- Minggu, 23 November 2025
Lamang Bakujuik, Tradisi Lebaran Dari Batipuh Yang Padat, Harum, Dan Penuh Rasa
Lamang Bakujuik, Tradisi Lebaran dari Batipuh yang Padat, Harum, dan Penuh Rasa
Oleh: Andika Putra Wardana
Di banyak nagari di Minangkabau, makanan berbahan ketan selalu punya tempat khusus dalam perayaan dan tradisi. Namun di Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, ada satu olahan ketan yang hanya muncul pada momen-momen tertentu, terutama Idul Fitri dan Idul Adha yaitu Lamang Bakujuik. Ia bukan sekadar variasi dari lamang, tetapi lambang kegembiraan, kebersamaan, dan rasa yang dirindukan setahun sekali.
Secara bahasa, bakujuik berarti dipadatkan atau ditekan. Dan benar, ciri khas utama dari lamang ini adalah teksturnya yang padat dan mantap, berbeda dari lamang biasa yang lebih lembut atau sedikit berongga. Kelezatan Lamang Bakujuik muncul dari proses yang detail dan telaten, mulai dari pemilihan bambu, daun pisang, komposisi ketan, hingga cara memasaknya yang dilakukan secara turun-temurun.
Prosesnya dimulai dari bambu yang dipilih dengan cermat. Di Batipuh, masyarakat menggunakan bambu berongga besar, kuat, dan muda, karena bambu jenis ini memberi aroma alami yang lebih harum pada ketan. Daun pisang segar juga disiapkan untuk melapisi bagian dalam bambu. Lapisan daun ini bukan hanya mencegah ketan lengket, tetapi juga memberi aroma lembut yang menjadi identitas utama lamang Minang.
Ketan yang sudah direndam berjam-jam kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang. Namun di sinilah perbedaan Lamang Bakujuik muncul, adonan ketan dipadatkan dengan cara ditekan pelan-pelan sebelum ditutup rapat. Setelah itu, bambu dibungkus kembali dengan daun pisang di bagian luar, lalu diikat kuat menggunakan tali rapia agar bentuknya tetap kokoh selama proses pemasakan.
Berbeda dari lamang kayu bakar yang dipanggang di dekat api, Lamang Bakujuik dimasak dengan cara dikukus dalam waktu lama. Pengukusan ini membuat ketan matang merata, padat, dan “kujuik", mengambil bentuk silinder sempurna yang tidak mudah hancur ketika dipotong. Teksturnya kenyal, gurih, dengan wangi daun pisang yang kuat dan rasa ketan yang lebih pekat.
Setelah matang, lamang dipotong-potong dan disajikan dengan berbagai pelengkap. Di Batipuh, ada dua cara populer untuk menikmatinya, dengan kelapa parut sangrai yang gurih-manis, atau dengan gula merah parut. Beberapa keluarga juga menyajikannya bersama rendang atau sambalado, terutama saat hari raya, sehingga perpaduan gurih-pedas-manis membuat rasanya semakin kaya.
Yang membuat Lamang Bakujuik istimewa bukan hanya rasanya, tetapi juga momen kemunculannya. Makanan ini hanya dibuat saat Lebaran dan Idul Adha, sehingga keberadaannya menjadi sinyal bahwa hari raya telah tiba. Warga Batipuh yang merantau sering mencari neboh (oleh-oleh) Lamang Bakujuik untuk dibawa ke kota, sebagai penawar rindu pada kampung halaman.
Karena tak dibuat setiap hari, proses membuat Lamang Bakujuik selalu disertai suasana kebersamaan. Orang rumah bekerja sama menyiapkan daun, mengisi ketan, menekan adonan, menjemur bambu, dan menyiapkan tungku kukusan. Inilah yang membuat Lamang Bakujuik bukan sekadar makanan, melainkan ritual keluarga yang menghangatkan hubungan antaranggota rumah.
Kini, Lamang Bakujuik mulai dikenal kembali berkat media dan warga Batipuh yang aktif melestarikannya. Namun tetap saja, rasanya yang paling otentik hanya bisa ditemukan saat hari raya, ketika aroma daun pisang kukus mulai memenuhi dapur-dapur di lereng Batipuh.
Bagi sebagian orang, Lamang Bakujuik mungkin hanya sebuah olahan ketan. Namun bagi masyarakat Batipuh, ia adalah ingatan akan rumah, masa kecil, dan tradisi yang tidak pernah benar-benar hilang. Suatu hari, jika kamu berkunjung ke Batipuh pada Lebaran, cobalah mencicipi Lamang Bakujuik hangat-hangat, karena beberapa kenikmatan Minangkabau memang hanya bisa ditemukan ketika waktu dan nagari sedang tepat.
Editor : melatisan
Tag :#Lamang Bakujuik
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
12 KUE DAN JAJANAN MANIS KHAS MINANGKABAU YANG MULAI LANGKA, RASANYA BIKIN RINDU KAMPUANG
-
10 LAUK KHAS MINANG SELAIN RENDANG YANG WAJIB DICICIPI PERANTAU
-
10 GULAI PALING IKONIK DARI RANAH MINANG: DARI PAKU SAMPAI GAJEBO
-
NAGARI SUNGAYANG: JEJAK TUA MINANGKABAU YANG MENJAGA WARISAN “TANJUANG NAN AMPEK”
-
15 KULINER MINANGKABAU YANG WAJIB DICICIPI: JEJAK RASA YANG TERSIMPAN DALAM TRADISI, ALAM, DAN INGATAN KOLEKTIF ORANG MINANG
-
PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN PADA FURNITURE BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
-
DIMANA MUSEUM KOTA BUKITTINGGI?
-
"ANAK DARO" DIKLAIM KOPI KERINCI JAMBI OLEH ROEMAH KOFFIE, POTENSI PENCAPLOKAN BUDAYA MINANG PICU KONTROVERSI
-
MEMBUMIKAN KOPI MINANG: DARI SEJARAH 1840 HINGGA GERAKAN MENANAM KAUM
-
FWK MEMBISIKKAN KEBANGSAAN DARI DISKUSI-DISKUSI KECIL