- Kamis, 17 September 2026
Tari Payung Dan Perubahan Maknanya Dalam Pertunjukan Modern
Tari Payung dan Perubahan Maknanya dalam Pertunjukan Modern
Tari Payung dikenal sebagai salah satu tari yang berkembang dalam lingkungan budaya Minangkabau di Sumatera Barat. Dalam bentuk pertunjukan yang banyak dikenal sekarang, tari ini menampilkan penari laki-laki dan perempuan dengan payung serta selendang sebagai properti utama. Ceritanya berkaitan dengan hubungan muda-mudi, termasuk gambaran pasangan yang saling memberi perhatian. Namun, bentuk Tari Payung yang berkembang sekarang tidak sepenuhnya sama dengan fungsi tari tersebut di setiap daerah. Penelitian tentang Tari Payung di Padang Magek, Tanah Datar, misalnya, mencatat bahwa tari ini dahulu berkaitan dengan upacara turun mandi anak sebelum akhirnya berubah menjadi pertunjukan hiburan.
Perbedaan tersebut penting karena Tari Payung memiliki beberapa versi perkembangan. Penelitian Diah Rosari Syafrayuda dalam Ekspresi Seni menyebut Tari Payung sebagai tari Melayu Minangkabau yang berkembang di lingkungan masyarakat terpelajar, baik di kota maupun nagari. Penelitian itu juga melihat perkembangan Tari Payung melalui lingkungan seni dan karya seniman, termasuk bentuk yang dikembangkan oleh Syofyani. Karena itu, Tari Payung yang tampil di panggung pertunjukan modern tidak bisa langsung dianggap mewakili satu bentuk Tari Payung yang berlaku di seluruh Minangkabau.
Perkembangan Tari Payung
Salah satu catatan penting mengenai perkembangan Tari Payung berkaitan dengan pertunjukan teater Melayu atau toonel. Penelitian tentang eksistensi Tari Payung mencatat bahwa kesenian ini berkembang dalam lingkungan masyarakat terpelajar dan pertunjukan yang mendapat pengaruh budaya Melayu. Pada masa perkembangannya, Tari Payung menjadi salah satu bagian dari pertunjukan yang kemudian dikenal lebih luas sebagai tari pergaulan. Proses tersebut membuat bentuk dan fungsi tari mengalami perubahan sesuai dengan lingkungan tempat kesenian itu dipentaskan.
Dalam bentuk yang populer sekarang, cerita Tari Payung banyak dikaitkan dengan kehidupan pasangan muda-mudi. Penari laki-laki dan perempuan digambarkan berinteraksi menggunakan payung dan selendang. Payung biasanya berada di tangan penari laki-laki, sedangkan selendang digunakan oleh penari perempuan. Hubungan keduanya kemudian menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan melalui gerak dan posisi penari. Penjelasan tentang perhatian laki-laki kepada pasangannya juga muncul dalam kajian mengenai perubahan dan akulturasi Tari Payung Minangkabau.
Perubahan bentuk tersebut tidak terjadi hanya pada gerakan. Musik pengiring juga mengalami penyesuaian. Penelitian mengenai Tari Payung dalam pertunjukan ronggeng di Pasaman Barat menemukan adanya akulturasi musik Jawa, Melayu, dan Minangkabau. Dalam pertunjukan tersebut, unsur Minangkabau antara lain terlihat pada penggunaan pantun. Sementara itu, unsur musikal lain memperlihatkan pengaruh dari tradisi selendro dan Gamad. Tiga orang penampil dapat bergantian antara menyanyi dan menari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Tari Payung tidak berkembang dalam satu bentuk yang tetap. Seniman dapat menyesuaikan musik, gerak, jumlah penari, dan bentuk penyajiannya dengan kebutuhan pertunjukan. Penelitian Syafrayuda juga melihat keberadaan Tari Payung sebagai bagian dari proses perkembangan seni tari di Sumatera Barat, termasuk bentuk Tari Payung yang dikembangkan oleh Sanggar Syofyani.
Padang Magek
Perubahan makna Tari Payung terlihat cukup jelas dalam penelitian mengenai masyarakat Nagari Padang Magek, Luhak Tanah Datar. Penelitian Darmawati di Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa Tari Payung dahulu digunakan dalam upacara turun mandi anak. Tari tersebut tidak berdiri sendiri sebagai hiburan, tetapi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat Padang Magek.
Dalam konteks tersebut, Tari Payung memiliki fungsi yang berbeda dari bentuk pertunjukan yang sering dilihat di panggung sekarang. Tari dipentaskan bersama konteks upacara, tempat, waktu, dan rangkaian kegiatan masyarakat. Karena itu, gerak dan penyajiannya tidak hanya dinilai dari sisi pertunjukan, tetapi juga berkaitan dengan fungsi ritual yang sedang berlangsung.
