HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 9 Agustus 2026

Sejarah Lubang Mbah Soero Dan Perannya Sebagai Wisata Edukasi

Sejarah Lubang Mbah Soero dan Perannya sebagai Wisata Edukasi 

Oleh: Andika Putra Wardana

Lubang Mbah Soero merupakan salah satu peninggalan pertambangan batubara Ombilin yang berada di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Lubang tambang ini dibangun pada tahun 1898 ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mengembangkan pertambangan batubara di kawasan Sawahlunto setelah penemuan cadangan batubara Ombilin oleh Willem Hendrik de Greve pada 1868. Keberadaan Lubang Mbah Soero menjadi bukti perkembangan teknologi pertambangan bawah tanah pada akhir abad ke-19 sekaligus menyimpan cerita tentang kehidupan para pekerja tambang yang bekerja di bawah tanah. Setelah tidak lagi digunakan sebagai lokasi produksi, kawasan ini direstorasi dan dibuka sebagai objek wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah pertambangan Sawahlunto kepada masyarakat, termasuk generasi muda.

Sawahlunto pada akhir abad ke-19 mengalami perubahan besar setelah pemerintah kolonial mulai membuka tambang Ombilin. Kawasan yang sebelumnya merupakan wilayah perbukitan di pedalaman Minangkabau kemudian berkembang menjadi kota industri dengan berbagai fasilitas pendukung pertambangan. Pembangunan tambang membutuhkan jalan, permukiman pekerja, gudang, fasilitas kesehatan, serta jalur kereta api yang kemudian menghubungkan Sawahlunto dengan Padang. Dalam perkembangan tersebut, tambang bawah tanah seperti Lubang Mbah Soero menjadi salah satu bagian penting dari sistem produksi batubara Ombilin.

Lubang Mbah Soero pada Masa Pertambangan

Pembangunan Lubang Mbah Soero pada 1898 dilakukan ketika metode pertambangan bawah tanah menjadi bagian penting dalam eksploitasi batubara Ombilin. Lapisan batubara yang berada di bawah perbukitan membuat kegiatan penambangan tidak cukup dilakukan dengan menggali permukaan tanah. Para pekerja harus masuk melalui terowongan untuk mencapai lapisan batubara, kemudian menggali dan mengangkut hasil tambang menuju permukaan. Sistem tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi alam Sawahlunto dimanfaatkan sekaligus diubah untuk memenuhi kebutuhan industri kolonial.

Kegiatan di dalam terowongan membutuhkan berbagai teknologi pendukung. Sistem ventilasi digunakan untuk menjaga sirkulasi udara di ruang bawah tanah, sementara pompa digunakan untuk menghadapi persoalan air yang masuk ke dalam terowongan. Peralatan tambang dan sistem pengangkutan juga terus dikembangkan seiring meningkatnya produksi batubara Ombilin pada awal abad ke-20. Keberadaan berbagai teknologi tersebut memperlihatkan bahwa Sawahlunto pada masa kolonial bukan hanya kawasan penggalian batubara, tetapi juga menjadi pusat penerapan teknologi pertambangan modern pada zamannya.

Di balik perkembangan teknologi tersebut terdapat kehidupan para pekerja tambang yang tidak mudah. Sawahlunto pada masa kolonial dikenal dengan keberadaan orang rantai, yaitu narapidana yang dijadikan pekerja paksa dan didatangkan dari berbagai wilayah Hindia Belanda. Mereka bekerja dalam lingkungan pertambangan yang berat, termasuk di kawasan tambang bawah tanah. Rantai yang dipasang pada sebagian pekerja menjadi salah satu simbol sejarah kelam pertambangan kolonial di Sawahlunto.

Nama Lubang Mbah Soero sendiri memiliki kaitan dengan ingatan masyarakat terhadap sosok yang dikenal sebagai Mbah Soero. Dalam perkembangannya, nama tersebut menjadi identitas salah satu situs pertambangan bersejarah di Sawahlunto. Lubang yang dahulu digunakan untuk kegiatan pertambangan kini justru menjadi tempat masyarakat mempelajari sejarah kota dan kehidupan pekerja tambang pada masa Hindia Belanda.

Lubang Mbah Soero sebagai Wisata Sejarah

Setelah aktivitas pertambangan bawah tanah tidak lagi berlangsung, Lubang Mbah Soero mengalami perubahan fungsi. Pemerintah Kota Sawahlunto kemudian melakukan upaya pemugaran dan pengamanan terhadap bagian terowongan yang memungkinkan untuk dikunjungi. Kawasan tersebut selanjutnya dikembangkan sebagai objek wisata sejarah yang memungkinkan pengunjung melihat secara langsung lingkungan bekas tambang bawah tanah.

Pengunjung yang memasuki kawasan Lubang Mbah Soero dapat melihat lorong tambang yang menjadi bukti aktivitas pertambangan pada masa kolonial. Kondisi lorong yang telah diperkuat membuat bagian tertentu dapat digunakan untuk kegiatan wisata dan pembelajaran. Keberadaan situs ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan mempelajari sejarah pertambangan hanya melalui foto atau tulisan karena pengunjung dapat melihat langsung ruang tempat aktivitas pertambangan pernah berlangsung.

Di bagian luar kawasan Lubang Mbah Soero juga terdapat patung orang rantai yang menjadi pengingat terhadap sejarah para pekerja paksa di Sawahlunto. Kehadiran patung tersebut membuat cerita mengenai tambang tidak hanya berpusat pada teknologi dan produksi batubara, tetapi juga pada manusia yang menjalankan pekerjaan tersebut. Bagi pelajar dan generasi muda, informasi mengenai orang rantai dapat menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana sistem ekonomi pertambangan kolonial berkaitan dengan persoalan sosial dan kemanusiaan.

Nilai sejarah Lubang Mbah Soero semakin kuat setelah Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 6 Juli 2019. Kawasan warisan tersebut mencakup sistem pertambangan Ombilin, kota tambang Sawahlunto, jalur kereta api menuju Padang, serta fasilitas pelabuhan di Teluk Bayur. Lubang Mbah Soero menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan secara langsung aktivitas penambangan bawah tanah dalam sistem industri tersebut.

Bagi generasi muda, Lubang Mbah Soero dapat menjadi ruang belajar sejarah yang mempertemukan cerita tentang alam, teknologi, ekonomi, dan kehidupan manusia. Terowongan yang dahulu digunakan untuk mengambil batubara kini menjadi tempat untuk memahami bagaimana sebuah kota dibangun dari aktivitas pertambangan dan bagaimana kehidupan para pekerjanya berlangsung. Ketika lorong-lorong tersebut kembali dikunjungi bukan untuk bekerja, melainkan untuk belajar, peninggalan tambang Sawahlunto memperoleh fungsi baru tanpa kehilangan cerita sejarah yang melekat di dalamnya.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah Lubang, Mbah Soero, dan Perannya, sebagai, Wisata Edukasi

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com