indah. Ia adalah seorang pengajar di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Di tempat di mana akses dan fasilitas menjadi kemewahan, Rabiatul memilih untuk mengajar anak-anak di sana tanpa menerima gaji sedikit pun.

Tidak ada kepastian materi, tidak ada sorotan kamera, dan pastinya, tidak ada nilai SEO atau traffic yang bisa ia dapatkan dari pekerjaannya. Namun, justru di ruang kelas yang sunyi itulah, esensi dari pengabdian sesungguhnya menemukan maknanya.

Ketua Tim Penilai Anugerah JMSI Award, Dr. Hary Efendi Iskandar, dengan jernih menempatkan nilai pengabdian dan dampak sosial di atas popularitas. Keputusan memberikan penghargaan kepada Rabiatul adalah sebuah pernyataan sikap dari pers Sumatera Barat: bahwa daerah 3T tidak boleh dilupakan, dan bahwa kontribusi bagi bangsa tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar yang megah.

Pelantikan JMSI Sumbar dan JMSI Awards 2026 pada hari ini mengirimkan sebuah pesan yang utuh kepada kita semua. Pers yang kuat dan profesional, yang berbadan hukum, terverifikasi, dan berjuang di tengah gempuran algoritma digital, pada akhirnya harus tetap memiliki jiwa dan hati nurani.

Pers tidak hanya bertugas memberitakan mereka yang bekerja untuk masyarakat, tetapi juga memiliki kewajiban moral untuk mengangkat dan menghargai mereka yang telah mengabdi bagi masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan dan doa, selamat kepada Abang Aguswanto dan Kanda Almudazir atas amanah besar ini. Semoga roda organisasi JMSI Sumbar ke depan dapat melaju kencang di tangan sang sopir yang ulet dan pekerja keras.

Maju JMSI, Maju Sumbar!

Karena pada akhirnya, di tengah gemerlap penghargaan dan hiruk-pikuk dunia digital, kita diingatkan pada satu pesan yang paling sunyi namun paling kuat:

Di ujung negeri, seorang guru tetap berdiri di depan kelas. Tanpa sorotan, tetapi dengan keyakinan teguh bahwa anak-anak Matotonan berhak memiliki masa depan. Dan pers yang beradab, adalah pers yang tidak pernah membiarkan cahaya di ujung negeri itu padam dilupakan.(*)


Tag :JMSI, Pelantikan, Sumbar, Padang

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com