HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 17 September 2026

Tari Piring Dari Tradisi Masyarakat Hingga Pertunjukan Panggung

Tari Piring dari Tradisi Masyarakat hingga Pertunjukan Panggung

Oleh: Muhammad Fawzan

Tari Piring atau Tari Piriang dikenal luas sebagai salah satu kesenian Minangkabau dari Sumatera Barat. Saat ini tari tersebut sering tampil dalam acara penyambutan tamu, pertunjukan budaya, kegiatan sekolah, festival, hingga acara pariwisata. Namun, bentuk yang biasa dilihat di panggung tidak sepenuhnya menggambarkan perkembangan awal kesenian ini. Sejumlah penelitian mencatat adanya tradisi bamain piriang di berbagai nagari Minangkabau yang menjadi salah satu sumber perkembangan Tari Piring dalam bentuk pertunjukan sekarang.

Pemerintah menetapkan Tari Piriang atau Tari Piring sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016. Dalam pencatatan tersebut, Tari Piriang ditempatkan pada domain seni pertunjukan dengan wilayah budaya Sumatera Barat. Data pemerintah juga mencatat Solok sebagai daerah yang berkaitan dengan perkembangan awal Tari Piring dan menyebut pertunjukan tersebut berhubungan dengan rasa syukur masyarakat atas hasil panen.

Dari Bamain Piriang

Dalam sejumlah penelitian seni, sejarah Tari Piring tidak hanya dilihat dari tari yang sekarang menggunakan piring sebagai properti. Ada bentuk yang disebut bamain piriang. Penelitian ISI Padangpanjang menjelaskan bahwa bamain piriang dikenal sebagai pamenan atau permainan masyarakat tradisional Minangkabau dan dapat ditemukan di banyak nagari dengan bentuk yang berbeda-beda. Geraknya banyak bersumber dari pancak, yaitu tradisi gerak bela diri Minangkabau.

Bamain piriang juga memiliki konteks pertunjukan yang berbeda. Tradisi ini berkaitan dengan laki-laki atau pemuda di nagari dan dapat dimainkan di sasaran, tempat terbuka yang juga menjadi lingkungan pembelajaran berbagai keterampilan tradisional. Karena bentuknya tidak sama di setiap daerah, penelitian menyebut bahwa bamain piriang memiliki variasi gerak, musik, dan cara penyajian sesuai nagari masing-masing.

Sementara itu, Tari Piring yang berkembang sebagai tari pertunjukan mengalami proses pengolahan ulang. Penelitian tentang identitas kultural Tari Piring menyebut bentuk tari panggung tersebut sebagai hasil penciptaan kembali dari unsur pancak dan bamain piriang. Dalam perkembangan berikutnya, penyajiannya juga mengalami perubahan dari permainan yang dominan dilakukan laki-laki menjadi tari panggung yang banyak menampilkan penari perempuan.

Perubahan itu membuat istilah Tari Piring hari ini merujuk pada bentuk yang cukup beragam. Ada kelompok masyarakat yang masih mempertahankan bentuk lokal bamain piriang, sementara di panggung modern Tari Piring sudah dikembangkan menjadi koreografi yang lebih teratur. Karena itu, bentuk Tari Piring yang ditampilkan dalam sebuah festival belum tentu sama dengan bentuk yang dimainkan masyarakat di sebuah nagari.

Tradisi Pertanian

Kaitan Tari Piring dengan kehidupan pertanian banyak ditemukan dalam penelitian tentang tari tersebut. Salah satu kajian ISI Padangpanjang mencatat bahwa Tari Piring secara tradisional diperkirakan berkembang dalam kegiatan syukuran panen. Sejumlah gerak menggambarkan pekerjaan masyarakat di sawah, seperti mencangkul, menyiangi tanaman, menyemai, menanam, memanen, mengirik, menumbuk, hingga menampih padi.

Penelitian lain mengenai Tari Piring karya Huriah Adam juga menunjukkan hubungan tari dengan kehidupan pertanian masyarakat Minangkabau. Karya tersebut memiliki 13 struktur gerak yang mengambil bahan dari kebiasaan masyarakat dalam kegiatan pertanian. Piring digunakan sebagai properti, sedangkan cincin pada jari penari diketukkan sehingga menghasilkan bunyi yang mengikuti irama musik.

Namun, hubungan Tari Piring dengan pertanian tidak berarti setiap pertunjukan sekarang masih berfungsi sebagai bagian dari ritual panen. Fungsi tersebut mengalami perubahan seiring berkembangnya bentuk pertunjukan. Tari yang sebelumnya berkaitan dengan lingkungan agraris kemudian dipentaskan dalam berbagai acara masyarakat dengan tujuan hiburan dan pertunjukan.

