HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 20 September 2026

Tradisi Tunduak Kota Solok Dan Makna Di Balik Arakannya

Tradisi Tunduak Kota Solok dan Makna di Balik Arakannya

Oleh: Andika Putra Wardana

Tradisi Tunduak merupakan salah satu adat perkawinan yang dikenal masyarakat Kota Solok, Sumatera Barat. Tradisi ini dilakukan setelah pesta perkawinan ketika mempelai perempuan bersama kerabat perempuannya berkunjung ke rumah keluarga mempelai laki-laki atau mertua. Rombongan berjalan kaki menyusuri jalan menuju rumah mertua sambil membawa berbagai makanan dan hantaran di atas kepala. Kajian Universitas Negeri Padang mencatat bahwa Tunduak termasuk tradisi khas Solok yang tetap dipraktikkan dalam rentang penelitian 1995–2019, sementara Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat mencatat Prosesi Tunduak sebagai salah satu objek adat istiadat Kota Solok.

Tunduak memiliki bentuk yang mudah dikenali dari susunan rombongannya. Para perempuan berjalan dalam satu barisan memanjang dengan membawa katidiang hitam berisi makanan dan pemberian untuk keluarga pihak laki-laki. Dalam kajian Silvia Rosa dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang diterbitkan dalam Semiotika pada 2021, rombongan Tunduak disebut sebagai salah satu ciri khas adat Solok. Tradisi ini bahkan terlihat seperti parade budaya ketika rombongan berjalan di tepi jalan Kota Solok pada hari pelaksanaannya.

Tunduak dalam Perkawinan Orang Solok

Pelaksanaan Tunduak berkaitan langsung dengan hubungan antara keluarga mempelai perempuan dan keluarga mempelai laki-laki. Dalam kajian Rosa, tradisi ini biasanya dilakukan sehari setelah pesta perkawinan selesai, meskipun penelitian tersebut juga mencatat pelaksanaan satu atau dua hari setelah pesta. Mempelai perempuan menjadi bagian utama dalam rombongan, sedangkan perempuan dari pihak kerabatnya ikut mengiringi perjalanan menuju rumah mertua.

Rombongan Tunduak tidak dibentuk secara sembarangan. Penelitian tahun 2021 mencatat jumlah pengiring dapat terdiri atas tujuh, sembilan, atau sebelas orang, bergantung pada hasil perundingan kerabat dan jenis alek yang dilaksanakan. Pada alek pucuak rabuang atau kabuang ketek, jumlah pengiring biasanya tujuh orang. Pada alek gulai manih dan alek jamba gadang, jumlahnya dapat mencapai sembilan orang, sedangkan alek batonjong yang dahulu dikaitkan dengan pesta paling besar dapat melibatkan jumlah pengiring yang lebih banyak.

Dalam barisan tersebut terdapat seorang perempuan yang disebut Tuo Tunduak. Ia berada di bagian depan rombongan dan bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan adat. Kajian Silvia Rosa mencatat bahwa Tuo Tunduak biasanya dipilih dari perempuan yang dianggap mampu memikul tanggung jawab kerabat, pandai berbicara dalam bahasa adat, serta memiliki sikap arif dan bijaksana. Ia membawa kampia siriah, tempat sirih yang menjadi salah satu perlengkapan dalam prosesi.

Kerabat yang mengikuti Tunduak juga berasal dari hubungan kekerabatan tertentu. Penelitian tersebut menyebut istri mamak, induak bako, sumandan, anak pisang, serta perempuan yang menjadi tetangga dekat ibu mempelai sebagai bagian dari rombongan. Susunan tersebut memperlihatkan bahwa perkawinan dalam masyarakat Minangkabau tidak hanya menjadi urusan dua orang yang menikah, tetapi juga melibatkan kaum dan kerabat. Ninik mamak dan induak bako mempunyai peranan dalam berbagai urusan adat perkawinan.

Gerakan dan Barang Bawaan Tunduak

Ciri paling mudah dikenali dalam Tradisi Tunduak adalah cara rombongan membawa hantaran. Katidiang hitam diletakkan di atas kepala perempuan yang mengikuti arak-arakan. Isi katidiang dapat berupa nasi, lauk-pauk, makanan, kue tradisional Minangkabau, dan hadiah untuk keluarga mempelai laki-laki. Semua bawaan tersebut menjadi persembahan dari pihak mempelai perempuan kepada keluarga mertuanya.

Gerakan berjalan dalam satu barisan sambil menjunjung beban di kepala menjadi bagian penting dari bentuk Tunduak. Dalam sumber akademik, kekhasan tersebut dijelaskan sebagai konfigurasi rombongan perempuan yang berjalan kaki menuju rumah mertua dengan barang bawaan diletakkan di atas kepala. Jadi, makna gerakan Tunduak tidak hanya terletak pada langkah kaki menuju rumah mertua, tetapi juga pada cara rombongan menampilkan keteraturan, posisi kerabat, serta barang bawaan selama perjalanan.

