- Minggu, 5 Oktober 2025
Mencicipi Gulai Kapalo Lauak Dan Langkitang Cucuik Khas Tiku
Mencicipi Gulai Kapalo Lauak dan Langkitang Cucuik Khas Tiku
Oleh: Andika Putra Wardana
Nagari Tiku di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, adalah salah satu daerah pesisir yang punya sejarah panjang dalam perdagangan dan kebudayaan Minangkabau. Sejak dulu, Tiku dikenal sebagai pelabuhan penting di pesisir barat Sumatra. Aktivitas nelayan, pedagang, dan masyarakat nagari berpadu membentuk identitas khas kehidupan yang lekat dengan laut.
Namun, Tiku bukan hanya tentang riwayat sejarah dan hamparan pantai. Nagari ini juga menyimpan kekayaan kuliner yang membuatnya istimewa. Laut dan sungai yang mengelilinginya melahirkan hidangan-hidangan unik, yang tidak hanya memanjakan lidah, tapi juga merekam cara hidup masyarakat pesisir.
1. Gulai Kapalo Lauak
Kalau kamu singgah ke Tiku, hampir mustahil bisa pulang tanpa mencicipi gulai kapalo lauak. Hidangan ini memang jadi kebanggaan masyarakat pesisir. Kepala ikan besar, biasanya kakap, tongkol, atau ikan laut segar lain yang baru ditarik dari jaring nelayan dimasak perlahan dengan santan kental, cabai merah, lengkuas, dan kunyit. Kuahnya berwarna merah keemasan, kental dan harum, seakan memanggil siapa pun yang melintas di depan dapur.
Yang membuat gulai kapalo lauak begitu istimewa bukan hanya rasanya yang gurih-pedas, tapi juga pengalaman menyantapnya. Bagian kepala ikan menyimpan daging yang lembut dan manis, tersembunyi di balik tulang-tulang besar. Orang Minang percaya, memakan gulai kapalo lauak butuh kesabaran, mengurai tulang demi tulang, sambil menemukan potongan daging yang makin nikmat karena bumbunya meresap sempurna. Tak heran, di pesta pernikahan atau alek nagari, gulai ini selalu hadir di tengah talam besar, menjadi simbol kelimpahan laut sekaligus perekat kebersamaan.
2. Gulai Langkitang Cucuik
Selain gulai kapalo lauak, Tiku juga terkenal dengan gulai langkitang cucuik, hidangan dari siput air tawar yang dimasak dalam santan, cabai hijau, dan rempah segar. Nama cucuik berasal dari kata cucut yang berarti menyedot, karena cara menikmatinya memang unik, daging siput kecil harus disedot perlahan dari cangkangnya.
Pengalaman ini membuat gulai langkitang cucuik tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal cara makan yang khas dan penuh interaksi. Gurihnya santan berpadu dengan pedasnya cabai hijau, sementara tekstur siput yang kenyal memberi sensasi berbeda dibanding olahan laut lainnya. Tak heran, banyak wisatawan yang menganggap gulai ini sebagai salah satu kuliner paling seru sekaligus otentik dari pesisir Minang.
Bagi masyarakat Tiku, gulai langkitang lebih dari sekadar makanan, ia adalah pengalaman bersama. Disajikan hangat di warung pesisir atau di acara keluarga, gulai ini mengundang tawa, karena siapa pun yang baru pertama kali mencobanya pasti akan sedikit kikuk. Namun justru dari situlah tercipta cerita, keakraban, dan kenangan yang membuat gulai langkitang selalu dicari setiap kali orang kembali ke Tiku.
Editor : melatisan
Tag :#Kapalo Lauak
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SEJARAH KABUPATEN SIJUNJUNG DAN TRANSFORMASI DARI SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG
-
NAGARI TUO PARIANGAN: SEJARAH NAGARI TERINDAH YANG JADI CIKAL BAKAL MINANGKABAU
-
DINAMIKA PERUBAHAN ADAT MINANG DI ERA MODERN: ANTARA TRADISI DAN ZAMAN YANG BERGERAK CEPAT
-
HUKUM WARIS DALAM TRADISI MINANGKABAU: KETIKA GARIS IBU MENJADI PENENTU
-
HUBUNGAN ADAT BASANDI SYARAK DAN SYARIAT ISLAM DI MINANGKABAU
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN