- Rabu, 16 September 2026
Tongkat Penghulu Dan Makna Simboliknya Dalam Struktur Adat
Tongkat Penghulu dan Makna Simboliknya dalam Struktur Adat
Tongkat atau tungkek menjadi salah satu kelengkapan yang dikenakan penghulu dalam pakaian adat Minangkabau. Kehadirannya bukan hanya berkaitan dengan pelengkap busana, tetapi juga mempunyai simbol yang berhubungan dengan kedudukan dan tanggung jawab seorang penghulu dalam kaum dan nagari. Dalam penelitian mengenai pakaian penghulu di Kenagarian Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, tungkek dicatat sebagai salah satu bagian dari kelengkapan pakaian penghulu bersama salempang, sisampiang, cawek, dan keris.
Penghulu sendiri mempunyai posisi penting dalam kehidupan adat Minangkabau. Ia merupakan pemimpin dalam kaum yang memikul tanggung jawab terhadap anak kemenakan serta urusan adat yang berkaitan dengan kelompoknya. Karena itu, pakaian penghulu tidak dipandang sebagai pakaian biasa. Penelitian Universitas Negeri Padang menyebut pakaian penghulu memiliki fungsi sebagai identitas sekaligus membawa simbol mengenai peran, sikap, dan aturan yang harus dijalankan oleh seorang penghulu.
Tungkek dalam Pakaian Penghulu
Dalam berbagai keterangan tentang pakaian penghulu, tungkek ditempatkan sebagai salah satu bagian yang melengkapi penampilan seorang penghulu ketika menghadiri kegiatan adat. Penelitian tentang pakaian penghulu di Kenagarian Kacang, misalnya, memasukkan tungkek ke dalam kelompok aksesori bersama salempang, sisampiang, cawek, dan keris. Penelitian tersebut menggunakan observasi, wawancara, dan studi kepustakaan untuk melihat nama serta makna setiap bagian pakaian penghulu.
Dalam kajian mengenai pakaian penghulu Minangkabau yang diterbitkan dalam jurnal Humanus Universitas Negeri Padang, tungkek dijelaskan melalui falsafah adat yang menyebutnya sebagai “panungkek adat jo pusako”. Ungkapan tersebut menempatkan tongkat sebagai lambang penopang adat dan pusaka. Dalam kajian yang sama, keberadaan tungkek dikaitkan dengan penghulu sebagai orang yang dituakan dalam lingkungan adat, bukan semata-mata karena usia.
Hal tersebut penting karena istilah “dituakan” dalam struktur adat tidak sama dengan sekadar menyebut seseorang lebih tua. Penghulu memperoleh kedudukan melalui proses pengangkatan dan pengakuan dalam lingkungan adat. Karena itu, tungkek menjadi bagian dari tanda yang menunjukkan posisi sosial seorang penghulu ketika mengenakan pakaian kebesarannya. Penelitian di Kabupaten Solok juga mencatat bahwa bagian-bagian pakaian penghulu mempunyai makna yang berkaitan dengan sifat dan tugas yang diharapkan dari pemakainya.
Simbol Penopang Adat
Makna tungkek paling sering dikaitkan dengan gagasan sebagai penopang. Dalam falsafah yang dicatat dalam kajian pakaian penghulu, terdapat ungkapan tentang tongkat yang harus berdiri dan tidak condong. Gagasan tersebut kemudian dihubungkan dengan kedudukan penghulu yang diharapkan mampu mempertahankan adat, pusaka, dan kedudukannya sebagai pemimpin kaum.
Penelitian lain mengenai pakaian pangulu di Kanagarian Sungai Janiah, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, juga memasukkan tungkek dalam satu set pakaian adat pangulu. Penelitian tersebut menemukan bahwa pakaian pangulu mempunyai fungsi sebagai identitas dan mengandung makna yang berhubungan dengan aturan hidup serta peran pangulu. Artinya, tungkek tidak berdiri sendiri sebagai simbol, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan pakaian yang menggambarkan kedudukan seorang pemimpin adat.
Makna sebagai penopang juga dapat dilihat dari tanggung jawab penghulu terhadap adat dan pusaka. Dalam masyarakat Minangkabau, penghulu memiliki kewajiban menjaga kepentingan kaum dan menjalankan amanah yang berkaitan dengan adat. Karena itu, simbol tungkek dapat dibaca sebagai pengingat terhadap tanggung jawab tersebut, bukan hanya sebagai benda yang dibawa ketika memakai pakaian adat.
Kajian lain dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang tentang pakaian penghulu di Nagari Saok Laweh, Kabupaten Solok, mencatat adanya tungkek dengan bentuk tertentu dan menghubungkannya dengan gagasan kemakmuran negeri serta kemampuan penghulu menopang dirinya sekaligus menopang adat, harta pusaka, dan anak kemenakan. Keterangan tersebut berasal dari hasil komunikasi peneliti dengan tokoh adat setempat, sehingga pemaknaan tersebut perlu ditempatkan sebagai keterangan dalam konteks Nagari Saok Laweh, bukan otomatis sebagai satu-satunya tafsir untuk seluruh Minangkabau.
Kedudukan Penghulu
Simbol pada tungkek berkaitan erat dengan kedudukan penghulu dalam struktur adat. Penghulu bukan hanya dikenali dari gelarnya, tetapi juga melalui pakaian kebesaran yang dikenakan pada kegiatan tertentu. Penelitian Universitas Negeri Padang menyebut pakaian penghulu sebagai bentuk bahasa visual yang mencerminkan posisi pemakainya dalam masyarakat dan hubungannya dengan norma adat Minangkabau.
Karena itu, ketika tungkek berada dalam satu rangkaian dengan deta atau saluak, baju hitam, sarawa, sisampiang, cawek, dan perlengkapan lainnya, benda tersebut ikut membentuk identitas seorang penghulu. Setiap bagian mempunyai penjelasan dan simbol masing-masing. Pada tungkek, penekanannya berada pada gagasan menopang adat dan pusaka serta menunjukkan bahwa pemakainya adalah orang yang dituakan dalam lingkungan adat.
Pemaknaan tersebut juga menunjukkan bahwa benda dalam pakaian adat Minangkabau sering berkaitan dengan tugas pemakainya. Penelitian tentang pakaian penghulu di beberapa daerah menunjukkan adanya perbedaan bentuk dan penafsiran sesuai lingkungan nagari. Karena itu, makna tungkek dapat memiliki penekanan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, meskipun gagasan tentang kedudukan dan tanggung jawab penghulu tetap menjadi bagian penting dalam penjelasannya.
Tungkek akhirnya menjadi salah satu bagian yang memperjelas posisi penghulu ketika mengenakan pakaian adat. Di lingkungan masyarakat Minangkabau, tongkat tersebut dikaitkan dengan sosok yang dituakan, penopang adat dan pusaka, serta pemimpin yang mempunyai tanggung jawab terhadap kaum dan anak kemenakan. Pemaknaan itu tercatat dalam penelitian dan keterangan adat dari sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Solok, dengan variasi sesuai konteks nagari masing-masing.
Editor : melatisan
Tag :Tongkat Penghulu, dan Makna, Simboliknya, dalam Struktur, Adat
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com