HOME VIRAL UNIK

  • Jumat, 18 September 2026

Tradisi Botatah Di Nagari Lansek Kadok Pasaman Dan Cerita Turun Tanah Dari Padang Nunang

Tradisi Botatah di Nagari Lansek Kadok Pasaman dan Cerita Turun Tanah dari Padang Nunang

Oleh: Andika Putra Wardana

Tradisi Botatah dikenal sebagai upacara turun tanah anak yang masih dilakukan masyarakat Nagari Lansek Kadok, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Dalam catatan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Botatah disebut sebagai warisan masa lalu masyarakat Lansek Kadok yang berkaitan dengan keturunan Yang Dipertuan Padang Nunang, sebuah kerajaan yang disebut berada di bawah panji Kerajaan Pagaruyung. Tradisi ini menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Rao yang memiliki hubungan dengan sejarah dan cerita asal-usul kawasan tersebut.

Lansek Kadok berada di kawasan Rao, wilayah yang dalam berbagai kajian ditempatkan sebagai bagian dari rantau Minangkabau. Botatah dalam masyarakat setempat dikenal sebagai kegiatan untuk pertama kali menurunkan anak ke tanah setelah sebelumnya menjalani masa pantang tanah. Penelitian Nur Azizah dari ISI Padangpanjang yang diterbitkan pada 2022 secara khusus mengkaji Botatah di Nagari Lansek Kadok melalui pendekatan etnografi, termasuk sejarah yang dipercaya masyarakat, tahapan pelaksanaan, serta benda-benda yang digunakan dalam upacara.

Cerita Pagaruyung dan Padang Nunang

Hubungan Botatah dengan Kerajaan Pagaruyung muncul dalam cerita asal-usul yang hidup di masyarakat Rao. Penelitian Nur Azizah mencatat kisah tentang anak raja dari Pagaruyung yang dijemput untuk menjadi raja di wilayah Rao. Dalam cerita tersebut, anak raja yang dibawa ke Kerajaan Padang Nunang meninggal setelah tidak tahan dengan kondisi setempat. Peristiwa serupa kemudian dipercaya terjadi sampai tiga kali, sebelum masyarakat membuat sumpah pantang tanah untuk anak raja yang akan datang.

Cerita itu kemudian dikaitkan dengan pelaksanaan Botatah pada keturunan raja. Dalam versi yang dicatat penelitian tersebut, anak raja yang datang setelahnya tidak langsung dibiarkan menginjak tanah dan justru menjalani aturan pantang tanah. Setelah anak tersebut tumbuh sehat, masyarakat kemudian mempertahankan praktik turun tanah tersebut sebagai tradisi. Kisah ini merupakan bagian dari penuturan historis masyarakat yang dicatat dalam penelitian etnografi, sehingga posisinya perlu dibedakan dari bukti sejarah tertulis mengenai hubungan politik antara Pagaruyung dan Padang Nunang.

Sumber Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya juga menyebut Botatah sebagai peninggalan masa lalu keturunan Yang Dipertuan Padang Nunang. Sumber yang sama menempatkan Yang Dipertuan Nunang sebagai kerajaan di bawah panji Pagaruyung dan menyebut Pagaruyung sebagai kerajaan yang pernah berkembang dalam sejarah Minangkabau. Pagaruyung diperkirakan berdiri pada abad ke-14 di kawasan darek Minangkabau dengan pusat di Pagaruyung, Batu Sangkar, dan mencapai masa kejayaan pada abad ke-15 ketika Adityawarman berkuasa.

Keterangan tersebut membuat Botatah memiliki cerita yang berbeda dari upacara turun tanah yang hanya dipahami sebagai tahapan perkembangan seorang anak. Di Lansek Kadok, praktik itu juga ditempatkan dalam ingatan masyarakat mengenai keturunan kerajaan Padang Nunang. Karena itu, kisah mengenai Pagaruyung, Padang Nunang, dan anak raja menjadi bagian penting untuk memahami mengapa Botatah tetap dikenal di kawasan Rao.

Botatah dan Prosesi Turun Tanah

Botatah dilakukan ketika anak sudah berada pada usia yang memungkinkan untuk mulai belajar berjalan. Penelitian mengenai Lansek Kadok mencatat sejumlah tahapan persiapan sebelum prosesi utama, termasuk penyediaan bunga tujuh warna, beras kuning, betiah, emas, perak, tikar tatah, limau kasai, daun sirih, pinang, sodah, payung emas, rendang beras ketan, dan sapuluik konda. Benda-benda tersebut tidak sekadar menjadi perlengkapan acara, tetapi merupakan bagian dari rangkaian simbolik yang terdapat dalam tradisi Botatah.

