HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 7 Oktober 2025

Paninggahan: Menyatu Dengan Danau, Menghidupkan Rasa Dari Bilih Hingga Kopi Tua

Paninggahan: Menyatu dengan Danau, Menghidupkan Rasa dari Bilih hingga Kopi Tua

Oleh: Andika Putra Wardana


Pagi di Paninggahan selalu dimulai dengan kabut tipis yang menggantung di atas Danau Singkarak. Dari kejauhan, terdengar suara dayung nelayan yang perlahan membelah air, diikuti aroma kopi panas dari warung tepi danau. Di sinilah kehidupan berjalan dengan tenang, antara danau, dapur, dan cerita-cerita tua yang diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Paninggahan, danau bukan sekadar pemandangan, melainkan sumber hidup, rasa, dan kebanggaan.

Nagari di Tepi Danau yang Tak Pernah Sepi

Nagari Paninggahan terletak di Kabupaten Solok, di tepi Danau Singkarak,danau terbesar di Sumatera Barat sekaligus rumah bagi ikan-ikan kecil yang tak ditemukan di tempat lain. Sejak lama, masyarakat Paninggahan dikenal sebagai nelayan, petani, dan peracik rasa. Setiap hari mereka hidup berdampingan dengan alam, air danau menjadi sumber rezeki, sementara hasil tangkapan mereka menjelma menjadi hidangan khas yang menawan selera.

Pangek Ikan Singkarak - Sabarnya Rasa, Dalamnya Cinta Alam

Salah satu ikon kuliner di Paninggahan adalah pangek ikan danau Singkarak. Kata pangek dalam tradisi Minang berarti memasak ikan atau daging dengan bumbu kental dalam waktu lama, hingga rasa rempahnya benar-benar meresap. Di Paninggahan, pangek sering menggunakan ikan segar hasil tangkapan pagi hari. Kuahnya kental, berwarna keemasan, dengan aroma kunyit, serai, dan asam kandis yang kuat. Pangek bukan sekadar masaka, ia adalah pelajaran tentang kesabaran dan ketekunan masyarakat pesisir danau.

Palai Bilih - Rasa yang Hanya Lahir di Singkarak

Kalau kamu berkunjung ke Paninggahan, jangan lewatkan palai bilih, pepes ikan kecil endemik yang hanya hidup di Danau Singkarak. Ukurannya kecil, tapi gurihnya luar biasa. Ikan bilih dibungkus daun pisang dengan racikan bumbu halus, cabai, bawang, kelapa parut, dan sedikit asam. Setelah dibakar perlahan di bara api, aromanya menyatu dengan daun pisang, menciptakan sensasi wangi yang tak bisa ditiru di tempat lain. Palai bilih adalah bukti bahwa kekayaan alam bisa diolah sederhana, tapi tetap istimewa.

Pangek Sasau - Dari Sungai ke Dapur

Selain ikan danau, Paninggahan juga punya pangek sasau, olahan khas dari ikan sungai yang berukuran lebih besar. Teksturnya lembut, rasanya pedas, dan kuahnya pekat dengan santan. Biasanya disajikan saat acara keluarga atau alek nagari, pangek sasau menjadi lambang syukur atas hasil alam yang melimpah.

Kopi Paninggahan - Aroma Zaman Belanda yang Masih Hidup

Di sela-sela sajian ikan, jangan lupa menikmati secangkir kopi Paninggahan. Konon, tradisi minum kopi di nagari ini sudah ada sejak zaman Belanda. Kopi diseduh kental, tanpa gula, dengan cara tradisional yang masih dipertahankan hingga sekarang. Di warung-warung tua tepi danau, para nelayan, petani, dan perantau sering berkumpul untuk berbagi kabar sambil menyeruput kopi panas. Rasanya pahit tapi menenangkan, seperti nostalgia yang diseduh perlahan.

Paninggahan adalah contoh bagaimana alam dan budaya bisa saling menjaga. Danau Singkarak bukan hanya memberi ikan, tapi juga memberi identitas, rasa, dan kehidupan. Dari pangek yang sabar dimasak, palai bilih yang sederhana, hingga kopi tua yang menemaninya, semua menceritakan kisah yang sama, tentang manusia yang tahu cara menghargai alam.

Kalau kamu ingin mencicipi rasa yang lahir dari air dan tanah Minangkabau, datanglah ke Paninggahan. Di sini, setiap suapan membawa cita rasa danau, dan setiap tegukan kopi membawa hangatnya peradaban yang tak lekang oleh waktu.

Sumber:
Dinas Pariwisata Kabupaten Solok; Balai Konservasi Danau Singkarak; Tempo.co; Harian Singgalang; CNN Indonesia (kuliner daerah); wawancara lokal UMKM Paninggahan.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :#aroma kopi panas

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com