- Minggu, 19 Juli 2026
Toleransi Dan Keteguhan Nilai: Menyikapi Isu LGBT Di Tengah Masyarakat Kita
Toleransi dan Keteguhan Nilai: Menyikapi Isu LGBT di Tengah Masyarakat Kita
Oleh: Endang Fitri Ayukarlina
(Mahasiswa Pasca Sarjana UMSB)
Isu mengenai kelompok dengan orientasi seksual dan identitas gender beragam atau yang sering disingkat LGBT kini semakin sering menjadi pembahasan di ruang publik. Fenomena ini tidak hanya menyangkut sisi kesehatan psikologis dan sosiologis, tetapi juga sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai agama, budaya, dan norma yang hidup di masyarakat Indonesia, termasuk kita di Sumatera Barat yang menjunjung tinggi adat dan ajaran Islam.
Sebagai penulis, saya melihat isu ini dengan pandangan yang seimbang: tidak menutup mata terhadap fakta bahwa ada individu yang mengalami perasaan demikian, namun juga tidak dapat menerima atau melegalkan perilaku tersebut karena bertentangan dengan prinsip hidup kita.
Pertama, perlu kita pahami bahwa secara agama, khususnya Islam, segala bentuk hubungan seksual di luar pernikahan yang sah, serta perilaku yang menyimpang dari fitrah penciptaan manusia laki-laki dan perempuan, adalah hal yang dilarang. Hal ini didasarkan pada dalil Al-Qur'an dan Hadis yang jelas, serta telah menjadi kesepakatan para ulama. Di sisi lain, secara hukum negara Indonesia, kita juga tidak mengakui pernikahan sesama jenis dan menjaga norma kesusilaan sesuai Pancasila.
Namun, sikap tidak menyetujui perilakunya bukan berarti kita boleh menyakiti, mencaci, atau melakukan kekerasan terhadap individu tersebut. Setiap manusia tetaplah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup, aman, dan diperlakukan dengan manusiawi. Kita perlu membedakan antara menolak perbuatan yang salah dengan menyakiti orangnya. Tugas kita adalah mengajak ke jalan yang benar dengan cara yang baik, memberikan pemahaman, dan jika perlu memberikan dukungan agar mereka kembali ke jalan yang sesuai fitrah dan norma yang berlaku.
Kedua, tantangan zaman membuat isu ini semakin menyebar karena pengaruh informasi dari luar. Oleh karena itu, peran keluarga dan pendidikan sangatlah penting. Kita harus lebih banyak membekali anak-anak dan generasi muda dengan pemahaman agama yang kuat, pengenalan peran gender yang benar, serta pemahaman tentang bahaya pengaruh negatif yang masuk melalui media. Jangan sampai kurangnya bimbingan membuat mereka tergelincir ke hal yang tidak dikehendaki.
Kesimpulannya, sikap kita sebagai masyarakat Indonesia yang beragama adalah: teguh menolak segala bentuk perilaku yang menyimpang dari syariat dan norma yang berlaku, namun tetap bersikap santun, menjaga kedamaian, serta mengajak dengan hikmah dan nasihat yang baik. Kita tidak perlu meniru cara pandang bangsa lain yang berbeda nilai dasarnya. Kita berdiri teguh pada prinsip kita sendiri: menjaga kesucian agama, kehormatan diri, dan kelestarian budaya luhur bangsa.
Marilah kita jaga agar lingkungan kita tetap bersih, sehat, dan terhindar dari hal-hal yang mendatangkan mudarat, dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang sesama manusia.
Tag :Toleransi, dan Keteguhan Nilai, Menyikapi, Isu LGBT, di Tengah, Masyarakat Kita
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MELAMPAUI NASIONALISME SIMBOLIK
-
KETIKA KAMPUS BELAJAR DARI MASYARAKAT: MAKNA FOME DALAM MEMBENTUK TENAGA KESEHATAN MASA DEPAN
-
BOARD OF PEACE DAN INDONESIA: UJIAN KONSISTENSI DIPLOMASI PERDAMAIAN DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN PUBLIK
-
JENDERAL ABDUL HARIS NASUTION DAN PERANG KAMANG 1908
-
MEMELIHARA HARAPAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
TOLERANSI DAN KETEGUHAN NILAI: MENYIKAPI ISU LGBT DI TENGAH MASYARAKAT KITA
-
PERKUAT LAYANAN DASAR BERBASIS DIGITAL, PEMPROV SUMBAR LUNCURKAN SAPA SPM DAN RUNDIANG SPM
-
MELAMPAUI NASIONALISME SIMBOLIK
-
KETIKA KAMPUS BELAJAR DARI MASYARAKAT: MAKNA FOME DALAM MEMBENTUK TENAGA KESEHATAN MASA DEPAN
-
BOARD OF PEACE DAN INDONESIA: UJIAN KONSISTENSI DIPLOMASI PERDAMAIAN DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN PUBLIK