Dalam pelaksanaan yang dicatat Nur Azizah, tukang tatah terlebih dahulu membacakan doa untuk anak. Emas kemudian digosokkan pada bagian tubuh tertentu, mulai dari kepala, telapak tangan, perut, hingga telapak kaki. Setelah tahapan tersebut, anak diajarkan berjalan di atas tikar tatah sebanyak tiga kali. Tikar tatah menjadi salah satu benda utama karena digunakan sebagai tempat anak belajar menapakkan kaki sebelum rangkaian turun tanah dilanjutkan.

Tahapan berikutnya adalah mandi balimau. Anak diarak menuju tempat mandi dan dimandikan menggunakan ramuan limau kasai. Dalam kajian tentang nilai sosial-religius masyarakat Rao, Botatah disebut bersama tradisi pantang tanah dan monjojak tanah sebagai bagian dari tradisi kelahiran yang masih dipercaya masyarakat. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa pelaksanaan tradisi berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur serta keterlibatan masyarakat dalam membantu persiapan upacara.

Botatah juga memiliki istilah lain dalam tradisi masyarakat Rao. Penelitian mengenai masyarakat Lansek Kadok menyebut rangkaian tersebut sebagai Botatah-jojak tonah, sedangkan kajian tentang tradisi lisan masyarakat Suku Rao membedakan masa sebelum anak menginjak tanah sebagai pantang tanah dan prosesi menapakkan kaki sebagai monjojak tanah. Istilah-istilah tersebut menunjukkan bahwa tradisi turun tanah di Rao memiliki kosakata lokal yang berkaitan langsung dengan tahapan kehidupan anak.

Nilai yang Dipertahankan Masyarakat Rao

Dalam kehidupan masyarakat Rao, Botatah tidak hanya berkaitan dengan anak yang mulai mengenal tanah. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Humaniora pada 2022 menemukan adanya nilai sosial-religius dalam tradisi pantang tanah dan monjojak tanah. Nilai tersebut antara lain berkaitan dengan penghormatan kepada orang tua dan leluhur, kepedulian terhadap masyarakat, serta gotong royong dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara.

Kepercayaan mengenai manfaat Botatah juga masih menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat yang diteliti. Jurnal tersebut mencatat bahwa masyarakat Suku Rao mempercayai tradisi pantang tanah dan monjojak tanah dapat memberikan keselamatan serta menghindarkan anak dari berbagai marabahaya. Kepercayaan seperti sakit perut, kelumpuhan, bisu, dan gangguan lainnya disebut dalam sumber sebagai bagian dari keyakinan masyarakat, bukan sebagai kesimpulan medis.

Pelaksanaan Botatah juga memperlihatkan adanya keterlibatan banyak orang dalam sebuah upacara keluarga. Penyiapan bunga tujuh warna, tikar tatah, limau kasai, makanan, serta perlengkapan lainnya membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat. Kajian tahun 2022 tentang masyarakat Rao bahkan menempatkan gotong royong dalam persiapan monjojak tanah sebagai salah satu nilai sosial yang muncul dalam tradisi tersebut.

Di Nagari Lansek Kadok, Botatah karena itu tidak hanya dapat dilihat dari kegiatan ketika kaki anak menyentuh tanah. Di balik tikar tatah, doa, emas, bunga tujuh warna, dan mandi balimau terdapat cerita yang menghubungkan masyarakat dengan ingatan mengenai Padang Nunang dan Pagaruyung. Hubungan tersebut tercatat dalam sumber kebudayaan pemerintah dan penelitian etnografi, sementara sebagian kisah asal-usulnya tetap berada dalam ranah cerita yang diwariskan masyarakat Rao.

Botatah masih menjadi salah satu tradisi yang membuat kehidupan masyarakat Lansek Kadok memiliki ciri tersendiri dalam kebudayaan Rao. Anak yang sebelumnya berada dalam masa pantang tanah kemudian menjalani prosesi yang melibatkan keluarga, tukang tatah, doa, tikar tatah, dan mandi balimau. Dari sebuah upacara untuk menurunkan anak ke tanah, masyarakat Lansek Kadok juga menyimpan ingatan tentang hubungan keturunan, kerajaan, dan sejarah lokal yang terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Tradisi Botatah, di Nagari Lansek Kadok, Pasaman, dan Cerita, Turun Tanah, dari Padang Nunang

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com