HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 6 September 2026

Dendang Pauah Sebagai Seni Tutur Masyarakat Minangkabau

Dendang Pauah sebagai Seni Tutur Masyarakat Minangkabau

Oleh: Muhammad Fawzan

Di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Dendang Pauah berkembang sebagai salah satu bentuk seni tutur Minangkabau yang menggabungkan cerita, dendang, dan permainan saluang. Pertunjukan ini dibawakan oleh tukang dendang bersama tukang saluang Pauah. Cerita yang disampaikan umumnya berbentuk kaba, termasuk kisah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Minangkabau.

Nama Dendang Pauah berkaitan dengan wilayah tempat kesenian tersebut berkembang. Saluang Pauah sendiri merupakan alat musik tiup yang tumbuh di Kecamatan Pauh, Kota Padang. Alat musik ini dibuat dari bambu tipis yang dalam istilah Minangkabau dikenal sebagai talang. Dalam pertunjukan, suara saluang menjadi pengiring bagi dendang yang dibawakan oleh penutur.

Dendang Pauah tidak hanya berisi nyanyian. Bagian penting dalam pertunjukan adalah cerita atau kaba yang disampaikan melalui bahasa Minangkabau. Karena itu, kesenian ini juga dipelajari dalam kajian sastra lisan. Salah satu penelitian Universitas Pendidikan Indonesia mengambil Kaba Urang Tanjuang Karang sebagai objek untuk melihat struktur cerita, konteks pertunjukan, serta proses penciptaan dalam Dendang Pauah.

Kaba dalam Dendang Pauah

Kaba menjadi bagian utama dalam penyampaian cerita. Salah satu kaba yang diteliti dalam pertunjukan Dendang Pauah adalah Kaba Urang Tanjuang Karang. Penelitian tersebut menemukan bahwa cerita memiliki unsur alur, tokoh, latar, dan tema, sementara bentuk bahasanya menggunakan pola tertentu yang menjadi ciri penyampaian Dendang Pauah.

Bahasa yang digunakan tidak selalu sama dengan bahasa percakapan sehari-hari. Penelitian yang terbit di Universitas Negeri Padang pada 2024 menemukan penggunaan diksi dan ungkapan Minangkabau lama dalam Kaba Urang Tanjuang Karang. Gaya perbandingan seperti perumpamaan, metafora, hiperbola, dan personifikasi digunakan dalam cerita untuk menggambarkan tokoh maupun peristiwa.

Kaba yang disampaikan dalam Dendang Pauah juga berkaitan dengan pengalaman hidup masyarakat. Penelitian mengenai pertunjukan Saluang Pauah pada 2025 mencatat bahwa lagu yang dibawakan dapat berupa kaba atau cerita tentang pengalaman hidup masyarakat dan pemainnya sendiri. Hal tersebut membuat isi pertunjukan tidak hanya bergantung pada cerita lama, tetapi juga dapat berhubungan dengan kehidupan orang yang berada dalam lingkungan pertunjukan.

Dalam penelitian lain di Kecamatan Kuranji, Dendang Pauah disebut masih hadir dalam kegiatan sosial masyarakat. Penelitian tersebut melibatkan tukang dendang, tukang saluang, penonton tua dan muda, serta tokoh masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa kaba yang disampaikan membawa nilai sosial dan moral yang berkaitan dengan norma, tata krama, serta kehidupan keluarga dalam masyarakat Minangkabau.

Saluang Pauah

Saluang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bentuk pertunjukan Dendang Pauah. Berbeda dengan saluang darek yang berkembang di wilayah lain, Saluang Pauah tumbuh di Kecamatan Pauh Kota Padang. Penelitian musik tradisional mencatat Saluang Pauah memiliki enam lubang nada dan menghasilkan tujuh nada. Dalam pertunjukan, pemain saluang dan tukang dendang menjadi dua orang utama yang menjalankan pertunjukan.

