HOME VIRAL UNIK

  • Rabu, 15 Oktober 2025

Gulai Paluik: Cita Rasa Tradisi Dari Nagari Limbanang, Warisan Rasa Di Lembah Payakumbuh

Gulai Paluik
Gulai Paluik

Gulai Paluik: Cita Rasa Tradisi dari Nagari Limbanang, Warisan Rasa di Lembah Payakumbuh

Oleh: Andika Putra Wardana


Di balik perbukitan hijau dan sawah yang menghampar di Lembah Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, terdapat sebuah nagari bernama Limbanang.

Nagari ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya yang asri dan masyarakatnya yang ramah, tetapi juga karena satu warisan kuliner yang jarang diketahui banyak orang yaitu gulai Paluik, hidangan khas yang sederhana namun sarat filosofi dan maknanya.

Bagi masyarakat Limbanang, aroma Gulai Paluik adalah penanda datangnya waktu-waktu istimewa, bulan Ramadan, pesta keluarga, atau acara adat nagari.

Wangi daun pisang kukus bercampur santan dan rempah memenuhi udara, menandakan bahwa proses memasak sudah dimulai sejak pagi.

Dapur-dapur di rumah gadang berubah menjadi ruang kebersamaan, para ibu menyiapkan bumbu, anak-anak membantu membungkus adonan, dan orang tua menyalakan api tungku dari kayu kering.

Dari sanalah lahir gulai istimewa ini. Adonan yang terdiri dari tepung beras, telur, jengkol muda, parutan kelapa, dan bumbu halus dililit rapi dengan daun kacang atau daun labu.

Setelah itu, gulungan kecil ini dibungkus lagi dengan daun pisang dan direbus perlahan hingga matang sempurna.
Proses ini tidak bisa tergesa-gesa, seperti filosofi hidup orang Minang, sabar, telaten, dan menghargai proses.

Setelah matang, gulungan daun dibuka dan dimasukkan ke dalam kuah gulai santan kental berwarna kuning keemasan, yang telah dimasak sebelumnya dengan kunyit, jahe, lengkuas, cabai, bawang merah, bawang putih, dan serai.

Ketika kuah panas menyatu dengan isi gulungan, aroma khas langsung menyeruak, lembut, gurih, dan sedikit pedas, memunculkan rasa nostalgia bagi siapa pun yang pernah tumbuh besar di nagari ini.

Makna di Balik Lilitan

Nama paluik berasal dari kata “lilit”, menggambarkan bentuk gulungan kecil yang membungkus isi. Tapi bagi masyarakat Limbanang, lilitan ini bukan sekadar teknik memasak. Ia adalah simbol persaudaraan dan persatuan.

Setiap gulungan menggambarkan eratnya hubungan antarwarga yang saling menguatkan dalam suka dan duka.
Di dapur nagari, tradisi gotong royong dalam membuat Gulai Paluik menjadi simbol nyata bahwa rasa bukan hanya hasil tangan, tetapi juga hasil hati yang bekerja bersama.

Tidak ada yang berlebihan dalam bahan Gulai Paluik, semua berasal dari alam sekitar. Daun kacang diambil dari ladang belakang rumah, santan diperas dari kelapa di halaman, dan jengkol muda dipetik dari pohon di pinggir sungai.

Inilah bentuk harmoni antara manusia dan alam yang menjadi inti dari kuliner Minangkabau.
Bumbu-bumbu yang dihaluskan bukan sekadar rempah, tapi doa dan rasa syukur atas limpahan bumi yang memberi.

Seiring waktu, Gulai Paluik mulai jarang ditemui di luar nagari asalnya. Namun di Limbanang, Suliki, dan Payakumbuh bagian timur, tradisi ini masih dijaga dengan sepenuh hati. Beberapa rumah makan di daerah ini bahkan mulai mengenalkan kembali Gulai Paluik kepada wisatawan yang datang mencari cita rasa khas nagari.

Namun, masyarakat sepakat, tidak ada yang mengalahkan rasa asli yang dimasak di dapur kayu, dengan santan segar, dan sentuhan kasih dari tangan-tangan ibu.

Gulai Paluik bukan sekadar makanan, ia adalah cermin filosofi hidup masyarakat Limbanang. Dari kesabaran dalam melilit, kehati-hatian dalam mengaduk, hingga kebersamaan di meja makan, semua mengajarkan nilai tentang kehidupan yang sederhana tapi bermakna. Setiap suapan membawa kehangatan, rasa rumah, rasa kampung halaman, rasa yang tak lekang oleh waktu.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :#Gulai Paluik

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com