Kata Tunduak sendiri dalam konteks prosesi ini juga dapat dipahami melalui tindakan yang memperlihatkan sikap menghormati pihak yang dikunjungi. Namun, sumber akademik yang saya temukan lebih banyak menjelaskan makna Tunduak melalui keseluruhan susunan prosesi daripada memberikan satu definisi khusus bahwa gerakan menunduk pada bagian tubuh tertentu merupakan satu-satunya simbol Tunduak. Karena itu, makna gerakan sebaiknya dipahami dari keseluruhan arak-arakan, hubungan kekerabatan, barang hantaran, dan kunjungan kepada keluarga mertua.

Pakaian juga menjadi bagian dari penampilan rombongan. Penelitian Silvia Rosa mencatat para perempuan pengiring mengenakan pakaian dengan warna merah, sedangkan mempelai perempuan dan laki-laki menggunakan pakaian adat Solok berupa baju batabua jo basiba berwarna hitam, dilengkapi kain salodang, serta topi jo bungo sanggua. Baju batabua merupakan pakaian pesta adat yang dihiasi taburan benang emas, sedangkan baju basiba mempunyai sambungan pada bagian sisi sehingga bentuknya longgar.

Fungsi Sosial Tunduak

Di balik bentuk arak-arakan tersebut terdapat hubungan sosial antara dua keluarga yang dipertemukan melalui perkawinan. Kajian Silvia Rosa menyebut pelaksanaan Tunduak berkaitan dengan upaya membangun hubungan yang harmonis antara menantu perempuan dengan mertua serta antara kerabat kedua belah pihak. Kehadiran banyak perempuan dari pihak keluarga mempelai menunjukkan bahwa prosesi tersebut dikerjakan secara kolektif, bukan hanya oleh pasangan pengantin.

Fungsi sosial Tunduak juga terlihat dari keterlibatan ninik mamak dan induak bako dalam persiapan perkawinan. Dalam sistem kekerabatan Minangkabau yang bersifat matrilineal, hubungan keluarga melalui garis ibu mempunyai kedudukan penting. Penelitian Rosa menjelaskan bahwa ninik mamak merupakan kerabat laki-laki dari pihak ibu, sedangkan induak bako merupakan kelompok kerabat perempuan dari pihak ayah. Keduanya mempunyai peran dalam berbagai kegiatan adat yang berkaitan dengan perkawinan.

Tunduak juga memperlihatkan bagaimana adat Solok mempunyai bentuk yang tidak selalu sama dengan daerah Minangkabau lainnya. Kajian Rosa menempatkan Solok sebagai kawasan yang memiliki kekhasan adat tersendiri dan menyebut wilayah tersebut dengan istilah ikua darek kapalo rantau. Kekhasan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Tunduak dikenal sebagai tradisi yang khas masyarakat Solok. Penelitian sejarah Universitas Negeri Padang juga menyebut Tunduak sebagai tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat Solok dan tetap berkembang sepanjang periode 1995–2019.

Makna sosial Tunduak tidak berhenti ketika rombongan sampai di rumah mertua. Hidangan yang dibawa menjadi bagian dari hubungan antara keluarga menantu dan keluarga marapulai. Pemerintah Kota Solok pada 2025 juga mencatat nasi baronjin sebagai salah satu hidangan yang hadir dalam tradisi Pai Pulang Tunduak. Dalam penjelasan Dinas Pariwisata Kota Solok, nasi baronjin dikaitkan dengan hubungan antara mertua, menantu, dan orang tua.

Keberadaan Tunduak juga masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Dalam dokumen Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Prosesi Tunduak dicatat sebagai tradisi masyarakat Kota Solok yang perlu dideskripsikan sejarah pewarisannya, kekhasannya dibandingkan daerah lain, serta kedudukannya dalam upacara perkawinan. Pada 2026, Tradisi Tunduak dari Kota Solok termasuk karya budaya Sumatera Barat yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Arak-arakan perempuan dengan katidiang hitam, Tuo Tunduak yang membawa kampia siriah, pakaian adat Solok, serta perjalanan menuju rumah mertua membuat Tunduak mudah dikenali ketika berlangsung di jalan-jalan Kota Solok. Bagi masyarakat setempat, rangkaian itu menjadi bagian dari perkawinan dan hubungan antarkerabat. Dari sebuah perjalanan singkat menuju rumah mertua, Tunduak memperlihatkan bagaimana perkawinan di Solok juga menjadi ruang untuk mempertemukan keluarga, menjalankan tata adat, dan mempertahankan bentuk budaya yang khas di daerah tersebut.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Tradisi Tunduak, Kota Solok, dan Makna, di Balik Arakannya

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com