Penelitian tersebut mencatat bahwa sejak sekitar 1980-an, upacara turun mandi anak di Padang Magek tidak lagi dilaksanakan seperti sebelumnya. Perubahan dalam cara masyarakat menjalani proses kelahiran ikut memengaruhi keberadaan Tari Payung dalam upacara tersebut. Perawatan ibu dan bayi semakin banyak dilakukan melalui fasilitas kesehatan, sementara pola lama yang berkaitan dengan upacara turun mandi mulai ditinggalkan. Akibatnya, Tari Payung kehilangan konteks ritual yang sebelumnya menjadi tempat utama penyajiannya.
Setelah fungsi ritual tersebut berkurang, Tari Payung kemudian lebih banyak tampil sebagai tontonan. Penelitian UGM itu menyebut perubahan tersebut sebagai pergeseran dari pertunjukan ritual menuju tontonan profan. Tari Payung tetap dipentaskan, tetapi fungsi sosialnya berubah. Dalam konteks Padang Magek, tari kemudian dapat ditemukan dalam pesta perkawinan dan acara hiburan masyarakat.
Bentuk Modern
Perubahan fungsi juga terlihat pada perkembangan Tari Payung di lingkungan sanggar. Sanggar Tari Syofyani dan Musik Ensemble, yang didirikan oleh Yusaf Rahman dan Syofyani di Bukittinggi pada 15 Februari 1962, menjadi salah satu lingkungan penting dalam perkembangan tari dan musik Minangkabau. Penelitian tentang bentuk penyajian Tari Payung di sanggar tersebut menyebut Tari Payung sebagai salah satu tari kreasi yang dikembangkan dan diajarkan kepada anak-anak serta remaja.
Masuknya Tari Payung ke sanggar membuat proses pembelajarannya lebih teratur dibandingkan pewarisan yang hanya bergantung pada pertunjukan masyarakat. Anak-anak dan remaja dapat mempelajari gerak, musik, penggunaan properti, serta bentuk penyajian melalui latihan. Penelitian mengenai metode pembelajaran Tari Payung anak-anak di Sanggar Syofyani Bukittinggi juga menunjukkan bahwa sanggar tersebut mengembangkan pembelajaran tari untuk anak-anak dengan tujuan menumbuhkan minat dan kreativitas mereka terhadap seni tari.
Dalam pertunjukan modern, payung dan selendang tetap menjadi properti yang mudah dikenali. Namun, konteks penggunaannya dapat berbeda dari bentuk awal yang ada di daerah tertentu. Penari dapat tampil dalam acara kebudayaan, kegiatan pendidikan, pertunjukan sanggar, hingga panggung pertunjukan yang tidak memiliki hubungan dengan upacara adat. Perubahan tempat tampil ini ikut mengubah cara penonton memahami Tari Payung.
Makna tentang hubungan muda-mudi juga menjadi lebih dominan dalam pertunjukan modern. Kajian Yulinis dari ISI Bali menyebut bentuk awal Tari Payung yang berkembang sebagai tari pergaulan menggambarkan kegembiraan muda-mudi dan perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Dalam kajian tersebut, payung ditempatkan sebagai bagian dari gambaran hubungan pasangan yang sedang menuju kehidupan rumah tangga.
Meski demikian, perubahan tersebut tidak berarti semua Tari Payung memiliki cerita yang sama. Perbedaan antara Tari Payung Padang Magek dan Tari Payung yang berkembang melalui sanggar menunjukkan adanya variasi berdasarkan daerah dan lingkungan kesenian. Karena itu, ketika Tari Payung ditampilkan dalam bentuk kreasi baru, perubahan gerak atau musik tidak otomatis berarti menghilangkan bentuk tradisinya. Penelitian tentang perkembangan Tari Payung justru mencatat bahwa keberagaman bentuk merupakan bagian dari proses kreativitas seniman dalam merespons perubahan masyarakat.
Saat ini, Tari Payung juga masuk dalam lingkungan pendidikan seni. Selain dipelajari di sanggar, tari ini menjadi bahan pembelajaran bagi anak-anak dan remaja. Di Sumatera Barat, perkembangan tersebut membuat Tari Payung hadir dalam berbagai bentuk pertunjukan dengan tingkat pengolahan yang berbeda. Ada yang mempertahankan bentuk yang sudah dikenal masyarakat, sementara kelompok lain mengembangkan koreografi dan musik sesuai kebutuhan panggung.
Tari Payung akhirnya memiliki perjalanan fungsi yang berbeda menurut daerah dan periode perkembangannya. Di Padang Magek, penelitian mencatat perubahannya dari bagian upacara turun mandi menjadi tontonan dalam pesta perkawinan. Di lingkungan seniman seperti Sanggar Syofyani, Tari Payung berkembang melalui pendidikan dan koreografi panggung. Perubahan tersebut membuat Tari Payung yang dikenal masyarakat sekarang tidak hanya berkaitan dengan satu fungsi, tetapi juga dengan perkembangan seni pertunjukan Minangkabau di Sumatera Barat.
Editor : melatisan
Tag :Tari Payung, dan Perubahan, Maknanya, dalam Pertunjukan, Modern
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com