Perubahan fungsi itu juga terlihat dari musik pengiring. Kajian tentang pengembangan Tari Piring mencatat bahwa pada bentuk awalnya alat musik yang digunakan antara lain rebana dan gong. Dalam perkembangan berikutnya, talempong dan saluang ikut digunakan. Pada bentuk pertunjukan yang lebih baru, instrumen modern seperti keyboard juga dapat digunakan.

Tari Piring di Panggung

Tari Piring kemudian semakin sering ditempatkan sebagai bagian dari seni pertunjukan. Dalam acara kebudayaan dan pariwisata, penari dapat membawa piring dengan kedua tangan sambil melakukan rangkaian gerakan yang cepat. Bentuk seperti ini lebih mudah dipentaskan di panggung karena memiliki unsur visual yang kuat dan dapat disusun dalam koreografi kelompok.

Penelitian ISI Padangpanjang tahun 2024 mencatat bahwa para koreografer memiliki peran dalam mengembangkan Tari Piring menjadi karya-karya baru. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan mengolah gerak, musik, pola lantai, jumlah penari, dan unsur pertunjukan lainnya. Karya baru tetap mengambil sumber dari budaya Minangkabau, tetapi penyajiannya disesuaikan dengan kebutuhan panggung.

Perubahan itu juga membuat Tari Piring menjadi salah satu identitas budaya Minangkabau yang sering digunakan dalam pertunjukan resmi. Penelitian tahun 2024 mencatat Tari Piring dapat ditemukan dalam kegiatan di tingkat nagari, kabupaten dan kota, provinsi, hingga acara nasional dan internasional. Pertunjukannya juga menyebar melalui media digital sehingga orang dapat mempelajari berbagai bentuk koreografi Tari Piring dari rekaman pertunjukan.

Di Pandai Sikek, misalnya, terdapat bentuk Tari Piring yang memiliki karakter khusus. Penelitian ISI Padangpanjang mencatat gerakan yang berkaitan dengan kegiatan menanam dan memanen padi serta kegiatan bersenda gurau. Tari Piring di daerah ini juga memiliki aturan pewarisan yang berbeda karena pada penelitian tersebut disebutkan bahwa tari dipelajari dalam lingkungan keturunan masyarakat Pandai Sikek.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Tari Piring tidak bisa dipisahkan dari variasi lokal. Pandai Sikek memiliki bentuk dan cara pewarisan sendiri, sementara daerah lain memiliki bentuk yang berbeda. Ketika Tari Piring masuk ke panggung modern, unsur-unsur tersebut kemudian dapat dikembangkan kembali oleh koreografer sesuai kebutuhan pertunjukan.

Perubahan Fungsi

Perubahan paling jelas terlihat pada fungsi Tari Piring. Dari lingkungan masyarakat agraris dan tradisi bamain piriang, kesenian ini berkembang menjadi hiburan, pertunjukan budaya, penyambutan tamu, dan bagian dari kegiatan pariwisata. Penelitian terbaru mengenai makna simbolik Tari Piring juga mencatat bahwa tari tersebut telah mengalami perubahan dari fungsi ritual dan sakral menuju pertunjukan hiburan serta penyambutan dalam berbagai kegiatan adat dan nasional.

Meski fungsi pertunjukannya berubah, sejumlah unsur lama tetap digunakan. Gerak yang mengambil inspirasi dari pekerjaan pertanian, penggunaan piring, pola gerak yang cepat, serta bunyi piring yang dihasilkan melalui ketukan masih menjadi bagian dari berbagai bentuk Tari Piring. Penelitian tentang simbol Tari Piring melihat gerak melingkar dan penggunaan piring berkaitan dengan sikap hati-hati serta ketekunan dalam kehidupan agraris masyarakat Minangkabau.

Perubahan tersebut juga membuat Tari Piring semakin terbuka untuk dikembangkan. Koreografer dapat mengambil unsur dari bentuk tradisi, kemudian mengolahnya menjadi karya panggung baru. Proses ini menyebabkan Tari Piring yang tampil saat ini tidak selalu sama dengan bentuk yang dikenal masyarakat pada masa sebelumnya. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan kesenian yang berkembang mengikuti lingkungan pendukungnya.

Tari Piring yang dikenal masyarakat Sumatera Barat sekarang merupakan hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan tradisi bamain piriang, kehidupan agraris, perkembangan koreografi, dan kebutuhan pertunjukan. Dari berbagai bentuk lokal di nagari hingga panggung festival dan kegiatan pariwisata, fungsi Tari Piring terus mengalami penyesuaian. Namun, piring sebagai properti utama dan unsur gerak yang berkaitan dengan budaya Minangkabau tetap menjadi ciri yang mudah dikenali dari kesenian tersebut.


Wartawan : Muhammad Fawzan
Editor : melatisan

Tag :Tari Piring, dari Tradisi, Masyarakat, hingga Pertunjukan, Panggung

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com