HOME OPINI OPINI

  • Jumat, 24 Juli 2026

Menjaga Nilai ABS-SBK Di Tengah Fenomena LGBT Di Sumatera Barat: Antara Tantangan Sosial, Moral, Dan Tanggung Jawab Bersama

Penulis: Inneka Kasrianti, S.Pd.I
Penulis: Inneka Kasrianti, S.Pd.I

Menjaga Nilai ABS-SBK di Tengah Fenomena LGBT di Sumatera Barat: Antara Tantangan Sosial, Moral, dan Tanggung Jawab Bersama

Oleh: Inneka Kasrianti, S.Pd.I

Sumatera Barat sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Falsafah tersebut menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, di mana adat istiadat berjalan seiring dengan nilai-nilai ajaran Islam. Kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan di Sumatera Barat dibangun di atas prinsip menjaga akhlak, sopan santun, serta kehormatan keluarga dan masyarakat.

Belakangan ini, muncul berbagai pemberitaan mengenai fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di sejumlah daerah di Sumatera Barat. Berbagai operasi yang dilakukan aparat, diskusi publik, hingga pernyataan tokoh masyarakat menunjukkan bahwa isu ini menjadi perhatian serius. Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena dinilai bertentangan dengan nilai agama dan budaya yang telah lama menjadi identitas masyarakat Minangkabau.

Dalam perspektif Islam, hubungan sesama jenis dipandang sebagai perbuatan yang dilarang. Al-Qur'an mengisahkan kaum Nabi Luth AS sebagai pelajaran bagi umat manusia agar tidak melakukan penyimpangan yang bertentangan dengan fitrah. Bagi masyarakat Sumatera Barat yang mayoritas beragama Islam, kisah tersebut dipahami sebagai pengingat pentingnya menjaga moralitas, keluarga, dan kehidupan sosial sesuai dengan tuntunan agama.

Di sisi lain, fenomena LGBT juga perlu dipahami sebagai persoalan sosial yang kompleks. Berbagai faktor seperti lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi informasi, media sosial, pengalaman hidup, hingga kondisi psikologis dapat memengaruhi seseorang. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan penegakan aturan, tetapi juga membutuhkan pendekatan pendidikan, pembinaan, dan dukungan keluarga.

Keluarga memiliki peran paling mendasar dalam membentuk karakter anak. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pendidikan agama sejak dini, serta mengawasi penggunaan media digital agar anak tidak mudah terpapar berbagai konten yang bertentangan dengan nilai moral. Pendidikan karakter yang dimulai dari rumah menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era modern.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak, toleransi, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap norma yang berlaku. Melalui pendidikan karakter, kegiatan keagamaan, dan bimbingan konseling, sekolah dapat membantu peserta didik memahami pentingnya menjaga perilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya.

Pemerintah daerah bersama tokoh adat, ulama, akademisi, dan organisasi masyarakat perlu terus bersinergi dalam melakukan edukasi kepada masyarakat. Program penyuluhan, penguatan pendidikan keluarga, pembinaan generasi muda, serta peningkatan literasi digital menjadi langkah preventif yang lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan tindakan represif. Upaya tersebut hendaknya dilakukan secara bijaksana, berdasarkan hukum yang berlaku, serta menghormati martabat setiap individu.

Dalam kehidupan bermasyarakat, penting pula membedakan antara penilaian terhadap suatu perilaku dengan perlakuan terhadap individu. Meskipun banyak masyarakat Sumatera Barat menolak praktik LGBT karena alasan agama dan budaya, setiap orang tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi, tanpa tindakan kekerasan, perundungan, maupun diskriminasi. Pendekatan yang mengedepankan dialog, pembinaan, dan pendampingan akan lebih memberikan manfaat dibandingkan sikap yang hanya menghakimi.

Fenomena LGBT di Sumatera Barat menjadi tantangan yang memerlukan perhatian bersama. Nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah perlu terus diperkuat sebagai pedoman kehidupan masyarakat, disertai upaya pendidikan, pembinaan, dan penguatan peran keluarga serta sekolah. Dengan demikian, masyarakat dapat menjaga identitas budaya dan nilai keagamaan sekaligus membangun kehidupan yang damai, saling menghormati, dan berlandaskan hukum serta kemanusiaan.

Pada akhirnya, menjaga moralitas bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama semata, melainkan merupakan kewajiban seluruh elemen masyarakat. Dengan memperkuat pendidikan karakter, mempererat hubungan dalam keluarga, dan meningkatkan kepedulian sosial, Sumatera Barat diharapkan tetap menjadi daerah yang mampu mempertahankan jati dirinya sebagai Ranah Minang yang berlandaskan nilai agama, adat, dan budaya di tengah berbagai tantangan zaman.


Tag :Menjaga, Nilai ABS-SBK, di Tengah Fenomena, LGBT, di Sumatera Barat, Antara Tantangan, Sosial, Moral, dan Tanggung Jawab Bersama

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com