Pertunjukan biasanya diawali dengan bagian pembuka sebelum cerita masuk ke bagian kaba. Penelitian mengenai Dendang Saluang Pauah di Kuranji mencatat lima tahapan penyajian, yaitu pado-pado, pakok anam, pakok limo, malereang limo, dan lambok malam. Setiap bagian memiliki bentuk irama yang berbeda dan menjadi bagian dari perjalanan pertunjukan.

Salah satu ciri penyajiannya adalah adanya imbauan dari tukang saluang sebelum cerita dilanjutkan. Suara saluang digunakan untuk menarik perhatian penonton sebelum tukang dendang mulai menyampaikan cerita. Pola tersebut menjadi bagian dari bentuk pertunjukan Saluang Pauah yang berkembang di lingkungan masyarakat Pauh dan wilayah sekitarnya.

Dendang Pauah juga memiliki hubungan dengan kegiatan masyarakat. Penelitian mengenai pertunjukan di Koto Tangah menemukan bahwa kesenian tersebut dapat hadir dalam konteks sosial dan budaya masyarakat. Pertunjukan Dendang Pauah juga pernah digunakan sebagai hiburan dalam acara baralek atau resepsi perkawinan. Kajian tentang sastra lisan di kawasan Kuranji mencatat Dendang Pauah sebagai salah satu kesenian yang masih berkaitan dengan kegiatan baralek dan acara pemuda.

Fungsi dan Perkembangan

Hiburan menjadi salah satu fungsi utama Dendang Pauah. Penelitian Refisa Ananda terhadap pertunjukan di Kecamatan Koto Tangah menyebut fungsi hiburan sebagai fungsi utama, selain fungsi sebagai sistem proyeksi, alat pendidikan, dan pengesah kebudayaan. Artinya, penonton datang untuk menikmati dendang dan cerita, tetapi isi kaba juga menyampaikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat.

Pertunjukan Dendang Pauah dahulu dapat berlangsung dalam kegiatan masyarakat pada malam hari. Kajian tentang sastra lisan Minangkabau mencatat berbagai bentuk seni tutur, termasuk Dendang Pauah, yang biasa dipentaskan dalam perayaan perkawinan, alek nagari, kegiatan di surau, serta acara pengangkatan penghulu. Dalam konteks tersebut, pertunjukan menjadi bagian dari kegiatan sosial yang mempertemukan masyarakat.

Namun, keberadaan Dendang Pauah sekarang tidak dapat disamakan dengan kondisi masa lalu. Penelitian yang dilakukan di beberapa wilayah Kota Padang menunjukkan bahwa pertunjukan masih ditemukan, tetapi frekuensi dan tempat penyajiannya bergantung pada masyarakat pendukungnya. Di Kuranji, misalnya, Dendang Pauah masih dikaji melalui pertunjukan yang melibatkan pemain dan penonton dari berbagai kelompok usia.

Pada 2025, penelitian tentang Saluang Pauah kembali dilakukan di Kecamatan Pauh dengan fokus pada bentuk pertunjukan dalam upacara perkawinan. Penelitian tersebut menggunakan observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Saluang Pauah masih digunakan sebagai hiburan dalam berbagai upacara masyarakat, termasuk baralek dan akikah.

Dendang Pauah sampai sekarang masih dapat ditempatkan sebagai bagian dari sastra lisan dan seni pertunjukan Minangkabau yang berkembang di Kota Padang. Cerita kaba disampaikan melalui suara tukang dendang dan diiringi Saluang Pauah. Di dalamnya terdapat cerita, pantun, bahasa Minangkabau, serta gambaran kehidupan masyarakat. Keberadaannya di Pauh dan Kuranji juga menunjukkan bahwa kesenian ini masih memiliki hubungan dengan kegiatan sosial masyarakat yang menjadi lingkungan pendukungnya.


Wartawan : Muhammad Fawzan
Editor : melatisan

Tag :Dendang Pauah, sebagai, Seni Tutur, Masyarakat, Minangkabau

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com