HOME PARIWISATA KABUPATEN PASAMAN

  • Minggu, 9 Juni 2019
Maken Basamo, Tradisi Masyarakat Koto Rajo Pasaman Sambut Perantau
Maken basamo, tradisi masyarakat Koto Rajo Pasaman

Koto Rajo (Minangsatu) - Kekayaan Budaya dan tradisi di ranah minang Provinsi Sumatera Barat memiliki berbagai ragam unik namun menyatukan atau sebagai wadah menyambung tali silaturahmi. Di masing-masing daerah punya tradisi yang berbeda, apalagi pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Seperti di Koto Rajo, Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman punya tradisi "Maken Busamo" (makan bersama) yang sudah menjadi kebiasaan setiap tahun menyambut keluarga besar para perantau pulang kampung untuk indahnya 1 Syawal 1440 Hijriah bersama sanak keluarga.

Yuspik Helmi, Warga Koto Rajo, Nagari Koto Rajo, Kecamatan Rao Utara, Pasaman menjelaskan, tradisi tersebut sebagai wadah menjalin silaturahmi warga nagari bersama perantau. Prosesnya dari awal, mulai dari dana pencarian ikan disungai sampai memasaknya dilakukan secara bersama-sama sampai pelaksanaan maken busamo dengan bajamba.

"Demi meningkatkan hubungan yg harmonis sesama keluarga besar suku melayu Koto Rajo, makanya setiap tahun kita adakan moment spesial maken busamo," ujar Yuspik kepada Minangsatu (8/6).

Yuspik menjelaskan, bahwa semua kegiatan dirangkai dengan kegembiraan dan senang hati sehingga terbentuklah kesepakatan semua unsur tokoh di Nagari termasuk keluarga perantau yang mudik, untuk mencari ikan disungai tempat pembukaan ikan larangan untuk dijadikan lauk pada saat acara makan bersama nantinya.

"Kalau kita berkumpul biasanya dihadiri kisaran 80 hingga 100 orang anak cucu kemenakan dalam satu keluarga besar M. Nur yang menyantap bersama alias Maken Busamo dengan bajamba," terangnya.

Disampaikannya, tradisi tersebut berlangsung tiap tahun sedari puluhan tahun yang lalu dan hampir seluruh warga Nagari Koto Rajo yang ikut dalam agenda tersebut. Disamping menjalin kebersamaan, tradisi tersebut juga menjadi ajang memperkenalkan budaya lokal serta sebagai pemerataan sosial bagi sanak keluarga yang kurang mampu.

"Semoga tradisi Maken Busamo warga koto rajo ini akan selalu terjaga lestari disetiap tahunnya dan jalinan silaturrahmi tidak memudar. Kami harap keluarga perantau dapat kembali dengan selamat dan meninggalkan kesan mendalam akan kehangatan kampung halaman," pungkas Yuspik Helmi.


Wartawan : M Afrizal
Editor : T E

Tag :Tradisi masyarakat #koto rajo pasaman #maken basamo